Kerja Efektif: Pulang Sore atau Pulang Malam?

Posted on April 8th, 2013

Print Friendly

 

 

Dalam sebuah seminar di Bank milik BUMN saya ditanya oleh salah seorang eksekutifnya. ‘Pak Paulus, apa Bapak pernah diajak ‘meeting’ Pak Prijono (Presdir Astra) setelah jam 7 malam?’ tanyanya dengan mimik serius. ‘Hah, di atas jam 7 malam?’ saya terkejut mendengar pertanyaan itu. ‘Lho kok kaget, pernah atau sering Pak,’ tanya si eksekutif lagi. ‘Selama tiga tahun di bawah Pak Pri, saya belum pernah sekali pun diajak ‘meeting’ mulai jam 7 sore apalagi jam 7 dan di atasnya,’ kali ini saya menjawab juga dengan mimik serius.

 

‘Bapak biasanya pulang jam berapa dari kantor?’ tanya eksekutif yang lain. ‘Kalau dari Sunter -kantor pusat Astra- saya umumnya pulang jam 5.30 pm. Jam segitu sudah sepi di lantai 6-lantai khusus direksi. Kalau dari Kuningan -kantor Astratel- saya pulang jam 6-6.30 pm. Sekitar jam 7-7.30 pm biasanya sudah sampai rumah. Tentu kecuali ada ‘dinner’ atau acara lain bersama mitra lain,’ saya menjawab dengan santai.

 

Kali ini, kedua eksekutif tadi berpandangan mata. ‘Pulang jam 5.30 pm tapi profit Astra 19,4 Trilliun ya. Kita pulang tengah malam kadang subuh tapi profit masih jauh dibandingkan Astra. Apa yang salah dengan kita,’ keduanya terbahak. ‘Kali kalau Presdir dan eksekutif Astra pulangnya kayak eksekutif kita, profitnya jadi 25 T kali ya,’ yang satu kembali berceloteh.

 

Kali ini saya sambar: ‘Kalau cara kerja petinggi Astra meeting mulai jam 9 malam dan kadang jam 11 malam kayak boss Anda, saya yakin profit Astra tinggal 10 T. Karena semakin malam semakin tidak produktif dan isinya cuman marah-marah melulu karena tensi sudah tinggi dan tidak bisa memikirkan hal strategis di tengah otak yang sudah lelah dan badan yang sudah payah. Makanya lebih baik berangkat kantor pagi pulang sore dibanding berangkat siang pulang malam hari,’ tanpa sadar saya mulai berkotbah.

 

Ternyata pertanyaan guyonan di tengah rehat kopi di seminar tersebut adalah pertanyaan serius yang dialami oleh banyak eksekutif dan staf muda yang sudah menyadari pentingnya ‘Balance of Life.’ Mereka sudah mulai menggerutu dan tidak ‘menyenangi’ kerja rodi, di kantor sampai malam karena menunggu giliran bertemu atau rapat dengan boss. Mereka ingin ‘fun’ dan sosialisasi dengan mitra di tempat santai atau bahkan sudah banyak yang ingin makan malam dengan keluarga, sudah jengah dan bosan terus-menerus bergulat dengan pekerjaan kantor.

 

Sialnya, mungkin kata ini terkalu kasar, banyak petinggi yang sukses selalu mengkaitkan kesuksesannya dengan kerja keras dalam arti kerja ‘long hour’ dan lembur dengan ukuran ‘simple’nya pulang malam. Pulang di bawah jam 9 malam menunjukkan kurang dedikasi dan kerja keras.

 

Bahkan ada yang bangga, apalagi ini ‘founder’ atau pemilik perusahaan, dengan gaya kerja kalong ini. Pertemuan jam 11 malam bahkan jam 1 pagi sering diceritakan ke sahabat dan pekerja untuk menunjukkan bagaimana ia meraih sukses dengan kerja keras seperti itu. Plus, sabtu minggu pun ia masih sering mengajak stafnya ‘meeting’ atau rapat penting. Kalau semua berkumpul dengan tepat, ia membanggakannya dengan berceloteh ‘Ini adalah simbol kerja keras kalian, saya sangat menghargai kalian yang mau mengorbankan waktu libur untuk perusahaan,’ ujar sang pemilik dengan senyum.

 

‘Kalau menurut Pak Paulus, bagaimana sebaiknya? Apakah kerja seperti itu perlu dilestarikan?’ Kali ini yang bertanya adalah cucu konglomerat yang sudah mulai berani ‘mbalelo’ terhadap ayahnya dengan tidak mendukung pulang pagi dan rapat di hari Sabtu Minggu.

 

Bagi saya sederhana saja. Karyawan normal, artinya yang kerja di siang hari tanpa kerja shift atau pekerjaan khusus yang menuntut kerja malam pulang pagi, seharusnya bekerja mengikuti jam alam yang normal. Kerja jam 8-6 sore sudah lebih dari cukup. Yang penting bukan lamanya, tapi intensitasnya. Banyak yang berlama-lama karena sekedar pulang malam agar dianggap kerja keras padahal kerjanya cuman ngobrol dan main ‘facebook’an.

