Dirut KAI: Memimpin adalah Memberi Contoh

ignasius-jonan

Untuk bisa mengajak orang melakukan perubahan, seorang pemimpin perlu mendapatkan trust dari orang yang ia ajak berubah.

Memimpin PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) selama kurang lebih empat tahun, trust adalah sesuatu yang berusaha dibangun oleh Ignasius Jonan. Sejak 2009 menjabat sebagai Presiden Direktur KAI, Jonan mengaku perlu waktu selama hampir dua tahun sebelum akhirnya perubahan signifikan terjadi dalam tubuh BUMN tersebut pada tahun 2011. Perubahan positif terlihat pada pelayanan terhadap konsumen, termasuk di dalamnya perbaikan kondisi kereta api dan sistem mekanisme penggunaan jasa kereta api yang menjadi lebih tertata dan efektif.

Perubahan yang tampak revolusioner tersebut jelas tidak bisa lepas dari peran seorang pemimpin. “Yang terpenting adalah membangun trust dari para karyawan. Dan itu butuh waktu yang cukup lama, kita menyiapkan ini sejak tahun 2009. Dan baru benar-benar terlaksana mulai 2011, mengalami perbaikan terus menerus hingga sekarang,’’ ungkap Jonan.

Selanjutnya, ia juga mengungkapkan bahwa kepercayaan karyawan bisa timbul karena pimpinan mau memberikan contoh. Di KAI sendiri, Jonan memang tidak segan- segan membaur dan menyontohkan berbagai hal bagi para karyawan. Mulai dari hal-hal kecil yang sederhana, hingga hal-hal krusial yang merujuk pada keputusan strategis perusahaan.

“Tidak bisa seorang pimpinan hanya meminta anak buahnya melakukan sesuatu, menyuruh mereka berubah, sementara dia sendiri tidak menjalankan apa yang diperintahkan.”

Dari banyak perubahan yang terjadi di KAI, yang pertama kali harus diubah adalah budaya perusahaan. Budaya ini merupakan basis. Perubahan pada sistem keamanan kereta api misalnya, ia mengungkapkan bahwa tingkat kecelakaan wajib hukumnya untuk diturunkan. Oleh karena itu, ia sangat serius memberantas egoime yang dimiliki oleh awak kereta dan menumbuhkan budaya di jiwa mereka agar lebih memikirkan nasib banyak orang.

“Kadang saya berpikir, lebih bagus kalau ada kerabat atau saudara si awak kereta itu yang menjadi korban. Agar mereka tahu bagaimana rasanya kehilangan akibat kelalaian mereka,” ujar Jonan.

Dalam memimpin ribuan karyawannya, Jonan memang terhitung tegas dan tidak mengenal kompromi. Baginya, integritas adalah keharusan, siapapun yang melanggarnya, tidak peduli apapun jabatannya, ia akan memberi penalty yang sesuai.

“Saya tidak pernah mengeluarkan karyawan yang bodoh, karena menurut saya, bodoh atau tidak itu dari Tuhan. Mereka masih bisa memberikan manfaat dari apa yang dia bisa. Tetapi ketika itu menyangkut integritas, saya tidak mau berkompromi,” tandas Jonan di akhir wawancara (*/@yunitew)

zp8497586rq
Tags: ,