Awas! 4 Karakter Bos ini Membuat Karyawannya Jantungan

bad boss

Siapa sangka bahwa sifat atasan atau manajer berimbas pada kondisi kesehatan karyawannya? Menurut sebuah studi yang diulas dalam inc.com, sikap bos yang buruk menyebabkan karyawannya lebih rentan terkena serangan jantung dan gangguan pembuluh darah.

bad boss

Lalu bagaimana cara melihat bahwa seorang atasan bersifat “meracuni” karyawannya? Setidaknya terdapat 4 (empat) pertanda yang menunjukkan bahwa seorang pemimpin berbahaya bagi anggota timnya.

  1. Tidak Kompeten

Di masa sekarang, karyawan yang berwawasan luas atau milenial yang melek teknologi sering kali tahu lebih banyak tentang pekerjaannya daripada bosnya sendiri. Padahal, seorang pimpinan yang hebat biasanya berhasil mempengaruhi bawahannya dengan ilmu dan kemampuan yang ia miliki. Pemimpin yang mampu menunjukkan keterampilan, ilmu pengetahuan baik dalam hal kepemimpinan maupun teknis akan dengan mudah meraih kepercayaan dari anggota timnya.

Akan tetapi, tugas pemimpin tentunya lebih jauh dari itu. Mereka harus memiliki visi masa depan, mengomunikasikan visi tersebut dan merangkul bawahannya untuk bekerja meraih visi tersebut. Dan untuk mewujudkan itu semua, seorang pemimpin harus memiliki kompetensi untuk membangun kepercayaan diri anggota timnya.

  1. Tidak Pengertian

Berdasarkan sebuah riset yang dilakukan oleh Christine Porath, professor manajemen dari Georgetown University yang juga menulis buku Mastering Civility, Manifesto for the Workplace, sikap kurang hormat, kasar dan perilaku tidak peka dari seorang pemimpin dapat melukai orang-orang di sekitarnya dan organisasi.

Ia mengungkapkan bahwa ketidaksopanan dapat berpengaruh buruk pada perasaan dan emosi para karyawannya dan perusahaan harus membayar kerugian besar sebagai akibatnya. Kerugian dapat berupa gangguan kesehatan dan berimbas pada kinerja karyawan yang memburuk. Konsekuensi logisnya adalah pencapaian menurun dan menyebabkan kerugian material bagi perusahaan. Tak hanya itu, karyawan juga menjadi lebih sering alpa dan bahkan keluar dari perusahaan. Selanjutnya, karyawan juga tidak akan bisa kerja optimal di lingkungkan yang minim penghargaan.

  1. Tidak Terbuka

Pimpinan hebat adalah lawan kata dari pemimpin yang kerap memberikan serangan jantung karena sikapnya yang tidak transparan. Mereka adalah orang-orang yang terbuka dan memberikan info perusahaan pada setiap level.

Mengenai hal ini, Porath menjelaskan, keterbukaan informasi adalah bahan bakar utama untuk mendorong kinerja baik dari karyawan. Pasalnya, dengan keterbukaan informasi tersebut, mereka menjadi lebih tahu makna dan tujuan dari jobdesc yang mereka kerjakan setiap hari. Mereka menjadi lebih tahu tergetnya seperti apa dan bisa secara aktif berkontribusi.

Keterbukaan ini adalaah syarat dasar yang harus diterima karyawan untuk secepat mungkin menyelesaikan masalah begitu timbul, mengambil keputusan dan berkoordinasi dengan anggota tim lainnya.

  1. Tidak Komunikatif

Bisa dikatakaan bahwa seorang pemimpin yang baik tidak akan membiarkan pengikutnya terjebak di jalan gelap. Tidak akan memerintah tanpa menyampaikan tujuan dan ekspektasi yang jelas. Bahkan, mereka akan dengan mudah diakses ketika anak buah membutuhkannya. Mereka selalu menyediakan waktu untuk pertemuan rutin, memberikan feedback dan memberikan ruang bagi bawahannya untuk belajar. Untuk itulah, komunikasi dua arah adalah hal yang krusial.

Pemimpin yang baik juga lebih sering berkomunikasi dengan kata “kita” daripada “saya” atau “Anda”. Kata “kita” mengisyaratkan bahwa suatu hal yang ingin dicapai adalaah tujuan bersama, bukan individual. Misalnya saja mereka akan mengatakan, “Kita pasti bisa menemukan solusi dari masalah ini,” daripada mengatakan, “Coba Anda cari solusi yang terbaik untuk masalah ini!” atau, “Coba cari solusinya untuk saya.” Seorang pemimpin yang baik juga merupakan seseorang yang walk the talk, tidak ingkar pada perkataannya.

Kesimpulannya, pemimpin yang baik tidak akan menyampaikan kalimat-kalimat baik atau pemanis untuk menyelamatkan reputasinya diri sendiri. Sebagai langkah awal untuk menjadi pemimpin yang baik, cobalah menghindari keempat karakter tersebut. (*)