Kiat Mengidentifikasi dan Memilih Pemimpin Masa Depan

Anda mungkin masih ingat sosok Siswono Yudo Husodo? Pria kelahiran Long Iram, Kalimantan Timur, 4 Juni 1943, ini pernah menjabat sebagai Menteri Negara Perumahan Rakyat pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993) dan Menteri Transmigrasi dan Permukiman Perambah Hutan Kabinet Pembangunan VI (1993-1998). Setelah lama tak terdengar, nama Siswono mencuat kembali pada 2003-2004. Kala itu, ia mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden RI, berpasangan dengan salah seorang tokoh reformasi, Amien Rais, yang menjadi kandidat Presiden RI periode 2004-2009.

Kendati pasangan ini tak mendapat suara banyak, kepedulian Siswono terhadap masa depan bangsa tidak pernah surut. Hingga kini ia tetap aktif menyampaikan pemikirannya, terutama yang berkaitan dengan ketahanan pangan dan swasembada beras. Menurutnya, kekayaan alam Indonesia yang melimpah. jika dikelola dengan baik dan benar dapat memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi penduduknya.

Selain memikirkan soal ketahanan pangan, Siswono juga serius melakukan regenerasi di perusahaan yang dibesarkannya. Lebih dari 40 tahun – berdiri pada 1966 – Siswono menekuni bisnis jasa konstruksi melalui PT Bangun Tjipta Sarana. Dalam perjalanannya, perusahaan ini berkembang menjadi kelompok usaha di bawah bendera Bangun Tjipta Grup, dengan lebih dari 25 anak perusahaan. ”Sejak awal, saya merancang perusahaan ini agar dapat tumbuh dan berkembang melewati umur pendirinya,” papar Siswono saat menjadi pembicara dalam seminar “Coaching Leadership: Good into Great Leaders”, yang diselenggarakan oleh PPM Manajemen, beberapa waktu lalu.

Ia mengakui, banyak perusahaan di Indonesia yang tumbuh dan tenggelam sejalan dengan usia pendirinya. Dalam konteks ini, Siswono menyadari, menyiapkan kader dengan kualitas leadership yang baik merupakan kunci keberlangsungan hidup perusahaan. “Proses regenerasi tidak mudah, karena berlangsung dalam suasana perubahan. Banyak yang tergoda untuk langsung menurunkan ‘tongkat estafet’ kepada anaknya, yang belum tentu berhasil,” ujarnya. Siswono tidak menampik, generasi seusianya sudah layak digantikan oleh “the next generation”. Ia menilai, generasi muda saat ini dapat mengelola perusahaan dengan lebih Karena itu, ia optimistis, masa depan dunia usaha Indonesia akan berkembang pesat jika dipimpin oleh anak-anak muda.

Namun demikian, menurutnya, dalam melihat kepemimpinan seseorang yang perlu diperhatikan adalah karakter. “Banyak orang yang memiliki jabatan penting tetapi leadership-nya sangat kurang. Padahal leadership diperlukan di semua level. Oleh karena itu, yang paling penting adalah karakter kepemimpinan harus dibangun dan ditingkatkan pada banyak orang,” tuturnya.

Lebih jauh, Siswono menyatakan, unsur penting dari karakter adalah integritas pribadi. Dengan integritas yang unggul, seorang pemimpin akan mendapat empati dan penghormatan dari lingkungannya. ”Otomatis hal ini akan memudahkan dirinya dalam memimpin,” ungkapnya.

Lulusan teknik sipil dari ITB, Bandung, ini mencontohkan, seorang CEO senantiasa menetapkan target perusahaan yang optimal kepada para manajer. Mulai dari target penjualan, operasional, sampai keuntungan, sebagaimana yang ia lakukan saat menjabat Direktur Utama PT Bangun Tjipta Sarana. “Saya orang yang keras membina kemampuan dan disiplin anak buah, namun dengan hubungan yang mesra. Hubungan yang dekat dengan anak buah memudahkan kita untuk menilai prestasi, dedikasi, dan integritas seseorang, serta menetapkan siapa yang pantas memperoleh promosi,” paparnya, lugas. Ia meyakini, perlu dilakukan pressure kepada para manajer atau kaderkader di perusahaaan dalam upaya membangun bisnis. “No pressure, no growth,” katanya, tegas.