 

Semakin efektif menggunakan waktu dan resources yang ada, eksekutif harusnya semakin senggang. Semakin ia membutuhkan waktu lebih dari 12 jam sehari mengerjakan pekerjaan kantor, saya mempertanyakan efektivitasnya dalam menggunakan sumber daya yang ada. Ia memiliki staf, pembantu dan advisor yang seharusnya bisa membantu meringankan pekerjaannya. Kalau sampai lebih dari 14 jam sehari, saya memastikan ada yang salah dalam desain pekerjaan yang harus dilakukannya. Artinya mungkin, ia harus menyerahkan bukan hanya mendelegasikan ke orang lain agar ia bisa berfokus pada ‘main job’ nya.

 

Lebih tragis lagi, kalau eksekutif yang sudah ‘burn out’ seperti ini mengajak anak buahnya ikut menemami ‘burn out’ nya. Diminta pulang malam, dan Sabtu Minggu waktu keluargapun masih sering dirampok. Saya kira, kalau ada yang model begini, ia harus belajar lagi soal ‘time management’ dan terutama belajar ‘menghargai’ bawahan yang punya keinginan dan kepentingan privasi untuk hidup bersama keluarga dan koleganya. Kalau boss sudah tidak menghargai orang lain yang tidak memiliki konsep kerja seperti dia dan memaksakan kehendaknya agar semua mengikutinya, ia adalah model pimpinan yang menganggap bawahan adalah ‘resources’ bukan ‘human’. Ia perlu membaca lagi buku  ‘Lead to Bless Leader’ agar mengerti kebutuhan dasar manusia sebagai ‘human’.

 

‘Pertanyaannya Pak, kalau kondisi di kantor saya seperti itu. Saya berangkat pagi dan pulang minimal jam 11 malam setiap hari bahkan setidaknya dua kali sebulan Sabtu Minggu pun diajak rapat sama boss, apa yang mesti saya lakukan,’ tanya rekan saya yang lain.

 

‘Kalau mau sehat jasmani rohani, sehat hubungan dengan keluarga dan komunitas dan bahagia, saya sarankan kirimkan CV ke tempat lain,’ saya menjawab dengan tegas. Kali ini ia yang menyeringai karena gajinya terlalu besar walaupun dengan kerja rodi seperti itu.

 

‘Nah, itu soal pilihan hidup,’ kali ini saya mulai berfilsafat. ‘Anda mau menyesal di kemudian hari karena hubungan dengan istri, anak dan keluarga menjadi dingin. Atau sebaiknya Anda korbankan gaji yang tinggi dengan mendapat pekerjaan yang lebih wajar dan boss yang memperlakukanmu sebagai manusia bukan sumber daya. ‘The choice is yours. Control your destiny or your boss will,’ saya menutup perbincangan malam ini sambil pamit undur diri karena waktu sudah jam 6.30pm. Itu berarti jam pulang.

 

Pertanyaan buat pembaca, Anda pilih yang mana? Pergi pagi pulang sore atau pergi siang pulang tengah malam atau pergi pagi pulang pagi lagi? Yang sudah salah kaprah, jujurlah pada diri sendiri apakah kehangatan rumah tangga bersama istri dan anak masih sama atau sudah mulai mendingin? Kalau sudah mulai berubah negatif, ‘it is the time to choose my friend.’

 

 

13 Responses to Kerja Efektif: Pulang Sore atau Pulang Malam?

  1. Haryo says:

    Pak Paulus, terima kasih atas artikelnya yang sangat menarik. Hanya mungkin kalau boleh menanggapi, working long hours adalah sebuah keanehan bila si eksekutif bekerja di sebuah perusahaan yang sistemnya sudah terbangun dengan rapi dan sistematis (seperti perusahaan-perusahaan yang ada di bawah grup Astra misalnya).

    Tapi kalau kita bicara lingkungan kerja di perusahaan start-up atau perusahaan yang struggling financially, sepertinya kok sulit sekali mengharapkan eksekutifnya bekerja dengan jam kerja yang normal (8 to 6), karena sumber daya yang masih sangat terbatas dan sistem yang (mungkin) belum terbangun. Otomatis para eksekutifnya pasti harus bersedia “babat alas” dulu dan merangkap berbagai fungsi, ya direktur, akuntan, sekretaris, sekaligus OB, demi efisiensi yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan profitability.

    Mohon tanggapan dari Pak Paulus untuk kasus seperti yang saya sebutkan diatas.

