Hasil Studi: Perempuan Lebih Baik dalam Memimpin

womenCEO

SIAPA bilang bahwa perempuan selalu di belakang pria dalam urusan bisnis. Dari artikel HBR (Harvard Business Review), Jack Zenger dan Joseph Folkman melakukan studi penelitian yang mereka lakukan terhadap 7.280 pemimpin pada tahun 2011.

Untuk memperkuat studinya tersebut, Zenger dan Folkman melihat bagaimana pemimpin dalam berbagai posisi, mulai dari kontributor individu hingga manajemen tingkat senior. Dalam studi tersebut, mereka meminta orang lain untuk menilai para pemimpin di 16 kompetensi kepemimpinan.

Dan inilah hasilnya. Menurut data bersama dalam artikel tersebut, mereka menemukan bahwa perempuan ternyata lebih unggul dibanding laki-laki dalam semua kecuali satu dari 16 kompetensi, dan di 12 dari 16, para perempuan lebih baik men-drive margin bagi organisasi yang signifikan. Zenger dan Folkman menyebut, “dua ciri-ciri di mana perempuan memperoleh nilai tinggi bahwa perempuan cendrung mengambil inisiatif dan driving for result, dan ini telah lama dianggap sebagai kekuatan perempuan dibanding laki-laki.”

Dan meskipun ada lebih banyak pria dalam studi ini (dan ketidakseimbangan meningkat pada tingkat yang lebih tinggi, seperti halnya di kebanyakan perusahaan – di tingkat tertinggi, 78% dari mangers adalah laki-laki), perempuan dipandang sebagai pemimpin yang lebih baik di setiap tingkatan . Sekali lagi, baik Zenger dan Folkman menegaskan: “… pada setiap tingkat, lebih banyak perempuan yang dinilai oleh rekan-rekan mereka, bos mereka, laporan langsung kepada mereka, dan rekan mereka yang lain, sebagai pemimpin yang lebih baik secara keseluruhan daripada rekan-rekan pria mereka – dan semakin tinggi tingkatnya, yang lebih luas dalam kesenjangan pertumbuhan.”

Erika Enderson, partner of Proteus International, the author of Growing Great Employees and Being Strategic, mengatakan perempuan adalah salah satu pemimpin yang paling berbakat dan dihormati dalam organisasi. “Saya sering menemukan bahwa para perempuan di tingkat 2 atau 3 dari atas dalam sebuah organisasi, khususnya, lebih mengesankan daripada rekan-rekan pria mereka. Mereka membangun tim yang lebih baik, mereka akan lebih disukai dan dihormati sebagai manajer, mereka cenderung dapat menggabungkan intuitif dan logis pemikiran yang lebih mulus, mereka sudah lebih sadar akan implikasi dari mereka sendiri dan tindakan orang lain, dan mereka berpikir lebih akurat tentang sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai hasil yang diberikan,” imbuh Erika.

Erika menggarisbawahi, penelitian Zenger dan Folkman tampaknya menunjukkan cukup kuat bahwa perempuan dipandang sebagai pemimpin yang lebih baik daripada pria oleh orang di sekitar mereka. Dalam penelitian lain, Erika juga menyebutkan bahwa perusahaan yang memiliki representasi yang lebih tinggi dari perempuan dalam jajaran manajemen lebih menguntungkan dan memiliki produktivitas karyawan lebih tinggi.

Namun demikian Erika mengakui, bahwa berdasarkan kompetensi tersebut, kemampuan perempuan belum teroptimalkan, melihat data statistik di mana hanya 33 dari 1.000 perusahaan terbaik versi Fortune dikepalai oleh perempuan.

Lantas apa yang jadi, apa masalahnya, mengapa perempuan masih kurang terwakili, terutama di tingkat paling senior? Erika menyebut ada dua elemen yang memiliki dampak besar:

1. Perempuan tidak mempromosikan diri. Dari 16 kompetensi kepemimpinan yang dinilai oleh Zenger dan Folkman, satu-satunya di mana pria memiliki poin tinggi ketimbang perempuan adalah “mengembangkan perspektif strategis.” Erika menyebut bahwa perempuan ‘kurang’ mengembangkan pandangan strategis untuk kemajuan karier mereka sendiri. “Saya melihat bahwa banyak pria dibanding perempuan lebih fokus pada hal yang akan melejitkan karir mereka, dan secara teratur menggunakan beberapa bagian dari waktu mereka untuk mengembangkan hubungan yang akan mendukung keberhasilan mereka, dan mereka menawarkan diri untuk itu,” ujarnya.

Perempuan, di sisi lain, mungkin cenderung menempatkan semua energi mereka hanya melakukan pekerjaan terbaik dalam posisi mereka saat ini. “Kita tampaknya jauh lebih cenderung untuk percaya bahwa pekerjaan yang meritokrasi, dan bahwa jika Anda tampak bekerja keras akan mendapatkan hasil yang bagus, dan Anda akan mendapatkan perhatian dan dipromosikan. Mengagumkan, tapi tidak terlalu akurat,” sebut Erika.

2.Senior pria masih banyak mempekerjakan pria lain. Tidak disangkal, perempuan dalam bisnis hampir secara eksklusif menduduki posisi sekretaris dan operator telepon, dan umumnya mereka bertahan hanya sampai mereka menikah. Pada pertengahan 1960-an, hanya sekitar 35% perempuan bekerja, dan hanya 1 dari 50 perempuan bekerja di posisi pekerjaan manajerial atau profesional.

Banyak diantara para nenek dan kakek dari perempuan muda mengarahkan cucu perempuannya untuk bekerja menjadi sekretaris, perawat, guru, pustakawan, atau mungkin pekerja pabrik, dan bahwa mereka hanya akan bekerja jika mereka tidak memiliki suami yang bisa menopang nafkah keluarga. Banyak pengambil keputusan di organisasi yang masih terbawa harapan orang tua mereka sehingga ini juga mewarnai dalam hal perekrutan maupun keputusan promosi karyawan.

Toh begitu, Erika optimis, kondisi sekarang makin kondusif buat perempuan. “Saya melihat perempuan berusia 20-an dan 30-an sekarang ini lebih percaya diri dan ambisius ketimbang pria dalam interaksi di organisasi, dan para pria pun memiliki pandangan lebih maju dan menganggap urusan gender adalah netral, terutama dalam keputusan mempekerjakan mereka atau keputusan melakukan promosi,” tukasnya Erika lagi. (*/foto: greatleadershipbydan.com)

Tags: , , ,