4 CEO ini Memulai Karirnya sebagai ‘Anak Magang’

Roger Godell

Magang acapkali menjadi batu loncatan yang strategis untuk memulai karir di sebuah perusahaan. Siapa sangka, 4 orang ini bisa menduduki jabatan puncak sebuah organisasi yakni menjadi CEO, berangkat dari sebuah proses magang.

businesswoman-454874_640

(Sumber image: pixabaycom)

Seperti dilansir dari Forbescom, inilah para CEO yang mengawali karirnya sebagai ‘anak magang’ di tempat yang sama.

1. Dennis A. Muilenburg, CEO Boeing, sejak 1 Juli 2015.

Dennis A. MullenburgDennis A. Muilenburg mulai menjabat sebagai CEO salah satu perusahaan produsen pesawat terbang terbesar di dunia, Boeing pada 1 Juli 2015. Ia didapuk sebagai CEO pada perusahaan yang memiliki revenue sekitar US$ 91 miliar. Muilenburg mengawali karirnya sebagai seorang karyawan magang di perusahaan yang sama 30 tahun silam. Sebelum menjajaki puncak tangga karir di Boeing, pria 51 tahun tersebut pernah menjabat sebagai COO pada 2013 dan pimpinan divisi produk pretahanan (defense) di perusahaan tersebut.

Sementara hanya sedikit orang yang berpikir untuk bekerja pada satu perusahaan dalam waktu yang sangat lama, Muilenburg adalah sebuah pembuktian bahwa menjadi karyawan yang loyal menjanjikan karir yang fantastis. Setidaknya, setelah puluhan tahun berkarya untuk Boeing, dedikasinya tersebut terbayar lunas.

Muilenburg menuntaskan studinya di Iowa State Universtiry jurusan aerospace engineering dan melanjutkan master di Universitas Washington jurusan penerbangan dan astronomi sebelum magang di Boeing tahun 1985. Selama menjabat sebagai pimpinan divisi Defense System, Muilenburg memberikan banyak prestasi, salah satunya adalah memenangkan tender dengan Air Force untuk menciptakan sebuah pesawat tanker baru.

Dalam proyek tersebut, ia bahkan berhasil memangkas biaya produksi. Menurut salah satu kontributor Forbes yang memang telah mengenal Muilenburg sejak lama, CEO Boeing tersebut memang tipikal orang yang fokus dan hyper-competitive. Ia juga menyukai olahraga terutama bersepeda.

Baca juga: Lajang dan Sukses, 4 CEO Hebat Ini Membuktikannya

2. Mary Barra, CEO General Motor, sejak Desember 2013.

Mary BarraKaryawan magang di posisi factory floor adalah jabatan pertama Marry Barra di Automaker yang masuk tiga besar di Detroit, General Motor (GM). Saat bergabung dengan GM usianya masih 18 tahun dan masih belajar di General Motor Institute (sekarang bernama Kettering University ) yang didirikan pada 1926 dan dijalankan oleh GM sampai tahun 1982.

Pihak perusahaan membayarkan sekolah Barra sementara ia bekerja untuk GM di perusahaan. Saat pertama kali bergabung, ia ditempatkan pada bagian metal-stamping Pontiac. Setelah lulus,ia melanjutkan kerja di GM sebagai Quality Inspector pada merek yang sama, Pontiac. Pada tahun 1988, perusahaan kembali memberikan beasiswa kepada Barra sehingga ia pun meneruskan pendidikannya ke Stanford untuk mengambil gelar MBA.

Kinerja Barra di GM memang patut diacungi jempol. Pernah sekali kesempatan ia membantu perusahaan memecahkan ketegangan dengan karyawan ketika masa-masa negosiasi sedang sulit. Ia meningkatkan kualitas komunikasi antara pabrik dengan karyawan sehingga karyawan pun dapat diajak bernegosiasi. Empat tahun setelah itu, ia juga membantu memecahkan masalah ketika perusahaan kesulitan untuk berinovasi saat harus bersaing dengan Jepang. Setelah itu, ia pun mendapatkan promosi ke posisi yang lebih tinggi. Ia pernah menjabat sebagai pimpinan divisi manufaktur mesin sebelum akhirnya menjabar sebagai CEO.

3. Ursula Burn, CEO Xerox, sejak 2010.

Ursula BurnsUrsula Burn memulai karirnya di Xerox juga dari posisi seorang anak magang. Saat berusia 20 tahun, ia sudah bergabung dengan perusahaan percetakan raksasa tersebut dalam summer intern di bidang teknik permesinan. Burn tumbuh dengan seorang orang ibu yang menjadi orang tua tunggal, di sebuah proyek perumahan di New York.

Guru pembimbingnya di SMA justru menyarankan agar ia bekerja sebagai perawat, guru atau bahkan suster. Alih-alih menuruti nasihat pembimbingnya, ia justru mengambil jurusan teknik mesin di New York University (NYU) dan mendapatkan gelar masternya di Colombia.

Burn menghabiskan masa-masa di umur 20an-nya dengan bekerja di Xerox, berpindah-pindah divisi. Hingga pada suatu saat, Wayland Hick, Vice President Xerox memintanya untuk menjadi executive assistant. Waktu itu umurnya sudah 31 tahun dan ia mulai berpikir bahwa karirnya pasti mentok di situ.

Namun ternyata nasib berkata lain, Presiden Xerox, Paul Allaire melihat potensi yang dimilikinya dan ingin menjadikannya asisten eksekutif. Ia pun terus berkembang karena keberaniannya mengemukakan ide sehingga reputasinya pun menanjak. Pada tahun 2000, kondisi Xerox mengalami krisis dan ia pun hampir memutuskan untuk keluar. Hanya saja, jajaran direksi memintanya untuk tetap tinggal. Sampai kini, ia menjabat sebagai CEO dengan gaji US$ 22 juta pada tahun 2014.

Baca juga: Peraturan Unik CEO Amazon Saat Meeting

4. Roger Goodell, Komisioner NFL, sejak tahun 2006.

Roger GodellPerjalanan Roger Goodell hingga di posisi sekarang ini terbilang unik. Betapa tidak, ia mendapatkan berkali-kali penolakan dari berbagai tim bola kaki (football) di Amerika sebelum akhirnya bergabung sebagai karyawan magang di bagian administratif di kantor pusat NFL. Setelah magang selama tiga bulan, ia diberitahu bahwa saat itu di organisasi tersebut sedang tidak ada posisi kosong. Oleh karena itu, ia kemudian bekerja sebagai Public Relation (PR) untuk Klub Jets. Setahun membantu di PR, Goodell kemudian mendapatkan kesempatan untuk kembali bekerja di NFL hingga akhirnya ia menjabat sebagai komisioner pada tahun 2006.

Selama menjabat, ia harus menghadapi beberapa persoalan besar misalnya ketika salah satu pemain mengajukan tuntutan hukum atas cidera yang dideritanya yakni trauma pada kepala. Selain itu, ia juga menghadapi masalah dampak keterlibatan para pemainnya dalam skandal kekerasan rumah tangga yang tertangkap kamera. Salah satunya adalah Ray Rice yang tertangkap kamera menyeret tunangannya di elevator dalam keadaan tidak sadar. Dari perjalanan karir para CEO di atas, bisa dipetik pelajaran bahwa posisi top management pun bisa diraih oleh siapa pun, termasuk karyawan magang, dengan kerja keras, passion dan berdedikasi tinggi untuk kemajuan organisasi. (*)