Belajar Kepemimpinan dari Citibank

Kepiawaian Citibank dalam mencetak great leader mungkin sudah menjadi rahasia umum. Terhitung untuk saat ini, sebanyak 162 Indonesian talent bekerja di Citibank di luar negeri. Bagi Citibank, mewujudkan hal tersebut memanglah bukan perkara yang mudah, beberapa strategi taktis perlu diimplementasikan. Namun, di antara strategi tersebut ada satu poin penting yang bisa kita teladani yakni adanya kerja keras.

“Kalau banyak motivator yang mengatakan work smart, mungkin itulah mengapa mereka tetap jadi motivator, bukan bekerja di perusahaan. Karena yang benar ya work hard dan work smart. Kalau saya meihat karyawan Citibank pulang hingga jam 12 malam, saya tidak heran,” ungkap Pambudi Sunarsihanto, Country Human Resources Citibank Indonesia dalam PortalHR Summit 2013 di Hotel Sultan. Kerja keras tersebut memang krusial bagi karyawan Citibank, utamanya pimpinan pasalnya tugas yang mereka usung juga tidak ringan.

Di Citibank sendiri, goal utama pimpinan adalah memotivasi karyawan, menciptakan kepuasan pelanggan dan memunculkan long term profitability. Untuk mewujudkan hal tersebut, terdapat tiga tahapan yang harus dilalui. Level pertama adalah lead yourself. Sebelum memimpin orang lain, terlebih dahulu kita harus bisa memimpin diri sendiri, yakni mengontrol apa yang perlu kita lakukan untuk meraih goal pribadi. Level selanjutnya adalah lead your team dan jika semua hal tersebut dapat dicapai maka selanjutnya kita bisa dikatakan capable untuk memimpin sebuah bisnis (lead your business).

Keterampilan leadership memang menjadi semakin penting ketika kita harus dihadapkan pada persaingan global. Puluhan tahun lalu orang kesulitan mencari peluang kerja, kali ini kondisinya justru berbalik. Jumlah lowongan pekerjaan sangat banyak tetapi jumlah good talent justru sedikit. Menjadi available saja tidak cukup, good talent-lah yang menjadi rebutan. Dan di sinilah peran leadership tersebut mengambil peran, good talent menjiwai keterampilan memimpin yang baik. Jadi, tidak heran jika kasus pembajakan dewasa ini menjadi semakin marak. Citibank pun menghadapi kondisi tersebut. Seringkali leader yang tengah dibentuk, dibajak oleh perusahaan lain.

“Untuk mempertahankan employee retention, kemudian kita menggunakan satu pendekatan yakni employee value proposition (EVP)”, ungkap Pambudi.

Dengan adanya program-program EVP tersebut, diharapkan ketika karyawan ditanya mengapa mau bekerja di Citibank, jawabannya buka semata-mata karena gaji. Akan sangat melegakan apabila jawabannya adalah karena mereka bisa berkembang, belajar dan berkarya di tempat kerjanya. (*/@yunitew)

 

Tags: , ,