Kiat Menjadi Pemimpin Sukses

Selain didukung visi, misi, dan lingkungan yang kondusif, seorang pemimpin perlu mengoptimalkan kemampuannya untuk mencapai kesuksesan pribadi dan perusahaan. Bagaimana caranya dan apa yang harus dilakukan?

Kepemimpinan adalah sebuah fenomena yang rumit karena ada banyak hal yang memengaruhinya. (Ram Charan)

Dalam bukunya berjudul “Know-How: 8 Keterampilan yang Menjadi Ciri Pemimpin Sukses”, Ram Charan menulis satu pesan penting. Menurutnya, seorang pemimpin bukan saja harus memiliki kemampuan manajerial yang mumpuni, tetapi juga harus bisa membawa perusahaannya lebih beretika, fokus pada tujuan jangka panjang dalam ranah ekonomi, sosial, dan lingkungan. Di buku ini Ram Charan berupaya menyajikan potret menyeluruh dari para pemimpin sukses abad ke-21. Ke-8 keterampilan itu mencakup hal-hal yang bisa dilihat pada Tabel berikut.

Menanggapi 8 keterampilan pemimpin yang dipaparkan Ram Charan, Head of Leadership Development Dunamis Organization Services, Tommy Sudjarwadi, mengungkapkan bahwa keterampilan tersebut bermanfaat dan membantu para praktisi HR dalam menerapkan program pengembangan kepemimpinan di perusahaan. “Delapan keterampilan tersebut bisa dijadikan basis kompetensi bagi seluruh karyawan,” katanya. Pemaparan Ram Charan dalam bukunya itu, menurut Tommy, merambah aspek eksternal yang memiliki pengaruh penting bagi keberlanjutan perusahaan di masa akan datang.

Di tempat lain, Octa Melia Jalal, Head of PPM Center for Human Capital Development menyatakan, 8 keterampilan yang diungkapkan Ram Charan tersebut sudah komprehensif untuk seorang pemimpin di era sekarang. “Delapan keterampilan tersebut memang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Tetapi tidak banyak pemimpin yang memiliki semuanya,” ungkapnya memastikan. Tommy mengatakan hal senada. ”Faktanya sangat sulit menemukan pemimpin perusahaan di Indonesia yang memiliki delapan keterampilan tersebut,” Tommy menambahkan.

Namun demikian, bukan berarti tidak ada pemimpin yang mewakili gambaran tersebut. Tommy menyebutkan beberapa nama pemimpin di Indonesia yang memiliki kekuatan di poin tertentu. Misalnya, mantan Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Nihal Kaviratne. Menurut Tommy, Nihal tergolong pemimpin yang memiliki keterampilan nomor satu. “Pak Nihal merupakan pemimpin yang memiliki jiwa bisnis yang kuat,” katanya meyakinkan. Ia juga menyebut nama Tirto Utomo sebagai pendiri Aqua. Tommy menilai, Tirto Utama merupakan pemimpin yang memiliki keterampilan nomar dua.

Di samping itu, Tommy melontarkan nama Djohan Marzuki, Presdir PT Summit Oto Finance (SOF) yang dia lihat mampu membangun tim kerja yang kokoh. “Berarti dia (Djohan Marzuki) cocok sebagai pemimpin yang memiliki keterampilan nomor tiga,” ujarnya yakin. Kemudian, Dirut PT Bank Mandiri Tbk. Agus Martowardojo, Tommy memasukkannya ke dalam kategori pemimpin yang memiliki keterampilan nomor tujuh. “Pak Agus memiliki visi yang jelas, yang selalu menjadi prioritas. Misalnya, visi untuk memperbaiki layanan atau budaya perusahaan,” tuturnya memberi alasan.

Di sisi lain, Mia – sapaan akrab Octa Melia Jalal – melihat mantan Direktur Utama PT PLN (Persero) Kuntoro Mangkusubroto dan mantan Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk. Dedi Aditya sebagai pemimpin yang telah mencapai tingkat panutan (role model). Menurutnya, kedua pemimpin itu layak dijadikan pemimpin panutan karena semua orang, terutama karyawan, selalu membicarakan hal positif tentang kedua tokoh tersebut. “Bahkan, setelah mereka keluar pun, kecintaan karyawan terhadap kedua orang ini masih tinggi,” katanya memastikan. Dan, tidak menutup kemungkinan seorang pemimpin di ranah pemerintahan pun sukses menjadi role model.

