Hiramsyah S. Thaib : Bos yang Gemar Membaca dan Turun ke Bawah

Di lingkungan kerjanya, ia dikenal sebagai pemimpin yang memberi teladan dan menjadi inspirasi bagi karyawan. Ia juga tak menjaga jarak dengan bawahannya. Kepeduliannya yang besar terhadap pengembangan SDM membawa perusahaannya makin berkembang dan memiliki nilai tambah bagi stakeholders.

Jabat tangannya terasa kuat. Kesahajaan dan keramah-tamahan terpancar dari raut wajah lelaki bernama Hiramsyah Sambudhy Thaib manakala HC memasuki ruangannya yang luas. Jabatan tinggi sebagai Presiden Direktur & Chief Executive Officer (CEO) PT Bakrieland Development Tbk. tak membuatnya harus mengambil jarak dengan orang lain. Maklum, Hiramsyah adalah sosok yang tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif, berpendidikan, penuh kasih sayang, religius, dan berjiwa sosial.

Tidak banyak pemimpin perusahaan yang waktunya banyak dihabiskan untuk terlibat dalam proses pengembangan kompetensi karyawan. Hiramsyah justru sebaliknya. Ia berkomitmen penuh terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di lingkungan kerjanya. “Sebagai CEO sudah sewajarnya jika 100% waktu saya untuk mengurusi SDM,” katanya menandaskan. Ia yakin bila masalah SDM bisa ditangani dengan baik, masalah yang lain pun terselesaikan dengan baik. Ini tidak hanya berlaku di lingkungan kerja, melainkan juga pada tataran negara, begitu pendapatnya.

“Kita tahu Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat berlimpah dibandingkan Singapura. Tetapi kenapa rakyat Singapura lebih makmur daripada rakyat Indonesia? Apa masalahnya? Nah, masalahnya terletak pada kualitas sumber daya manusia yang kurang dioptimalkan,” paparnya. Oleh karena itu, Hiramsyah selalu berupaya untuk menggenjot kualitas karyawan di lingkungan Bakrieland dengan berbagai pembelajaran, baik melalui in-house training maupun coaching. “Kami bikin in-house training sebulan sekali dengan mendatangkan para pebisnis atau motivator ternama. Saya juga sering menjadi coach untuk memberikan arahan kepada karyawan baik mengenai bisnis maupun konsultasi karier,” tutur pria yang gemar traveling dan mengoleksi mobil kuno, ini.

Pria kelahiran Jakarta, 7 Mei 1962, ini mengaku senang berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada orang lain. Terlebih, Hiramsyah gemar membaca sehingga asupan pengetahuan dan wawasannya terbilang luas. Bahkan, menurutnya, ruang terbesar di rumahnya adalah perpustakaan pribadi. Ia sendiri menargetkan membaca buku paling tidak dua buku dalam sebulan. Buku yang sering ia baca umumnya berkaitan dengan pengembangan diri, dan yang terkait dengan profesinya seperti buku-buku manajemen, properti, dan kepemimpinan. Saat ini koleksi buku di perpustakaan pribadinya mencapai sekitar 1.000 buku.

Berbicara mengenai karyawan, Hiramsyah berani mengatakan bahwa karyawan Bakrieland tidak ada yang tergolong deadwood (tidak berguna). Sejauh ini, ia berupaya memperlakukan karyawan dengan cara yang tepat. Sebut saja, pemberian remunerasi yang kompetitif, pelatihan dan pengembangan sesuai kebutuhan karyawan, serta jenjang karier yang jelas. Selanjutnya, pemimpin di perusahaan harus bisa memberi dorongan kepada karyawan untuk meningkatkan dirinya.

“Pemimpin harus membimbing, mengajari, dan menempatkan anak buahnya di tempat yang tepat, serta memberikan tugas-tugas sesuai dengan kemampuan mereka,” ujarnya. Bukti keseriusan perusahaan ini dalam mengembangkan karyawan terwujud dalam bentuk program pelatihan dan pengembangan. Berdasarkan Laporan Keuangan Tahun 2009, biaya pelatihan dan pengembangan karyawan yang dikeluarkan Bakrieland pada tahun 2008 mencapai Rp 896,2 juta.

