Servant Leadership Munculkan Passion pada Karyawan

Belakangan ini, gaya kepemimpinan melayani (servant leadership) mulai banyak dijumpai di kalangan leader Indonesia. Hal ini mencuat pada seminar Servant Leadership: Leading with Heart yang diselenggarakan oleh Global Indonesia Network (GI Net) beberapa hari yang lalu di Jakarta.

Menurut Dr. Hana Panggabean, direktur Program Pasca Sarjana Universitas Atmajaya, telah terjadi pergeseran pada konsep kepemimpinan dewasa ini yang lebih mengarah pada people. Menurutnya walaupun di Amerika dan Eropa gaya kepemimpinan Servant mulai terkenal sekitar tahun 2000, di Indonesia sebenarnya konsep tersebut bukanlah suatu hal yang baru.

Robert K. Greenleaf, pendiri gerakan Servant Leadership mengatakan, Servant Leadership merupakan suatu filosofi dan seperangkat praktek yang dapat memperkaya kehidupan seseorang untuk membangun organisasi yang lebih baik dan pada akhirnya menciptakan culture yang lebih adil dan sarat akan kepedulian.

Pada kesempatan yang sama, Erwin Tenggono yang juga menjadi pembicara mengatakan, “Saat ditanya apakah saya telah mengerjakan konsep servant leadership dalam sehari-hari, saya juga bingung apakah saya telah menerapkannya,” tukas Erwin. Namun, ia juga mengungkapkan bahwa dirinya senang merefleksi diri dan belajar dari kehidupan yang telah ia alami.

PT. Anugrah Argon Medica (AAM) tempat dia bekerja selama 25 tahun telah mengalami jatuh bangun. “Ketika kami telah memiliki capability kami bangun knowledge organization, banyak yang bertanya mengapa harus membangun itu? Padahal kami hanyalah perusahaan distribusi. Bagi saya karena bisnis ini berada di bidang farmasi yang berkepentingan dengan banyak orang, jadi kami harus memiliki banyak pengetahuan. Ketika kami belajar banyak hal yang kami telah ketahui lebih mengenai bisnis ini,” ujarnya.

Ia sedikit menceritakan, salah satu yang menjadi motivasi para karyawan ialah dengan tema kerja yang diambil oleh PT. AAM saat itu. “Saat itu kami memiliki tema kerja ‘CEPAK’ yang merupakan kependekan dari kerja cerdik, proaktif, agresif, dan kreatif, sedangkan tema ‘CEPEK’ karena saat itu AAM memiliki omzet penjualan sebesar 60 M, lalu meningkat ke 100 M, dan kemudian terus meningkat hingga menjadi setengah triliyun. We’re nobody become somebody.” ungkapnya sambil bersyukur.

Saat meng-hire SDM, yang pertama-tama ialah memilih karakter yang bagus, maka selanjutnya kompetensi bisa dibangun, bukan sebaliknya. Kemudian, leader juga harus konsisten pada saat mengangkat si karyawan pada jabatan yang lebih tinggi, leader harus memberikan karyawan tersebut kesempatan, dan terus support karyawan tersebut agar terus memberikan kemajuan.

Lanjutnya, lantas bagaimana kita dapat grow? Tentunya harus ada passion, jadi grow bukan lagi kemauan atasan, seperti halnya anak-anak yang ingin tumbuh gigi akan melewati fase alam growing pain. “Kita harus menemukan dahulu makna kita bekerja, saya dipanggil untuk mengabdikan keahlian saya di perusahaan ini untuk meningkatkan kualitas kesehatan bangsa. Ketika kita sudah mendapatkan meaning dan memiliki believe, maka keluarlah passion. Dan orientasi saat bekerja bukanlah uang lagi,” katanya.

Perusahaan merupakan sekelompok orang yang berusaha menyumbangkan kontribusi terbaik di dalamnya. “Saya percaya bahwa semua karyawan tidak ada yang bermaksud buruk pada saat masuk ke perusahaan, kecuali kita salah dalam melaksanakan sistem rekrutmennya. Jadi semua orang akan berusaha memberikan yang terbaik agar perusahaan growing, hanya problemnya mungkin kita salah memposisikan background,” tuturnya.

Erwin yang kini menjabat sebagai advisor PT AAM sangat percaya bahwa culture dalam perusahaan sangat menentukan. Tetapi di dalam culture tidak ada salah atau benar, yang ada hanyalah tepat atau tidaknya saat culture tersebut diterapkan dalam suatu organisasi.

“Jadi dulu saya otoriter saat masih menjadi sales manager, namun saya banyak belajar mengenai leadership, dan ilmu agama. Dari situlah titik baliknya,” ungkapnya. Ia memberikan salah satu kalimat terbaiknya, ‘ada saatnya kita berani mengambil, dan ada saatnya kita harus berani menaruhnya.’

Erwin menambahkan, kunci dalam penerapan leadership ini adalah passion dan trust. Jika keduanya tidak ada, maka kebanyakan orang akan hitung-hitungan terhadap pekerjaan mereka. “Kita pasti mempunyai value sendiri dalam menjalankan pekerjaan,” tutur Erwin.

Ada tiga cara dalam pembentukan seorang leader, ialah melaui proses nature atau faktor bawaan, nurture yang merupakan faktor lingkungan dan faktor ketiga atau keinginan seseorang untuk berubah. “Memang butuh proses panjang untuk menerapkan sebuah value. Saya percaya seorang leader itu dipilih oleh Tuhan,” pungkasnya. (*/@friesskk)

Tags: , ,