4 Alasan Bos Pria Lebih Disukai

Pada masa kini sudah banyak wanita yang menjadi pemimpin perusahaan. Dengan gaya kepemimpinan yang berbeda pada setiap pemimpinnya, mereka mampu membawa organisasi mereka ke arah yang lebih baik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Gallup, sebanyak 33% responden lebih memilih pemimpin laki-laki. Hal ini sudah banyak mengalami perubahan sejak tahun 1953, di mana 66% responden memilih pemimpin laki-laki.

Meskipun begitu, masih banyak yang berpikir bahwa pemimpin adalah pekerjaan yang dilakukan pria. Inc memberikan empat alasan mengapa masih ada yang berpikir bahwa pemimpin seharusnya adalah seorang pria dan bagaimana solusinya.

Alasan Pertama: Pemimpin Pria Lebih Familiar

Pria yang menjadi pemimpin masih lebih mendominasi dibandingkan dengan wanita. Masih banyak juga orang yang berpikir bahwa pemimpin identik dengan imej pria. Solusinya adalah dengan semakin banyaknya wanita yang muncul sebagai pemimpin, maka mereka akan menjadi role bagi orang lain. Hal ini akan membuat orang berpikir bahwa tidak ada perbedaan antara kepemimpinan pria maupun wanita, karena setiap individu memiliki gaya masing-masing dalam memimpin suatu organisasi.

Baca juga: Semakin Banyak wanita di posisi puncak

Alasan Kedua: Generalisasi Lama Terus Dipelihara

Pria masih dipandang lebih kredibel dan lebih bisa diajak bekerja sama dibandingkan wanita. Menurut Becky Sheetz-Runkle, selaku pembicara dan penulis buku Sun Tzu for Women, ketika seorang karyawan memiliki pengalaman buruk dengan bossnya yang wanita, maka mereka akan langsung berpikir bahwa mereka tidak ingin lagi bekerja dengan pemimpin wanita yang lain. Solusinya adalah dengan menghadapi perbedaan yang terjadi dengan bijak.

Alasan Ketiga: Persepsi tentang Pemimpin Sudah Kuno

Wanita dianggap kurang memiliki power sehingga dapat memberikan dampak negatif bagi organisasinya. Solusinya perlu diperbaiki bagaimana caranya membahasakan pemimpin wanita. “Orang-orang perlu mengubah bahasa yang mereka pergunakan, bahwa tidak penting apakah seorang pemimpin itu wanita ataupun pria,. Ini semua hanya masalah bahasa,” ungkap Holly Srael, selaku CEO New York Ventures.

Alasan Keempat: Harapan yang tinggi untuk para pemimpin wanita

“Seorang wanita yang menjadi pemimpin diharapkan untuk terlihat friendly, caring, dan peduli secara personal. Mereka menganggap bahwa wanita yang berlagak otoriter bukanlah hal yang baik,” ungkap Katherine Crowley, selaku co-authors Mean Girls at Work. Solusinya adalah dengan mendefinisikan ulang bagaimana sebenarnya pemimpin wanita. “Setiap wanita perlu mengetahui bagaimana gaya kepemimpinannya. Wanita biasanya lebih takut untuk melawan atau terlalu agresif. Memang butuh waktu dan latihan untuk menjadi pemimpin yang diharapkan, ” tambah Crowley.

Definisi mengenai pemimpin saat ini perlu diperbaiki. Untuk mengubah definisi ini perlu usaha yang cukup besar, tidak hanya dari sisi budaya namun juga setiap individu. Sehingga tidak membutuhkan waktu bagi Gallup sampai lebih dari 60 tahun untuk menyatakan bahwa pada akhirnya setiap individu tidak memperdulikan jenis kelamin pemimpin mereka.

Baca juga: Alasan mengapa lebih banyak CEO Wanita

Tags: , ,