Karakter Yang Tidak Boleh Ditinggalkan Ketika Memimpin

Ada banyak hal yang dapat menentukan kesuksesan seseorang dalam memimpin. Ambisi, ilmu pengetahuan dan keterampilan yang bagus bisa saja menjadi pendorong kesuksesan tersebut. Namun, ada satu karakter yang jika ini tidak dimiliki oleh seorang pemimpin, akan sulit baginya membawa sebuah team pada keberhasilan. Karakter tersebut adalah ketulusan untuk mau memaafkan kesalahan orang lain.

Tentunya, memimpin akan sangat mudah apabila yang kita pimpin adalah orang-orang yang selalu melakukan hal dengan benar. Tetapi, orang bukanlah robot dan sekompeten apapun seseorang, sewaktu-waktu bisa saja ia khilaf dan melakukan pelanggaran prosedur yang telah ditetapkan perusahaan.

Hal hebat yang kemudian perlu untuk dilakukan oleh seorang pemimpin adalah belajar menerima kesalahan orang lain dan menyikapi kesalahan tersebut sebaik mungkin. Berikut adalah poin-poin yang dapat diterapkan oleh seorang leader untuk menjunjung sikap “forgiveness” dalam memimpin, seperti dilansir dari inc.com,

Budayakan untuk Mengakui Kesalahan

Hal terburuk yang mungkin terjadi dalam mengelola organisasi adalah kita menemukan adanya pelanggaran atau kesalahan, lama setelah hal tersebut terjadi. Tindakan menutup-nutupi sebenarnya bisa berakibat lebih buruk daripada dampak dari pelanggaran itu sendiri. Bisa saja hal tersebut akan menimbulkan rasa saling curiga dan tidak percaya
satu sama lain di masa depan.

Seorang leader yang baik akan mampu menciptakan atmosphere kerja yang memungkinkan para anggota team untuk mengakui kesalahan yang telah mereka perbuat dengan tanpa tekanan. Kemudian, si pemimpin juga berkewajiban untuk memberikan feedback dan eveluasi sehingga para anggota team merasa nyaman untuk mengungkapkan ketidaknyamanan yang mereka rasakan dan melihat adanya kesempatan untuk berkembang di organisasi tersebut.

Hilangkan kebiasaan “Perlu Penjelasan”

Kadang, pelanggaran atau kesalahan yang kita lakukan terjadi tanpa perlu adanya penjelasan. Sesuatunya terjadi begitu saja tanpa bisa dikontrol dan kita pun sebenarnya tidak memperoleh keuntungan apapun dengan mengorek penjelasan dari pembuat kesalahan tersebut. Berkaca pada kesalahan memang baik tetapi akan lebih berguna apabila kita berkonsentrasi lebih banyak pada kemungkinan untuk berbuat lebih baik
di masa depan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Permintaan maaf dengan tindakan

Bahkan perkataan “Saya minta maaf” akan terdengar hambar dan kurang bermakna ketika itu diungkapkan terlalu sering. Masih lebih baik jika orang tersebut menyampaikannya dengan tulus, hanya saja kadang tidak seperti itu. Mereka berucap tanpa diikuti dengan tindakan-tindakan yang menunjukkan keseriusan untuk mengubah perilakunya. Seorang leader harus peka dengan hal tersebut. Permintaan maaf tidak harus
disampaikan melalui kata-kata melainkan bisa juga dengan tindakan.

Misalnya dengan menunjukkan kinerja yang lebih baik atau menjadi lebih peduli terhadap kebijakan yang dpernah dilanggarnya.

Memacu Anggota Team untuk Bangkit

Orang yang tekun adalah mereka yang berani keras pada diri sendiri. Ketika mereka telah mengacaukan sesuatu dalam hidupnya, mereka tahu bagaimana cara untuk bangkit dari situ. Pemimpin yang baik adalah mereka yang bisa membangkitan para pembuat kesalahan dari keterpurukan. Meyakinkan mereka bahwa dengan kegagalan yang telah
diperbuat, mereka masih berkesempatan untuk menjadi yang terbaik dalam bidang yang  sama.

Temukan Setapak untuk Masa Depan Lebih Baik

Dengan berulang kali menggali kesalahan, menyesali, membicarakan tanpa melakukan seusatu untuk mengubahnya seseorang tidak akan pernah sukses. Jadi, daripada pusing memikirkan kesalahan yang lalu-lalu, akan lebih menguntungkan apabila kita berfokus pada jalan keluar yang bisa lakukan untuk memiliki kinerja yang lebih baik di masa mendatang.

Itulah tugas seorang pemimpin, mengembalikan kepercayaan anggota team sehingga tidak menganggap kegagalan sebagai batu sandungan bagi masa depan mereka.

 

Tags: ,