Apa yang Dilakukan Mark Cuban di Usia 20an?

Mark_Cuban_2008

Mark_Cuban_2008

Perjuangan Mark Cuban, pendiri Dallas Mavericks, bukanlah jalan mulus yang tanpa hambatan. Ia bukan keturunan konglomerat yang begitu mudahnya mendapatkan dana untuk membangun bisnis. Melalui situs berita Business Insider, ia bercerita tentang pengalamannya membangun bisnis dan hal apa saja yang ia lakukan di umur 20-an.

Tak lama setelah Mark Cuban mendapatkan gelar sarjana dari Indiana University, ia pindah ke Dallas bersama beberapa orang temannya dan bekerja sebagai bartender. Bosan meracik minuman, ia pun berganti pekerjaan baru pada sebuah perusahaan developer software PC. Kala itu ia membuat sebuah software dan membangun sebuah tool yang berfungsi untuk mendapatkan klien tetapi justru memicu si bos untuk memecat dirinya karena telah mengabaikan perintah atasan.

Baca juga: Kisah 10 Ribu yang Mengubah Dunia

Ia ditinggalkan tanpa diberi tabungan atau apapun untuk membayar tagihannya. Hal ini justru membuat Mark berpikir bahwa mungkin inilah saat yang tepat untuk memulai usahanya sendiri, sebuah perusahaan distributor software bernama Microsolution. Ia berpartner dengan seorang eksekutif yang berpengalaman. Bisnisnya berjalan dengan baik sampai sebelum akhirnya resepsionis di perusahaan tersebut menggelapkan dana sebesar 83, 000 USD dari kekayaan perusahaan sebesar 85,000USD.

Menghadapi cobaan semacam itu, Mark tidak menyerah atau membalas dendam kepada orang yang telah menipunya. Seperti dilansir dari bukunya, “How to Win at the Sport of Business”, setelah penipuan tersebut Mark justru menghabiskan berjam-jam waktunya untuk mempelajari lebih dalam lagi tentang software yang ingin dia jual hingga dapat menonjol dalam persaingan. Pada tahun 1990, akhirnya ia menjual MicroSolution seharga 6 juta USD dan mendapatkan kurang lebih 2 juta USD sebagai kepemilikan pribadi. Baginya, ini merupakan keputusan terbesar dalam hidupnya saat itu.

Kepada Business Insider, ia berkata bahwa hal berharga yang ia dapatkan di umur 20an adalah kesempatan yang ia miliki untuk belajar tentang teknologi-teknologi keluaran terbaru saat itu. Dengan kelebihannya tersebut, ia tak lantas merasa bangga. Justru pengetahuan tersebut merupakan pesan bagi seluruh pengusaha bahwa sesungguhnya, ketika kita tengah menghadapi kesulitan, persaingan di luar bukannya akan melambat untuk menanti kita. Justru sebaliknya, kitalah yang harus terus mempercepat upaya kita sehingga kita bisa melampaui pesaing. Mark pun tidak menyarankan kita untuk mengeluarkan banyak uang atau berhutang demi mendapatkan gelar MBA.

“Saya ingat ketika itu sering sekali hadir dalam meeting konsumen atau berbicara dengan orang-orang di industri software untuk berbagi informasi tentang perangkat lunak atau keras. Seringkali saya bercerita tentang ilmu baru yang saya baca dari beberapa media. Biasanya orang-orang akan menjawab, oh iya, saya juga pernah membaca itu di suatu ini atau itu.. sebenarnya, itu adalah indikasi bahwa sebetulnya mereka belum membacanya”, ungkap Mark.

Sedikit sekali orang yang mau menginvestasikan waktunya untuk meningkatkan ilmu pengetahuan yang ia butuhkan dalam bisnisnya. Padahal, jika menyontoh dari apa yang Mark lakukan, ia sendiri awalnya tidak memiliki bekal pendidikan yang cukup di bidang software. Pada akhirnya ia menjadi ahli karena banyak membaca. Mark berpesan bahwa, “ketika di sekolah/bangku kuliah, kita membayar untuk belajar. Sedangkan setelah kuliah, itu adalah saat kita dibayar untuk belajar”.

Photo Courtesy: Wikipedia

Baca juga: 5 Value Seorang Leader dari Handry Satriago

Tags: