David Knowles: Filosofi HR Saya Dapat Dari Sastra

David Knowles Opus

 

Hanya sedikit orang yang rela menghabiskan masa karirnya di negeri orang. Salah satu dari sedikit orang itu adalah David Knowles, Manager Partner & Principle Consultant dari Opus Management Indonesia. Pria berkebangsaan Inggris ini mengaku senang  bisa berkarir di Indonesia hingga saat ini. Bahkan saat kami berkunjung ke kantornya, David sempat berkelakar saat ditanya sudah berapa lama ia tinggal di Indonesia. “Saya di sini sudah lebih lama dari banyak penduduk orang Indonesia sekarang ini,” jawab David dengan logat khas Melayu.

Sejak mendarat di Jakarta pada tahun 1973, David memulai perjalanan karirnya di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan sebagai volunteer Lecture. David secara sukarela menjadi pengajar bahasa Inggris untuk para guru yang ingin melanjutkan pendidikannya di luar negri.

Selama 2 tahun di Medan, David tinggal di sebuah rumah kecil dan hanya difasilitasi 1 sepeda untuk alat transportasi. Itupun dirinya hanya dibekali uang saku sebesar Rp 30 ribu untuk kebutuhan sehari-hari. Sebelum ditempatkan ke Medan, David mengaku tidak mengenal Indonesia, namun ia menyadari bahwa kota Medan merupakan tempat yang tepat untuk dirinya. ”Pada tahun itu, Indonesia memang belum sepopuler sekarang, saya lebih tahu Pulau Bali, Sumatera dan Jawa, tetapi tidak tahu Indonesia,” kenang David.

Motivasi David saat itu adalah membantu organisasi dan orang-orang dalam mencapai tujuan karirnya. Upaya David mendapat sambutan baik dari Mobile Oil Company yang baru masuk ke Medan. Setelah menjadi tenaga volunteer, David bekerja sebagai English Language Training Coordinator di Mobile Oil Indonesia. Setelah 3 tahun bergelut di Training & Development di Mobile Oil Medan, David kembali ke kampung halamannya untuk mengemban tugas sebagai Manager Recruitment Training & Development di Mobile Oil Company London.

Walaupun background pendidikannya adalah sastra Inggris, namun David sudah terlanjur tertarik dengan dunia HR. David pun membantah anggapan bahwa latar belakang pendidikannya itu tidak berhubungan dengan manusia.

“Melalui sastra kita bisa melihat persepsi orang berdasarkan perilaku mereka, dari sana kita bisa menggambarkan konsep apa yang tepat untuk organisasi. Jadi mana bedanya?” ujar David. Sebagai pengajar David menjadi paham akan tingkah dan perilaku maisng-masing individu dalam organisasi. Understanding individu adalah modal awal yang dibutuhkan seorang pemilik bisnis dalam mengembangkan perusahaannya. Itulah kecocokan sastra dengan people management menurut David.

Indonesia butuh orang yang percaya diri dan lingkungan yang transparan

Putra ke-3 dari 4 bersaudara ini datang kembali ke Indonesia pada tahun 1981. David menjadi HR Development Superintendent Advisor di PT Arun LNG, Aceh Indonesia. 5 tahun hidup di Aceh membuat David fasih berbahasa Indonesia dengan logat Melayu. “Teman-teman banyak yang ajarkan bahasa Indonesia, dengan bisa berbahasa Indonesia memudahkan saya dalam mengajar,” cerita David.

David yang dikenal blak-blakan ini mempunyai kesan tersendiri dengan orang Indonesia. David mengakui potensi sumber daya manusia (SDM) Indonesia sangat tinggi, bukan hanya di Jakarta tetapi juga di daerah. David pernah menemukan langsung seorang muridnya yang hidup di daerah terpencil namun mampu mengikuti kompetisi global dan menjadi juaranya. Untuk itu David tidak meragukan kemampuan dan prestasi bangsa Indonesia di dunia. Yang menjadi perhatian David hanya budaya. Selama puluhan tahun hidup di Indonesia, David merasakan sendiri bagaimana culture masih mempengaruhi suasana di lingkungan kerja.

“Membuat lingkungan menjadi transparan antara atasan dan bawahan itu masih sulit sekali,” ujar David. Ia yang terbiasa berbicara apa adanya kadang kesulitan jika mengalami konflik dalam meeting. Bukan karena mendapatkan konfliknya melainkan saat berhadapan dengan kliennya setelah meeting.

