Jim Collins: People First, Strategy Second

jimcollins

Penulis bestseller Jim Collins yang berbicara pada sesi keynote Konferensi Tahunan SHRM 2012 beberapa hari yang lalu kembali menekankan pentingnya perhatian organiasi pada human capital, bahkan menempatkannya di atas strategi. People first, strategy second, demikian ujarnya.

“Satu pilar strategis yang paling penting dalam tiap organisasi adalah orang-orangnya,” Jim Collins membuka konferensi HR yang diadakan di Atlanta itu.

Setelah menghabiskan 9 tahun mempelajari mengapa sebagian perusahaan berhasil dalam ketidakpastian dan bahkan chaos, sementara yang lain tidak, untuk buku terbarunya Great by Choice: Uncertainty, Chaos, and Luck—Why Some Thrive Despite Them All (HarperBusiness, 2011), Collins menyimpulkan bahwa, “semua berawal dari orang.”

Keterampilan eksekutif yang paling penting untuk membangun sebuah organisasi hebat adalah “kemampuan memilih orang yang tepat, membuat keputusan tentang SDM yang benar, dan memastikan semua posisi kunci diisi oleh orang-orang yang tepat,” kata Collins seperti dikutip dari situs SHRM.

Collins, yang buku-buku sebelumnya seperti Good to Great, How the Mighty Fall, dan Built to Last, menghabiskan hampir seperempat abad mempelajari perusahaan-perusahaan hebat yang bertahan—bagaimana mereka tumbuh, mencapai kinerja superior, dan bagaimana perusahaan bagus dapat menjadi perusahaan hebat.

“Sangat berbahaya kalau mempelajari kesuksesan, karena itu tidak kami lakukan,” katanya. “Kami mempelajari kontras antara yang sukses dan yang gagal… antara great dan good.”

Pemimpin Level 5

Collins mendeskripsikan lima tingkat kompetensi kepemimpinan, yaitu:

1. highly capable individuals

2. contributing team members

3. competent managers

4. effective leaders

5. executives

Menurut hasil riset Collins, para pemimpin hebat mempunyai satu sifat yang sama: mereka semua adalah pemimpin level 5. “Pemimpin level 5 mempunyai faktor X yang berbeda dengan pemimpin level 4.” Collins menjelaskan faktor itu adalah: kerendahan hati.

Meski Collins menyebut beberapa pemimpin hebat dengan “kepercayaan diri yang sangat sehat,” seperti Bill Gates dan Steve Jobs, dia juga mengatakan faktor pembeda penting dengan level 4 adalah pemimpin level 4 masih “segalanya tentang mereka.” Sementara pemimpin level 5 “ego dan ambisi dan kepercayaan diri serta motivasi mereka disalurkan keluar kepada sebuah sebab, sebuah tujuan, kepada organisasi atau kepada suatu pencarian yang bukan hanya tentang mereka,” katanya.

“Sukses yang dipasangkan dengan kecongkakan pada akhirnya akan menuju kegagalan,” tambah Collins. Tidak mungkin mengharapkan orang-orang memberikan yang terbaik apabila dengan kecongkakan perusahaan mengabaikan orang-orangnya.

“Tak ada seorang pun pemimpin yang dengan dirinya sendiri bisa membangun perusahaan hebat,” ujar Collins. “Pemimpin level 5 memahami hal ini; mereka harus membangun keseluruhan team untuk membuat perusahaan hebat.”

Perilaku Kunci Pemimpin Level 5

Collins juga menemukan bahwa pemimpin level 5 mempunyai perilaku-perilaku kunci, seperti:

Disiplin yang fanatik. Pemimpin-pemimpin ini adalah orang-orang disiplin yang berpikir serta bertindak dengan disiplin juga. Tetapi Collins memperingatkan peserta konferensi agar tidak menyamakan disiplin dengan birokrasi. “Tujuan birokrasi justru untuk mendisiplinkan orang yang tidak disiplin,” katanya.

Kreativitas empiris. “Kreativitas adalah kondisi alamiah manusia, disiplin bukan,” jelas Collins. “Kombinasi yang benar-benar jarang adalah menemukan cara mengawinkan keduanya sehingga kita menguatkan kreativitas dan bukan menghancurkannya.”

Paranoia produktif. “Satu-satunya kesalahan yang bisa Anda ambil hikmahnya adalah kesalahan yang berhasil Anda lewati,” jelas Collins. Ini berarti selalu bersiap-siap sebelum hal buruk terjadi. Pagar terbaik terhadap ketidakpastian, katanya, adalah siapa orang-orang yang bisa Anda andalkan.

Orang-orang yang Tepat pada Posisi Kunci

Ketika mencari orang-orang untuk mengisi posisi kunci, pemimpin level 5 mencari orang-orang yang:

– mempunyai core value yang sama

– tidak perlu di-manage dengan ketat

– memahami bahwa mereka memiliki tanggung jawab, bukan hanya pekerjaan

– melakukan apa yang mereka janjikan secara 100 persen

Selain itu, orang-orang ini cenderung melihat ke luar ketika hal baik terjadi, dan memberikan penghargaan kepada orang lain. Sebaliknya, ketika hal buruk yang terjadi, mereka melihat ke dalam dan mengambil tanggung jawab.

“Semua berawal dan berakhir dengan orang,” kata Collins.

Collins mengakhiri sesinya dengan “to do list” kepada peserta yang mengulang beberapa poin yang disebutnya sepanjang sesi. Sebagian dari sarannya adalah:

–          Ganti kata-kata “pekerjaan” dengan “tanggung jawab.”

–          Mulailah daftar “stop doing” karena “pekerjaan itu tidak terbatas, sementara waktu itu terbatas,” katanya. “Bila Anda memiliki lebih dari 3 prioritas, berarti Anda tidak punya prioritas.”

–          Berkomitmen untuk menantang semua pemimpin muda menjadi pemimpin level 5. “Kita membutuhkan legiun,” ujar Collins. “Kita membutuhkan generasi level 5.”

 

*Foto diambil dari JimCollins.com.

Tags: , ,