Mia mengemukakan beberapa kriteria untuk menjadi pemimpin sukses, antara lain, dia mesti mengetahui peran apa yang harus dilakukannya, mengenal kekuatan dan kelemahan diri, memahami dan menghargai anggota timnya, rendah hati, dan melayani stakeholder-nya. “Paradigma pemimpin sekarang sudah berubah. Kalau dulu pemimpin harus dilayani, tetapi sekarang pemimpin yang harus melayani,” imbuhnya menandaskan. Karena itu, seorang pemimpin di mata Mia perlu memiliki karakter dan kompetensi yang sesuai dengan perannya. “Hanya persoalannya, apakah perusahaan sudah membuat program seperti itu? Artinya, ada program pengembangan kepemimpinan atau tidak?,” ujarnya menanyakan. Mia mengungkapkan model kepemimpinan yang dimiliki PPM Manajemen. Menurutnya, seorang pemimpin memiliki tiga fungsi. Fungsi pertama, pemimpin harus memastikan sasaran perusahaan yang bisa dicapai. Selanjutnya, dalam mencapai fungsi pertama ada tiga peran yang harus dijalankan seorang pemimpin. Satu, dia harus bisa mengarahkan (direction). “Pengarahan ini biasanya diterjemahkan sebagai visi dan misi pemimpin,” ujarnya. Kedua, dia harus bisa melihat peluang bisnis. Dan ketiga, dia harus bisa membuat perencanaan dan strategi dari arahan dan peluang bisnis yang bisa diidentifi kasi.

Fungsi kedua, seorang pemimpin harus berani mengeksekusi rencana dan menjalankan strategi dalam bentuk implementasi. Dalam menjalankan fungsi ini, pemimpin perlu menyelaraskan struktur organisasi, sistem prosedur, teknologi, serta kompetensi dan perilaku karyawan. “Kalau ini belum sesuai, berarti dia harus bisa merencanakan perubahan. Langkah selanjutnya, dia harus melakukan perubahan. Setelah itu baru dilakukan pengawasan terhadap perubahan tersebut,” urai Mia.

Dan fungsi ketiga, seorang pemimpin perlu meningkatkan komitmennya kepada bawahan. “Tujuan meningkatkan komitmen ini agar kinerja mereka tidak sekadar rata-rata, tetapi lebih menuju kepada kinerja unggul,” ujarnya memastikan. Maka, langkah pertama yang harus dilakukan pemimpin adalah, memberdayakan kemampuan dan pengetahuan anggota timnya sesuai dengan tanggung jawab masing-masing. Selanjutnya, pemimpin perlu membuat karyawan lebih terikat, sehingga mereka mau bertahan di perusahaan.

Berdasarkan pemaparan tersebut, Mia berpendapat, Ram Charan belum memasukkan keterampilan pemimpin dalam hal meningkatkan komitmen karyawan. Sebab, katanya, komitmen ini diupayakan agar karyawan men jadi orang-orang berprestasi. “Delapan keterampilan pemimpin yang diungkapkan Ram Charan bisa dilengkapi dengan model kepemimpinan milik PPM Manajemen,” kata Mia meyakinkan.

Sementara itu, Tommy mengungkapkan, Dunamis juga memiliki model yang dijadikan persyaratan bagi seseorang yang ingin menjadi pemimpin. Syarat pertama, menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Kedua, memiliki kompetensi dan karakter yang berkaitan dengan orang lain, seperti interpersonal skill. Ketiga, memiliki kemampuan manajerial. Misalnya, kemampuan bekerja sama dengan timnya. Dan keempat, memiliki kemampuan untuk membawa organisasi mencapai visi dan misinya. “Model ini disebut The Four Level Leadership,” ujarnya menandaskan.

Tommy melanjutkan, bila seseorang telah menjadi pemimpin, sebaiknya dia bisa mengklasifi kasikan perannya. Berdasarkan metode Dunamis, menurutnya, ada empat tahapan yang harus dilakukan sang pemimpin. Pertama, dia mesti memperjelas tujuannya dengan visi, misi, dan strategi. Kedua, mengintegrasikan sistem dengan proses pendukung. Ketiga, menjaring para talent dengan program pengembangan. Dan keempat, mampu memberi inspirasi kepada karyawan. Berdasarkan metode ini, Tommy berani mengatakan bahwa Ram Charan belum menyinggung soal trust di antara 8 keterampilan yang disebutkannya.

