Leader, Inilah 4 Langkah Disiplin dalam Mengeksekusi Rencana

jim huling

jim huling

Seorang pemimpin yang hebat kerap dicirikan dengan berbagai karakter seperti tegas, decision maker, visioner, berintegritas dan lain sebagainya. Namun, kerap kali kita lupa untuk menyebutkan satu hal yang menentukan keberhasilan dari seorang pemimpin, yakni mampu membuahkan hasil (producing result).

Jim Huling, salah satu pengarang buku “4 Disciplines of Execution”, dalam seminar bertajuk 4 Disciplines for stunning Performance (12/02) di Graha CIMB Niaga mengungkapkan bahwa seorang pemimpin bukanlah pemimpin jika ia tidak mampu memproduksi hasil. Kebanyakan pemimpin hanya mampu sampai pada tahap membuat rencana, tetapi sering gagal melewati bagian paling sulit, yakni membuat anggota tim menjalankan rencana tersebut.

Masih menurut Jim, setidaknya ada 5 tahapan yang harus dilalui oleh seorang pemimpin untuk dapat menjalankan strategi sehingga goal organisasi dapat diraih. Kelima tahapan tersebut adalah, keinginan pemimpin untuk meningkatkan kompetensinya (drive to improve), mengimplementasikan pengetahuan yang dimilikinya (leadership emphasis), menciptakan akuntabilitas tim, dan yang ke-empat adalah membuat anggota tim merasa memiliki dan bertanggung jawab atas tugas-tugasnya (individual ownership). Pada dasarnya, keempat hal tersebut sudah cukup untuk mendorong terwujudnya suatu target, akan tetapi kesuksesan yang diraih tidak akan bertahan lama, sehingga dibutuhkan tahap ke-5 yakni membuat keempat tahap tersebut menjadi sebuah kebiasaan (habit).

Baca juga: Servant Leadership munculkan passion pada karyawan

Lalu bagaimana seorang pemimpin dapat menempa dirinya dan timnya untuk dapat sampai pada tahap kelima? Menurut Jim, ada 4 disiplin yang harus diikuti, yaitu:

1. Fokus pada goal yang paling penting

Semakin banyak goal atau tujuan yang ingin dicapai perusahaan dalam kurun waktu tertentu akan semakin berkurang fokus yang dicurahkan pada goal tersebut. Jim menyarankan agar jumlah tujuan yang ingin diraih perusahaan hendaknya tak lebih dari tiga. Goal tersebut pun sebaiknya dibuat sangat spesifik misalnya, “kenaikan profit sebebesar 5% di kuarter pertama”. Nah, setelah target tersebut tercapai, baru perusahaan dapat menyusun target-target lainnya.

2. Buatlah Lead Measure

Setelah target perusahaan ditetapkan, langkah selanjutnya adalah menetapkan lead measure. Sebagai contoh perusahaan ingin meningkatkan kepuasan konsumen hingga 80%, maka, tugas tim adalah menyusun strategi yang dapat ditempuh untuk mewujudkan hal tersebut. Tulislah sebanyak mungkin yang bisa diimplementasikan. Setelah didapatkan banyak strategi, pilih dua atau tiga strategi paling penting, misalnya dengan “mengurangi antrian” atau “pelayanan cepat kurang dari dua menit”. Strategi inilah yang dinamakan lead measure.

3. Menurunkan lead measure tersebut dalam scoreboard yang jelas

Tahap selanjutnya adalah dengan menyusun scoreboard. Buatlah komitmen bahwa anggota tim akan menjalankan lead measure setiap hari. Jadi, jika anggota tim tersebut berhasil, maka ia akan mendapat nilai tambah, dan jika tidak berhasil, maka nilainya tetap. Beri nilai pada setiap effort yang dilakukan oleh anggota tim dalam proses mencapai target. Scoreboard hendaknya ditempel di tempat yang terlihat jelas dan desainnya sangat visible atau mudah dilihat.

4. Menciptakan Akuntabilitas pada setiap anggota tim

Disiplin terakhir adalah menumbuhkan akuntabilitas bagi setiap anggota tim. Akuntabilitas yang dimaksud adalah adanya kesadaran anggota tim untuk melakukan tugas-tugasnya demi kebaikan bersama, bukan semata-mata suruhan dari bos. Akuntabilitas ini dapat diraih dengan coaching atau pendampingan yang cukup lama, setidaknya selama enam bulan. Dengan dimilikinya akuntabilitas ini, maka lama kelamaan habit pun akan tumbuh dan perusahaan akan menjadi pemenang yang bertahan lama.

Baca juga: Dave Ulrich: Leadership lebih penting dari Great Leader

Tags: , , , , , ,