Pemimpin dan Budaya Indonesia

pemimpin dan budaya

Sosok pemimpin selalu menarik untuk disorot. Apalagi bila kapabilitasnya sebagai agen perubahan tidak kunjung muncul. Masyarakat akan menunggu-nunggu kapan pemimpin mereka melakukan perubahan yang bermanfaat untuk kesejahteraan rakyat.

Namun kadang perubahan itu terbentur oleh masyarakatnya sendiri.  Di mana pada satu sisi mereka menginginkan perubahan, tetapi pada waktu yang bersamaan mereka juga ingin mempertahankan tradisi atau culture yang sudah ada.

Dua faktor ini (budaya dan pemimpin) diangkat trio penulis dari Universitas Atmajaya, Prof. Dr. Hora Tjitra, Dr. Hana Panggabean, dan Dr. Phil Juliana Murniati, M.Si dalam buku yang baru saja dirilis hari Sabtu (19/1) yang lalu, “Pemimpin dan Perubahan, Langgam Terobosan Profesional Bisnis Indonesia.”

Ketiga penulis mengulik 20 Top Management perusahaan nasional dan multinasional di Indonesia dengan pendekatan psikologi sosial.

Berdasarkan penelitian yang mereka lalukan, kepemimpinan tidak mungkin berjalan steril dari konteks sosial budaya. Budaya dari mana seorang pemimpin berasal dan di mana ia berkarya tidak dapat diabaikan, dan biasanya menjadi nilai, norma dan kebiasaan yang akan menentukan cara mereka berpikir. Contohnya, bila kita terbiasa dipimpin orang Indonesia, karakter mereka seperti selalu menjadi penutan, berjalan di depan akan menjadi hal yang sering kita dengar.

Menurut Ogi Prastomiyono, Compliance & Human Capital Director Bank Mandiri, buku ini memperkaya kepustakaan Indonesia mengenai leadership. “Jadi orang luar juga akan tahu, oh begini lho cara berpikir orang Indonesia. Jadi kita bisa belajar dari pemimpin yang bagus-bagus di negeri kita sendiri,” ujarnya.

Yaya Winarno Junardy, Chairman Rajawali Corpora yang juga ikut dalam diskusi menambahkan, “Leadership itu seni, kita harus tahu kapan kita harus berada di tengah, di depan atau di belakang sekalipun. Tidak selalu harus di depan.” (*/@nurulmelisa)

Tags: ,