“Pemimpin itu akan suskes kalau dia telah memberi inspirasi kepada banyak orang. Sementara inspirasi itu berasal dari hati. Maksudnya, selain menggunakan hand (tangan) dan head (kepala) untuk bekerja, seorang pemimpin perlu menggunakan heart (hati)-nya. Jadi ada tiga ”H” yang harus dimiliki seorang pemimpin kalau mau sukses,” tukas Tommy. Ia mencontohkan Soekarno dan Hatta yang dinilai merupakan pemimpin yang menginspirasi banyak orang karena mereka menggunakan hatinya.

Selan itu, menurut Tommy, salah satu kriteria pemimpin sukses adalah, kalau dia mampu menggerakkan bawahannya atau orang lain untuk mencapai tujuan bersama. “Jadi kuncinya adalah, pemimpin tidak bergerak sendiri, tetapi ada orang lain bersamanya,” ujarnya menegaskan. Untuk itu, sang pemimpin sebaiknya menempatkan dirinya seperti seorang pelatih (coach). “Contohnya, pelatih olahraga. Dia tidak ikut pertandingan, tetapi jika timnya menang, sang pelatih dianggap berhasil karena timnya bisa melakukan eksekusi dengan baik,” tuturnya beranalogi.

Mia sependapat dengan Tommy. Di matanya, seorang pemimpin dikatakan sukses bila sudah bisa menginspirasi orang lain. ”Seorang pemimpin selalu menjadi bahan omongan bawahannya. Maka, kalau pemimpin memiliki karakter dan perilaku baik, tentu orang akan membicarakan hal positif tentang dia. Akhirnya, dia menjadi inspirasi bagi orang lain,” katanya.

Lalu, apa yang menjadi kendala bagi para pemimpin agar bisa menjadi inspirasi bagi orang lain? Mia melihat, kebanyakan pemimpin tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan dirinya, terutama pengembangan soft kompetensi. “Saat ini banyak perusahaan yang belum memiliki sistem coaching atau mentoring. Padahal ini merupakan program penting untuk pembentukan kompetensi karyawan,” ungkapnya. Nah, untuk meningkatkan kompetensi kepemimpinan tidak bisa hanya dilakukan di dalam kelas, melainkan perlu dilakukan praktik di luar.

Di tempat berbeda, Direktur Umum dan SDM PT Pertamina (Persero), Waluyo, mengungkapkan, dalam mem persiapkan pemimpin masa depan, Pertamina telah melaksanakan berbagai pelatihan bagi para eksekutifnya. Salah satunya melalui Program Pengembangan Eksekutif Pertamina (PPEP). “Para pengajar untuk program ini dihadirkan dari para tokoh pebisnis di luar Pertamina, bahkan termasuk kompetitor kami. Mereka berbagi pengalaman atau pandangannya terhadap Pertamina,” katanya mengungkapkan.

Mengenai biaya pelatihan, Waluyo terus terang mengatakan, Pertamina telah menganggarkan dana pelatihan sebesar Rp 123 miliar selama 160 ribu jam. “Proyek yang kami rancang ini, per orangnya memakan biaya Rp 114 juta. Biaya ini meliputi dua minggu di kelas, dan satu bulan di kelas lagi. Setelah itu, dilanjutkan perjalanan ke luar negeri untuk mengetahui bisnis-bisnis di negara lain,” paparnya. Waluyo menjelaskan, setelah perjalanan ke luar negeri para peserta diberikan projek bisnis yang nilainya di atas Rp 500 juta. “Saat ini kami sudah masuk angkatan ke-6 untuk program PPEP ini,” ungkapnya.

Selain itu, pria kelahiran Klaten, 16 Desember 1956 ini menyebutkan, untuk program pengembangan soft skill para eksekutif, Pertamina memiliki program Transformasi Leadership Engine (TLE). “Program ini bertujuan bagaimana pemimpin bisa sukses dan mampu bekerja sama dengan timnya,” ia menuturkan. Program TLE dilakukan tiap tahun dan hingga kini sudah meluluskan dua angkatan. Tiap angkatan sedikitnya menghasilkan 20-30 orang. “Tidak hanya itu, para lulusan terbaik akan diikutkan pada program Global Leadership dari Tanri Abeng. Biasanya kami mengirimkan lima sampai enam orang,” ujarnya menandaskan.