Bob Merdeka: “Nothing to Lose” dalam membangun Maicih

bobmerdeka

bobmerdeka

 

Anda penggila kripik pedas Maicih? Makanan tipis, garing nan pedas ini memang nikmat dikonsumsi pada waktu senggang. Namun siapakah yang berperan di balik nikmatnya pedas kripik ini? Siapa sangka, setelah menekuni berbagai macam usaha, Dimas Ginanjar Merdeka yang biasa disapa Bob Merdeka ini akhirnya berbisnis kripik singkong yang suka ia konsumsi ini.

Sejak masih duduk di bangku kuliah tahun 2003 ternyata pengusaha muda ini sudah mulai berbisnis. Wirausaha menjadi pilihannya sejak awal dan bukan menjadi karyawan karena ia melihat banyak kisah sukses pengusaha di Indonesia maupun dunia yang memiliki banyak waktu berkualitas dengan keluarganya sembari mendapatkan penghasilan.

Sebelum akhirnya fokus menjalankan bisnis kripik pedas Maicih, Bob Merdeka sudah mencicipi berbagai macam bisnis lainnya. Mulai dari konveksi, furniture, bengkel, tanaman, distribusi makanan, produk kesehatan, pulsa elektronik, dan sebagainya. “Dan semuanya belum berhasil hehehe sampai akhirnya menemukan Maicih,” ujarnya kepada PortalHR.com.

Inspirasi bisnis Maicih sendiri muncul karena lelaki asal Bandung berusia 27 tahun ini senang mengonsumsi kripik singkong pedas. Dari situ ia dan istrinya mulai terpikir untuk menjualnya pada teman-teman dekat.  “Waktu itu kami punya semangat ‘Nothing To Lose’. Kalau produknya tidak laku, kita makan saja keripiknya, toh emang kesukaan kita. Ternyata rejeki berkata lain, mungkin usaha berdasarkan kesukaan akan lebih mudah untuk jalan,” ungkapnya sambil tersenyum.

Laut tidak selalu tenang

Dalam menjalani bisnis ini Bob mendapatkan banyak pengalaman suka dan duka. Tentu saja dia senang ketika melihat teman-teman agen dan distributor tumbuh dan memiliki penghasilan yang cukup. Selain memberikan penghasilan pada para agen dan distributor, Maicih juga ingin memberikan nilai manfaat pagi para konsumen dan masyarakat. Melalui program sosial, budaya dan lingkungan yang dilakukan Maicih, Bob berharap program ini dapat memberikan manfaat.

Tidak selamanya lautan itu tenang, Maicih pun pernah didera ombak yang membuatnya terombang ambing. “Ketika kehilangan tim dan juga ketika ada tantangan-tantangan dalam tubuh management yang perlu dibenahi, juga ujian-ujian yang tidak terduga seperti tempat produksi Maicih yang pernah kebakaran dan masih banyak lagi. Kita berusaha melewatinya dengan syukur dan sabar,” ungkap Bob.

Karyawan adalah Keluarga

Saat ini Maicih sudah memiliki 60 orang karyawan. Menurut Bob, merekrut tenaga kerja di Bandung terbilang cukup mudah, karena lapangan kerja yang tersedia di Bandung cukup sedikit padahal tenaga kerjanya banyak. 60 orang karyawan yang ia miliki ia anggap sebagai teman, bahkan keluarga.

Menurut pria yang pernah menuntut ilmu di Universitas Parahyangan jurusan Administrasi Niaga ini, karyawan sangat penting bagi perusahaan. “Tanpa karyawan, perusahaan tidak akan pernah jalan. Kita sebagai owner harus memperlakukan mereka dengan baik. Namun di satu sisi juga mempunyai ketegasan dalam bersikap ketika ada yang kurang baik layaknya pemimpin dalam keluarga yang memperingati anggota keluarganya yang kurang baik, namun tujuannya untuk kebaikan bersama bukan untuk diri sendiri saja,” ujarnya.

Program Sosial dan Budaya dari Maicih

Selain sibuk memproduksi kripik pedas, Maicih juga mendukung pelestarian budaya, terutama budaya Sunda. Maicih berkolaborasi dengan seniman dan budayawan yang memiliki misi yang sama. “Salah satu contohnya adalah event yang pernah kami buat dan terus teringat sampai sekarang adalah menggelar Wayang Golek Maicih bersama almarhum Abah Asep Sunandar Sunarya beberapa waktu yang lalu. Sungguh sebuah kebanggaan tersendiri bisa berkolaborasi bersama beliau, semoga amal shalehnya diterima dan diampuni dosanya oleh Allah SWT. Amin,” ungkap pria yang berulang tahun pada tanggal 17 Agustus itu.

Maicih juga mengajak para incunya, sebutan bagi konsumen Maicih, untuk berpartisipasi dalam program sosial yang diadakan. Melalui program One Coin One Leaf, Maicih melakukan kampanye mengenai permasalahan lingkungan. Bekerja sama dengan WALHI Jabar, Greeneration Indonesia, Common Room, Geger Tanam Indonesia, dan beberapa organisasi nirlaba lainnya dalam melestarikan lingkungan. Bob berharap nantinya mereka bisa bekerja sama dengan pemerintah. “Kalau dengan Pemerintah masih dalam proses penjajakan, belum direalisasikan sepenuhnya. Semoga lancar,” doanya.

Masukan dari Para Incu

Bisnis tanpa persaingan nampaknya mustahil. Seperti yang kita ketahui, produk kripik pedas sedang membanjiri pasar cemilan. Dalam menghadapi persaingan ini Bob menanggapinya dengan positif. Ia bersyukur dengan adanya kompetisi. Menurutnya, tanpa kompetisi kita akan tetap berada di zona nyaman sehingga membuat Maicih tidak berkembang. “Kami selalu menanggapi persaingan dengan positif, bersaing sehat dan berusaha memberikan yang terbaik untuk konsumen. Biar konsumen yang memilih. Tugas kami hanyalah fokus pada pelayanan konsumen, itulah kompetisi sehat yang sesungguhnya,” tambah Bob.

Untuk menghadapi persaingan dan kompetisi, Maicih kemudian melakukan inovasi dengan mengeluarkan produk lain selain kripik pedas, yaitu gurilem, basreng, dan seblak. Dalam melakukan invoasi ini Maicih sering mendapatkan masukan dari incu-incunya. Menurut Bob, masukan dari incu-incu Maicih inilah yang mendasari inovasi dari Maicih. Tidak hanya sekedar produk saja, Masukan dari para incu juga turut mengembangkan dan memajukan bisnis kripik pedas berlevel ini. (*/@aindahf)

Tags: , ,