5 Tanda Kepemimpinan Anda Sudah Kadaluwarsa

Dewasa ini, tidak sedikit pimpinan suatu organisasi atau tim yang kehilangan daya saing yang mereka miliki. Substansi penting yang menjadikan mereka seorang pemimpin yang efektif dan sustainable sudah lenyap.

Pasalnya, mereka hanya mengejar kepuasan dan akhirnya lelah dalam meningkatkan keterampilan mereka sendiri. Padahal seorang pemimpin harusnya memahami bahwa memimpin organisasi selayaknya bermain games “survival of the fittest”, yang artinya, yang paling bisa beradaptasilah yang akan bertahan.

Hanya karena kita menduduki jabatan sebagai pemimpin, bukan berarti kita adalah seorang pemimpin yang efektif. Pemimpin efektif adalah pekerja keras, mereka yang memiliki kesabaran untuk meraih tujuan, memiliki visi dan misi yang jelas dan juga paham tentang bagaimana mengambil keputusan.

Seorang leader yang efektif akan selalu mencari cara untuk mengembangkan diri sendiri. Sedangkan kebanyakan leader yang kita temui adalah mereka yang cepat merasa puas dan bertahan pada status quo sehingga tidak mengalami proses learning yang optimal.

Kemampuan untuk melihat risiko dan keberanian untuk mengambil risiko tersebut adalah sesuatu yang harus dimiliki juga oleh seorang pemimpin. Jika kita merasa tidak nyaman dengan kondisi yang tak nyaman (uncomfort zone), maka mustahil kita akan menjadi seorang pemimpin yang efektif. Jadi, apakah gaya kepemimpinan Anda sudah kadaluwarsa?

Jika kesulitan menjawab, maka inilah lima tanda bahwa gaya kepemimpinan Anda sudah ketinggalan jaman dan harus diperbaharui, sesuai dengan ulasan dalam forbes.com:

Baca juga: Pemimpin Keren Melakukan 6 Hal ini

1. Sering menetapkan keputusan yang buruk

Kita bisa memulai mempertanyakan apakah gaya yang kita pakai kadaluwarsa atau tidak, dengan cara melakukan review. Jika selama kepemimpinan yang telah berjalan kita sering mengambil keputusan yang salah, maka kita perlu curiga. Kecenderungan membuat keputusan yang salah mencerminkan bahwa kita tidak belajar hal baru. Dengan kata lain, kita sebagai pemimpin selalu menyelesaikan berbagai masalah dengan cara yang sama.

Untuk mengatasi hal tersebut, kita harus melakukan observasi yang lebih luas lagi dan bersikap open minded. Karena ketika kita malas melakukan observasi, inclusiveness yang kita miliki akan berangsur-angsur hilang. Implikasinya adalah kita menjadi semakin sering melakukan yang sifatnya short-term dan merugikan perusahaan.

Terlebih lagi, keputusan tersebut juga akan berimbas pada eksekusi strategi yang kurang optimal. Seorang pemimpin yang sering tidak tepat mengambil keputusan juga akan kehilangan jiwa organisasi dan kepercayaan dirinya juga menurun.

2. Memimpin untuk Kepuasan

Ciri yang kedua adalah ketika Anda kehilangan semangat untuk berkompetisi. Tanpa semangat itu, para pemimpin hanya akan menjalankan tugasnya dengan tujuan untuk mendapatkan kepuasan. Dampaknya, mereka tidak akan memperhatikan detail suatu masalah dan berdampak pada tidak efektifnya kinerja mereka. Ketika mereka tidak detail, mereka kehilangan ketenangan, kharisma, serta kesiapan untuk mengambil risiko.

3. Egois/ Memikirkan diri sendiri

Karyawan tidak akan mnegikuti pemimpin yang selalu mementingkan keperluan pribadi. Apalagi ketika dengan gamblang seorang pemimpin mulai lebih mementingkan kemajuan pribadi dibandingkan anak buahnya, maka yang dipimpin akan mulai jengah dan pergi. Bagi seorang leader, jika merasa karakter tersebut ada pada gaya kepemimpinan mereka, lebih baik segera mengubahnya. Pada level yang lebih parah, sikap egois yang dimiliki oleh seorang pemimpin dapat membahayakan karirnya. Misalnya saja dengan melakukan tindakan seperti selalu mempromosikan diri sendiri, membicarakan hal buruk tentang orang atau organisasi lain, juga mau bekerja sama hanya jika itu menguntungkan buat dia.

4. Kehilangan faktor “mudah disukai”

Salah satu success factor seorang pemimpin adalah kemampuannya untuk “mudah disukai”. Ketika follower sudah tidak merasa nyaman berada di dekat pimpinannya, secara tidak langsung ia akan mengubah gaya kepemimpinannya. Tidak sedikit pemimpin yang tak mengerti cara mengelola kepemimpinan. Mereka terperangkap dalam kekuasaan mereka yang akhirnya justru meyulutkan arogansi.

Pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang mudah dijangkau, ramah dan membuat kita merasa nyaman secara natural. Ketika keberadaan pemimpin telah membuat orang lain merasa tak betah, itulah saatnya mereka mengubah kepemimpinan.

5. Kita tidak melakukan hal-hal baru

Jika kita takut perubahan, akan sulit bagi kita untuk memperbarui diri sendiri, dalam arti, kita melakukan sesuatu yang berbeda dari cara sebelumnya. Pemimpin yang malas mencoba hal baru, kesuksesannya tidak akan bertahan lama atau bersifat jangka pendek. Alasannya adalah ketika ia menghadapi berbagai masalah ia akan menyelesaikan dengan jalan yang sama dan akhirnya menghadapi kegagalan yang sama.

Selain itu, pemimpin yang gagal berinovasi akan menemui kesulitan dalam menetapkan jenjang karirnya. Mereka melangkah dengan tanpa tujuan yang jelas dan akhirnya gagal memimpin anak buahnya.

Baca juga: Pemimpin Tidak Perlu Peduli Pendapat Orang Lain

Tags: ,