Komunikasi, Kunci Melawan Resistensi Karyawan

erwin Tenggono

Seorang pemimpin selalu harus bisa menciptakan perubahan dan dinamika dalam organisasi. Tidak jarang dalam menerapkan perubahan tersebut mereka mendapatkan resistensi dari karyawan. Menurut Erwin Tenggono, Director International Business PT Dexa Medica, setiap perubahan membutuhkan tools untuk diwujudkan.

Erwin menyampaikan itu dalam seminar “The Servant Leadership, Leading with Heart” yang diselenggarakan oleh Global Indonesian Network (GI Net) kemarin (4/4) di Jakarta. Di depan puluhan top management di acara tersebut, Erwin menyampaikan pengalamannya selama 27 tahun berhadapan dengan dinamika proses dan perubahan.

“Setiap perubahan itu membutuhkan tools untuk membuat orang percaya dengan omongan kita,” ujar Erwin.

Jika leader hanya mengandalkan janji saja, maka perubahan itu juga tidak ideal prosesnya. Untuk itu menurut Erwin leader harus pahami dulu apa yang dibutuhkan oleh organisasi. Setelah memahami, leader harus tahan banting dengan resistensi yang bisa muncul pada saat perubahan telah berjalan. Jika resistensi terjadi, menurut Erwin hal yang pertama kali harus dilakukan adalah jangan panik.

“Kita ketahui dulu permasalahannya apa, kita komunikasi ke mereka. Bisa jadi memang informasinya tidak tepat sehingga terjadi kekhawatiran. Karena kan orang resisten karena tidak mengerti,” ujar Erwin.

Menurutnya resistensi yang dilakukan karyawan terkadang bermaksud untuk menyelamatkan perusahaan. Untuk itu komunikasi sangat penting dalam membangun kepercayaan.

“Seorang leader tidak bisa mengubah siapapun, yang bisa mengubah diri kita, ya kita sendiri. Namun leader bisa berkomunikasi, dari situ karyawan menjadi tahu apa yang ada di pikiran kita,” ujar Erwin yang mengaku aktif menulis di media perusahaannya.

Perkembangan teknologi informasi juga tidak disia-siakan Erwin, dirinya mengaku aktif berinteraksi lewat social media. Bahkan banyak karyawan yang memanfaatkan jalur social media untuk berkomunikasi dengan Erwin.

“Saya punya facebook, semua karyawan bisa add saya, dan kita bisa komunikasi lewat facebook. Bahkan banyak karyawan yang menanyakan saya lewat facebook,” ujarnya semangat.

Social media menjadi sarana yang efektif untuk membangun komunikasi dengan karyawan. Erwin menekankan bahwa yang terpenting adalah menjaga culture perusahaan. “Saya tidak merasa social media sebagai ancaman, yang terpenting kita harus bangun culture, kalau mereka udah mengerti bagaimana budaya perusahaan, tidak akan ada hal yang menyimpang dari aturan,” lanjut Erwin. Bahkan menurutnya penyimpangan yang terjadi dapat langsung dikontrol oleh karyawannya sendiri melalui social media.

Erwin yang mengawali karirnya dari staff administrasi gudang di PT AAM hingga kini menjabat menjadi Advisor di perusahaan yang sama, tentu mempunyai banyak pengalaman dalam mengatur people.

“Saya memulai karir saya dari bawah, yang saya tangkap adalah semua karyawan baik level atas maupun level bawah membutuhkan interaksi dengan leadernya. Beri waktu diskusi buat mereka, karena mereka kan sebenarnya membutuhkan saluran berkomunikasi langsung dengan atasan, ya salah satunya dengan social media,” ujar Erwin.

Pencapaiannya sampai saat ini membutuhkan waktu yang tidak singkat. Erwin menerangkan kepada audience betapa values dan budaya perusahaan sangat memegang peranan. “Values dan budaya perusahaan itu memegang peranan. Kita harus yakin dalam tim kita tidak ada keinginan untuk merusak hubungan. Kita learn bersama, grow bersama,” tutur Erwin. (*/@nurulmelisa)

Tags: , , ,