Sebagai pucuk pimpinan, Hiramsyah mengibaratkan dirinya sebagai dirigen yang mengatur harmonisasi semua fungsi departemen di perusahaan, di antaranya departemen human capital, keuangan, marketing, dan legal. “Jadi, saya harus mampu menempatkan diri untuk memerhatikan semua departemen secara seimbang,” ujarnya. Karena itu, tak heran jika perusahaan mampu bangkit ketika ditempa krisis berulang kali. Hal ini lantaran hubungan manajemen dan karyawan terjalin harmonis. “Saya menyebut karyawan kami memiliki mental die hard alias nggak ada matinya, dan militan,” tuturnya seraya mengungkapkan, jumlah karyawan Bakrieland sekitar 3.000 orang. ”Dari jumlah tersebut, 30% tergolong superior dan selebihnya normal tanpa ada deadwood,” ujar Hiramsyah menegaskan.

Keterikatan karyawan kepada perusahaan, disampaikan lulusan Arsitektur dari Institut Teknologi Bandung (ITB), ini tak lepas dari upayanya menjalankan visi perusahaan yang disesuaikan dengan keinginan stakeholders. Bakrieland memiliki visi menjadi perusahaan terkemuka di dunia dalam bidang real estate, properti, infrastruktur, dan usaha terkait. Selanjutnya, visi perusahaan perlu didukung dengan model bisnis yang sesuai dengan perkembangan saat ini. Tentunya, Hiramsyah melanjutkan, model bisnis Bakrieland mengarah kepada perusahaan jasa properti yang terintegrasi (integrated property company), serta mampu memberikan nilai tambah dan manfaat kepada seluruh pemangku kepentingan.

Nilai tambah yang dimaksud adalah menciptakan inovasi dan kreativitas. “Karyawan dituntut untuk kreatif dan melakukan inovasi. Mereka juga harus fleksibel untuk mengikuti perubahan dan menjadi lebih baik tanpa harus dipaksa oleh shock therapy. Inilah tantangan terbesar CEO dan direktur human capital,” tutur Hiramsyah sambil tersenyum.

Dalam memandang pertumbuhan, Hiramsyah berharap, perusahaan dapat tumbuh pesat secara berkesinambungan (sustainable exponential growth). “Pencapaian membutuhkan dua hal, yaitu sistem dan orang. Artinya, semua orang (karyawan) harus benar-benar di-manage dengan sistem yang bagus, sehingga terbentuk kesadaran pada diri masing-masing orang untuk selalu berubah,” katanya memastikan. Sesuai tagline Bakrieland, yaitu dream, design, dan deliver, Hiramsyah memiliki tugas untuk memastikan semua tahapan yang dilakukan perusahaan berjalan sesuai rencana. “Dream artinya cita-cita, keinginan, atau harapan. Design adalah proses perencanan. Dan, deliver adalah proses eksekusi dalam merealisiasikan program-program yang telah direncanakan. Tiga tahapan ini harus bersinergi dan konsisten untuk mendukung semua departemen di perusahaan,” ungkap pengagum Soekarno dan John F. Kennedy, ini.

Agar ketiga hal tersebut dapat dipahami oleh karyawan, menurutnya, CEO harus bisa menjadi komunikator yang baik. Kebetulan, Hiramsyah termasuk penganut ajaran Ki Hadjar Dewantara dan sangat menghayati pesan yang disampaikan oleh pendiri Taman Siswa, ini. Yaitu, ing ngarso sung tulodo (di depan memberi teladan), ing madya mangun karso (di tengah membangun kemauan), dan tut wuri handayani (mendorong dari belakang).

Sebisa mungkin ia berusaha menerapkan ajaran itu di lingkungan kerjanya. Sebagai masinis di perusahaan, ia dituntut berada di depan dan menjadi panutan bagi karyawan. Dalam keseharian, ia sering berinisiatif menyambangi karyawan ketimbang memanggil mereka untuk menghadap ke ruang kerjanya. Ia juga tak segan berada di garis belakang. Dari posisi ini, ia bisa melihat apakah lokomotif yang dikomandaninya sudah sanggup mengangkut semua anak buahnya hingga tidak ada yang tertinggal di belakang.

Di mata Lea Nikusdiandi, Kepala Divisi Marketing & PR PT Bakrieland, Hiramsyah diakui sebagai sosok pemimpin yang sering turun ke bawah. ”Beliau sering meluangkan waktu untuk memberikan perhatian kepada karyawan di tingkat bawah,” ujarnya. Tak heran jika Hiramsyah bisa masuk ke segala lapisan, mulai dari pramu kantor dan sopir, hingga investor dan komisaris. “Dengan hobinya yang suka membaca, Pak Hiramsyah bisa memacu karyawan untuk giat membaca sehingga sama-sama memiliki pengetahuan yang luas. Karyawan pasti malu bila bosnya mengetahui informasi tentang sesuatu, sedangkan kita sebagai karyawan belum tahu,” tutur Lea berpendapat.