Jika Ingin Gagal Sebagai Pemimpin

Sering kali karyawan meninggalkan sebuah perusahaan, bukan karena karakter dari perusahaannya, tetapi karena sikap manager atau supervisornya. Dan tidak sedikit manager yang merasa bahwa technical skill yang mereka miliki sudah cukup untuk memimpin anak sebuah tim.

Padahal, selain technical skill, seorang pemimpin perlu memiliki interpersonal skill untuk menyukseskan teamnya. Pun perusahaan, kadang lupa untuk mengembangkan training yang main focusnya adalah pengembangan self-discovery, lingkungan kerja yang sehat, komitmen dan tanggung jawab terhadap sesama.

Manajer atau pemimpin yang menyalahi fungsinya, akan meracuni atmosphere kerja, membuat orang menjadi tidak bersemangat dan berdampak pada penurunan produktivitas dan profit. Manajer yang demikian memang harus segera dikeluarkan dari team. Namun, seandainya kita adalah manajer yang memiliki karakteristik tersebut, maka wajib hukumnya bagi kita untuk mengubah kebiasaan buruk itu jika tidak ingin selalu gagal.

Menurut Peter G. Vajda, founding partner dari True North Partnering dalam tulisannya di managementissues.com, jika kita ingin berubah, dibutuhkan suatu kesadaran penuh, merefleksi diri, perubahan personal dan eksplorasi dari nilai yang kita percaya. Kebijakan maupun peraturan perusahaan tidak akan pernah mengubah personal awareness dan skill interpersonal. Personal skill sangat penting, namun interpersonal skill tidak kalah penting.

Beberapa sikap pemimpin berpotensi menimbulkan masalah dalam lingkungan kerja. Dan jika Anda ingin gagal dalam memimpin, berikut adalah hal-hal yang bisa dilakukan:

1. Respon Anda terhadap sebuah ide dan saran selalu diawali dengan kata “tidak”, “tetapi”, dan “meskipun demikian”.

2. Anda berusaha mencari pembenaran dari sikap-sikap yang sebenarnya kontraproduktif.

3. Anda men-judge orang lain berdasarkan personal interest dan subjekivitas.

4. Anda menjadi defensive ketika orang lain mempertanyakan hasil pemikiran atau keputusan Anda.

5. Anda membenarkan adanya praktik tidak etis dan tidak bermoral hanya dengan pertimbangan bahwa “inilah cara berbisnis di tengah persaingan yang sangat ketat”

6. Memperingatkan siapapun yang berbuat salah kepada kita atau yang tidak setuju kepada kita, dan melakukannnya di depan umum.

7. Secara sadar menjauh dari kolega atau direct report yang seharusnya dikerjakan.

8. Anda bersikap dingin, perhitungan, tidak mudah memaafkan dan selalu mengambil perspektif, “Hey!! Ini adalah bisnis!”

9. Anda membatasi kreativitas dan inovasi.

10. Anda menghilangkan kebenaran, keadilan hanya demi kemanfaatan dan kenyamanan yang didapatkan.

11. Anda lebih memilih bersaing daripada bekerja sama dan selalu menempatkan paham “Saya adalah yang paling benar”

12. Anda membiarkan kemarahan atau rasa frustasi mendominasi ketika terlibat dalam pembicaraan.

13. Anda adalah sumber dari kelemahan dalam lingkungan kerja yang tengah penuh tekanan dan kebingungan.

14. Anda tidak membolehkan diri sendiri atau orang lain untuk melakukan refleksi diri dan merenung dalam-dalam.

15. Anda tidak mencari arti dalam pekerjaan dan berkomunikasi dengan orang lain mengenai hal-hal yang absurd dan tidak ada manfaatnya untuk dunia kerja sama sekali.

JIka salah satu dari lima belas sikap buruk tersebut masih kita lakukan di tempat kerja, maka kita harus siap-siap untuk gagal. Untuk menanggulanginya kita perlu melakukan self-reflection, tidak hanya melihat segala hal dari sudut pandang pribadi tetapi juga apa yang mungkin orang pikirkan mengenai sikap kita. Apakah kita telah banyak berkontribusi terhadap organisasi atau justru kita melakukan pembenaran terhadap kesalahan yang kita lakukan.

Tags: ,