Dalam rangka itu, Siswono membuat program Management by Olympic’s Spirit (MBO’s) di lingkungan perusahaan. Olimpiade ini diikuti para talent (karyawan terbaik). “Kompetisi ini akan menghasilkan juara sejati. Semangatnya adalah be the best of the best,” katanya menandaskan. Untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik (the best of the best) – melalui MBO’s – ada lima tahapan yang harus dilalui. Pertama, menetapkan idola perusahaan atau eksekutif yang ingin dicontoh prestasinya. Kedua, mempelajari bagaimana orang atau perusahaan bisa mencapai prestasi yang mengagumkan. Ketiga, berusaha mengejarnya. Keempat, melengkapi diri, belajar, dan mencari dukungan dari berbagai kalangan untuk mencapai tujuan. Dan kelima, berupaya melampaui idola yang dicontoh, dan membuat benchmarking baru.

Siswono menambahkan, salah satu dimensi penting dalam proses regenerasi ini adalah mengasah bakat entrepreneur di lingkungan perusahaan. “Yang saya maksudkan adalah, kemampuan inovatif, kreatif, dan semangat untuk mengoptimalkan potensi. Baik potensi yang ada pada orang, alam, ataupun posisi strategis dan geografis lokasi. Berbagai potensi tersebut akan menjadi sesuatu yang efektif dan bermanfaat,” katanya.

Menurut peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini, ada tiga faktor yang menyebabkan munculnya jiwa kewirausahaan pada diri seseorang. Pertama, memang sengaja direncanakan.

Maksudnya, seseorang melengkapi dirinya dengan berbagai ilmu pengetahuan yang relevan di bidang bisnis serta mengembangkan kewirausahaannya. Kedua, karena terpaksa. Contohnya, banyak orang yang di PHK, kemudian memutuskan untuk berwirausaha dan ternyata sukses. Orang tersebut baru menyadari bahwa dirinya memiliki kemampuan menjadi pengusaha. Dan ketiga, karena faktor keturunan. Artinya, melanjutkan usaha keluarga yang telah dipersiapkan dengan baik oleh orangtuanya. “Pengusaha-pengusaha yang sukses umumnya berasal dari salah satu dari tiga latar belakang tersebut,” ujarnya meyakinkan.

Siswono menyimpulkan, keberhasilan pemimpin tergantung dari cara pandangnya terhadap realitas organisasi yang dipimpinnya, menguasai permasalahan yang dihadapi di organisasi, penguasaannya atas kondisi dan potensi di sekitarnya, serta kemampuannya dalam memobilisir berbagai sumber daya yang tersedia, termasuk kemampuan mengantisipasi perubahan. “Dengan mengandalkan sumber daya manusia yang berkualitas sebagai aset utama, dilengkapi teknologi modern sebagai sarana, dan manajemen yang andal sebagai pengendalinya, PT Bangun Tjipta Grup telah mencapai sukses dalam menghasilkan produk dan memberikan pelayanan berkualitas sesuai dengan harapan dan kepuasan pelanggan,” ujarnya mantap.

Mengutip pendapat Suryo Danisworo – penulis buku “Warisan Kepemimpinan Jawa untuk Bisnis”, pemimpin harus memiliki kecerdasan, keterampilan dan sikap batin, berani berada di depan, mengayomi, dan mencerahkan. Lebih dari itu, pemimpin sejati mampu membawa organisasi yang dipimpinnya eksis dan tumbuh besar. Sikap itulah kiranya yang ditularkan Siswono kepada para penerusnya.