Alasan Mengapa Lebih Banyak CEO Wanita

mary barra

mary barra

Topik mengenai wanita yang menjadi CEO perusahaan besar akhir-akhir ini menjadi pusat perhatian. Apalagi ketika Mary Barra diangkat sebagai CEO General Motors wanita pertama. Sydney Finkelstein, Professor manajemen di Dartmouth’s Tuck School of Bussiness, seperti dikutip dari Inc.com menyatakan keyakinannya bahwa akan lebih banyak wanita yang menjadi CEO ataupun business leader di masa depan. Dengan satu alasan yang cukup sederhana: kualifikasi wanita sebagai seorang pemimpin sedang berkembang.

Seperti yang dilaporkan dalam website Tuck, wanita memiliki performa lebih baik dalam setting akademik. Dalam sudut pandang Finkelstein, perbedaan yang terjadi cukup signifikan, dimana banyak perguruan tinggi dan universitas yang skor rata-rata nilai ujiannya meningkat hanya dengan lebih banyak murid perempuan. Ini merupakan alasan mengapa murid program sarjana saat ini 60% -nya adalah wanita. Finkelstein memprediksi bahwa persentase wanita memasuki sekolah bisnis yang elit akan meningkat. Di mana pada saat ini, sepertiga murid pada sekolah tersebut adalah wanita.

Keuntungan CEO Wanita

“Sebanyak 50% dari populasi, dan juga ditunjang dengan penelitian lainnya, terdapat beberapa perbedaan dalam gaya manajemen antara pria dan wanita,” menurut Finkelstein.

“Wanita cenderung lebih kolaboratif. Mereka bekerja dalam tim lebih baik dan memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik,” tambah Finkelstein.

Lebih banyak wanita dalam kepemimpinan artinya akan lebih banyak budaya kolaboratif. Selain itu, jika dalam tim rasio antara wanita dan pria 50:50, hal ini akan menyebabkan pemimpin meningkatkan self-awareness mereka menurut Finkelstein. Perbedaan dalam tim akan membuat setiap anggota tim peduli dengan asumsi, sikap dan perbedaan yang terjadi.

Berkaitan dengan diangkatnya Mary Barra sebagai CEO General Motors wanita pertama, hal ini cukup menarik perhatian khalayak. Tidak hanya mempengaruhi pendapatan perusahaan namun juga mempengaruhi budaya kerja di General Motors secara keseluruhan.

Dalam wawancara dengan NewYork Times, Barra menyatakan bahwa ia cukup nyaman dengan budaya perusahaan yang ada, dimana wanita sebagai jajaran pimpinannya. “Menurut saya, terdapat banyak wanita yang memegang peran senior lebih banyak pada tahun 1980 ketika saya mulai bekerja,” menurut Barra. “Namun berdasarkan perspektif karir saya, saya tidak hitung-hitungan. Saya ingin dikenal atas kontribusi saya dan apa yang saya lakukan.”

“Yah memang terdapat beberapa hal yang menjadi keuntungan bagi saya dan ada juga yang tidak menguntungkan saya. Namun hal ini benar bagi semuanya. Akan selalui ada hal yang berpotensi mempengaruhi penerimaan Anda. Dan janganlah terfokus pada hal itu. Saya tidak terfokus pada hal yang tidak dapat saya kontrol.”

Photo Courtesy: The Telegraph

Tags: ,