“Mereka kadang masih terlalu sensitif atau merasa kurang dihormati dan sepertinya perasaan itu dipegang lama sekali, kalau saya hari ini bertengkar, besok saya berkawan lagi,” ujarnya serius.

David sendiri sebenarnya terbiasa dengan sikap sopan-santun yang dibawanya dari tanah kelahirannya, Inggris, namun menurutnya apabila terlalu sensitif hanya akan menyita waktu kerja kita. “Itu akan menyita waktu. Untuk apa kita merasa tersinggung, kalau percaya diri kita kuat,” ujar David.

Teknologi tidak mengubah konsep “relationship” dari HR

Yang menjadi perhatian David dalam dunia HR adalah implementasi yang tidak sejalan dengan teorinya, salah satunya Perfomance Management. Menurutnya teori dan sistem yang sudah bagus akan menjadi sia-sia jika pelaksanaanya tidak selaras. “Yang perlu ditekankan dari performance management adalah tentang bagaimana hal itu bisa menaikkan prestasi dan motivasi karyawan, bukan hanya sebagai alat ukur kenaikan gaji mereka,” tandas David.

Sejak tahun 1977, David telah akrab dengan management sebuah organisasi. Sepanjang pengalamannya dalam menangani puluhan organisasi hal yang sulit diterapkan adalah tujuan organisasi kurang menyatu dengan individunya. Perusahaan yang memiliki outstanding system menurutnya harus bisa mengetahui apa yang memotivasi karyawannya secara naluriah. “Dan sepertinya perusahaan lain bisa belajar dari Google, Microsoft, GE dan banyak perusahaan yang telah mempunyai sistem yang modern,” tambahnya.

Saat ditanya apa saja perbedaan yang ia rasakan saat bekerja di perusahaan yang sudah established dengan memimpin perusahaan sendiri? Sambil sesekali menyeruput kopinya ia menjawabnya seperti ini. “Waktu di dalam corporation yang besar, kita mempunyai konsep yang teratur, sudah cukup jelas prosesnya. Tetapi pada saat kita masuk ke perusahaan yang kecil, kita akan melihat bahwa dunia tidak seperti itu,” ujarnya seraya tersenyum.

Kini David sudah nyaman menduduki pekerjaan sebagai konsultan, ia tidak lagi “tunduk” dengan pimpinan karena atasannya adalah projek. Bukan berarti tugasnya menjadi sederhana, justru David mempunyai tanggung jawab yang lebih besar untuk dapat memenuhi tujuan kliennya.

Berdasarkan pengalaman pribadinya ada hal yang kadang terlupakan oleh para pebisnis, yaitu kita tidak bisa berjalan sendirian. “Kadang saat kita mengetahui 1 bidang dan ahli di situ, kita akan berpikir untuk membuat bisnis sendiri. Tetapi kadang kita lupa, kita tetap membutuhkan managing, marketing dan sales untuk menjual kemampuan kita. Pada akhirnya, indikasi pebisnis berhasil adalah mereka bisa menjalankan bisnisnya dengan bijak,” ujar David.

Perkembangan teknologi saat ini juga menarik perhatian David selaku praktisi HR. David yang mengaku sudah terlanjur suka tinggal di Indonesia ini menyadari ada yang berbeda dengan HR dulu dan sekarang. “Kini kita bisa manage orang dibantu dengan teknologi. Kita bisa melihat indikator data-data yang mendukung analisa kita. Itu cukup baru.” ujar David.

Namun secanggih apa pun teknologi, konsep manusia tetap tidak berubah. “Relationship, Leadership, itu masih pelajaran yang lama sekali. Tidak ada yang baru,” ujar David. Ia menjelaskan bahwa seorang leader sampai kapan pun akan membutuhkan bantuan followernya.

“Kita tidak menjadi leader kalau kita dikasih jabatan. Kita hanya menjadi leader kalau leadership dikasih follower kita. Kalau mereka tidak mau follow, saya tidak akan menjadi leader kan. Jadi saya dikasih leadership dari follower saya. Mengapa mereka follow? Karena kita mendengarkan mereka, membuat keputusan yang adil dan transparan,” tutup David dengan ramah. (*/@nurulmelisa)

Tags: , , ,