Immature Vs Great Leader, Apa Bedanya?

Pada suatu hari, seorang CEO duduk di posisi puncak sebuah korporasi besar level dunia. Ia masih menikmati gaji 1 juta dolar per tahun dan saham yang nilainya lebih dari 5 juta dolar. Namun, pada hari berikutnya, jajaran direksi dan komisaris menyuruhnya resign untuk sebuah alasan yang cukup membuat malu sang CEO. Terbongkar sudah bahwa gelar yang ia dapatkan di Stonehill College, Massachusetts pada awal tahun 1980 ternyata palsu. Dialah Scott Thompson, mantan CEO Yahoo. Kasus yang tidak jauh berbeda juga dialami oleh Dennis Kozlowski, CEO dari perusahaan jasa keamanan Tyco. Ia dikeluarkan karena terbukti menggunakan dana perusahaan untuk membiayai keperluan pribadi.

Kedua pemimpin tersebut merupakan contoh dari pemimpin yang bisa dikatakan belum matang (immature leader). Ia lebih mengutamakan kepentingan dan achievement pribadi ketimbang pencapaian organisasi. Mereka memimpin dengan mengusung value, budaya, paradigma yang justru akan memblokir jalan mereka menjadi seorang yang hebat dan dihargai orang sebagai pimpinan yang sukses.

Pada dasarnya, pemimpin yang tidak matang dengan pemimpin hebat itu dibedakan oleh satu kata, yakni karakter. Dalam sebuah buku yang berjudul Quiet: The Power of Introverts in a World that Won’t Stop Talking karangan Susan Cain, diungkapkan bahwa di Amerika Serikat, saat ini telah terjadi pergeseran cultural value dari value of character pada awal tahun 1980-an menjadi culture of personality yang masih berlaku sampai sekarang. Dahulu, pemimpin yang baik didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki karakter tabah, pekerja keras dan tahan terhadap tempaan. Namun saat ini, perusahaan menilai kepemimpinan seseorang berdasarkan personality dan charisma yang mereka miliki, bisa dilihat dari kejujuran dan integritas yang melekat pada diri pemimpin tersebut.

Seorang pemimpin yang mumpuni akan menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran. Ia akan mengandalkan kedua hal tersebut dalam menjalin sebuah hubungan, membangun teamwork dan enerji positif. Bahkan ia akan memilih untuk mendapatkan profit yang minor asalkan itu berbasis kejujuran dibandingkan untung besar tetapi hasil kebohongan. Pemimpin tersebut akan menganggap tugas dari perusahaan adalah amanat, ia akan mengembalikan dana apabila terjadi kelebihan, dia akan mengurangi pembiayaan yang merupakan pemborosan, juga akan melaporkan segala jenis pajak. Sebisa mungkin ia akan menciptakan sebuah lingkungan kerja yang kondusif bagi semua orang untuk berbuat jujur dan menjunjung tinggi integritas.

Dalam sebuah sesi seminar Leadership yang dipandu John Mattone, presiden dari Global Leadership Consulting, ia memaparkan sebuah pengalaman menarik. Saat itu, ia sedang menjadi pembicara untuk sebuah middle school graduation di Florida. Ia pun bertanya tentang arti character pada audience dan seorang anak mengangkat tangan. Lalu ia menjawab dengan suara pelan yang mungkin tidak semua orang mendengarnya. Lantas John memintanya bicara di depan mikrofon, bukan untuk mengeraskan suaranya, tapi anak tersebut mempunyai jawaban yang unik.

Character is what we do when no one is watching”, serentak semua orang bertepuk tangan. Karakter adalah apa yang biasa kita lakukan ketika kita tahu bahwa tidak seorang pun tahu kita melakukan hal tersebut. Dari jawaban tersebut tersirat makna bahwa karakterlah yang membimbing kita dalam mengambil keputusan. Karakter tidak akan menentukan ke mana tujuan kita, tetapi lebih tinggi lagi, ia menentukan apa yang menjadi tujuan utama (ultimate destiny) kita. Karakter akan menentukan seperti apakah kamu akan dilihat dan dibicarakan orang lain, karakter juga yang akan menjadi penentu tentang bagaimana orang akan mengingat kita dalam jangka waktu yang panjang.

Dan setelah kita tahu apa itu karakter, pertanyaan yang kemudian muncul dan perlu kita jawab sebagai pemimpin adalah, “Akankah kita membuat pilihan yang tepat?”

Tags: , , ,