  2. Paukus bambang says:

    Bung Haryo, setuju kalau di masa survival dan masa krisis, harus cancut kaliwondo. Long lomg hours juga boleh. Artinya ini kan bukan jadi habit atau prinsip tapi orn keadaan tertentu. Sayapun pernah long long hours waktu krisis 97 dan 2008. Tapi setelah settle ya kembali ke prinsip awal sebagai basic paradigm kita. Terima kasih ya atas tanggapannya

  3. Dear Pak Paulus, thanks for sharing. Dalam kasus saya sering kali kami harus lembur bukan karena bos/atasan. Tetapi memang tuntutan dari pekerjaan/klien yang terkadang memberikan deadline yang tanpa ampun, dan di sisi lain harus kami ikuti. Seringkali juga kerja long hour diperlukan dalam persaingan bisnis yang ketat, di mana misalnya dalam memenangkan suatu pitching kami bekerja overtime selama bbrp hari agar mendapatkan hasil terbaik atau mencoba memberikan servis terbaik melebihi kompetitor.

  4. Paukus bambang says:

    Dear Meisia, dalam bbrp pekerjaan siklus sperti itu sepertinya sdh seperti keharusan. Cara menyikapinya adalah pertama, begitu ada kesempatan pulang sore gunakan sebaik baiknya, kedua usahakan alokasikan waktu setidaknya sekali seminggu dalam week days untuk pulang sore agar bisa bersosialisasi dg lingkungan, keluarga dan relaksasi. Ketiga, gunakan week end benar benar untuk kegiatan keluarga. Tanpa komitmen kuat kita akan dilibas kerja dan pekerjaan. Itu tdk akan pernah berhenti. Salam

  5. Pak Paulus, thanks tips-nya. Yup, weekend dan libur/cuti saya selalu maksimalkan…:)

    salam

  6. Paulus bambang says:

    Yuk kita bikin hidup lebih hidup … Urip luweh urup

  7. yayan sophian says:

    camkan

  8. Pandu Wicaksono says:

    Work Life Balance, sweet dream in the bitter reality………. Semoga semuanya nggak ada yang mengalami awet muda, karena umurnya gak sampai tua, gara-gara diabaikannya WLB ini…just let me go home, bos.. hehehe

  9. Andi M Nur Hidayat says:

    Alhamdulillah Ilmu baru
    Mohon tanggapannya Pak untuk case sy,
    Pimpinan sy jg hanya karyawan meskipun 8sebagai kepala divisi atau kepala cabang yg pastinya punya target, namu tidak jarang kerja kami dianggap kurang efektif apalagi overtime ( katanya kurang skill & knowledge ) namun disuatu saat ketika kami tdk demikian kami dianggap kuranh dedikasi sehingga kami sepakat utk kerja standart sesuai jam kerja.
    Sy pribadi juga ingin maju n lebih sukses. apakah utk case ini sy cukup berpaham kerja adalah amanah dengan efektif kerja sy topang dengan pilar jujur dan disiplin, pertanyaannya saat kapan sy akan maju apakah menunggu perubahan struktur pimpinan, situasi bisnis meningkat, atau cv baru ke perusahaan lain.hehehe pilihan terakhir tidak kayakx pak soalnya sy bukan org yg hanya ingat yg jelek dan melupakan / mengabaikan kebaikan perusahaan yg sebelumnya, mungkin ada yg lebih tepat pilihannya Pak????
    Salam hangat kami sekeluarga

  10. Yuli says:

    Saya setuju dengan pendapat Pak Paulus. Meeting ataupun kerja “long hour” sangat tidak efektif. Apalagi sampai jam 12 malam, sama sekali tidak meningkatkan profit dan malah bikin kondisi badan tidak fit. Tapi, sayangnya ya tidak semua Bos mengerti kondisi ini. Bahkan, Bos merasa sebagai karyawan, kita harus menyediakan waktu untuk perusahaan sebanyak-banyaknya demi kepentingan perusahaan. Padahal jika karyawan sakit, karena terlalu sering pulang malam, bkankah akan menjadi kerugian tersendiri buat perusahaan. Memang sebuah pilihan yang sulit, tapi itu tergantung dari pribadi masing-masing dan tentu juga dari misi dan visi pribadi. Sebenarnya dari kerja apa sih yang dicari. Duit? Pencapaian karir? atao Sekedar biar tidak nganggur?

    Lebih baik bijak dalam memilih :)

  11. Paulus says:

    Mbak Yuli, Nah, kita bisa mulai dari diri sendiri ya. Mulai di rumah jangan minta pembantu kerja sampai kayak kerja rodi, anak buah kita di kantor harus diminta pulang agar bisa makan malam sama keluarga. Kalau setiap kita mulai siapa tahu berimbas ke yang lain. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Recent Comments

  • selvin ariani: Terima kasih Pak Paulus,atas inspirasi “menge-gas kompetensi ” adalah penting
  • selvin ariani: sungguh indah reuni ,karena persahabatan masa kecil masih polos saya bisa merasakan suka cita kalau...
  • Paulus: Ikut workshp lead to bless donk. Silahkan hub Hasni KBC biar tambah mesra ya
  • Paulus: Thanksnya Pak Fery. Salam
  • Inspirasi dan Motivasi: Psting yang bagus saya sangat menyukainya…


twitter

Dapatkan update dari blog ini melalui email Anda. Atau Follow Twitter @paulusbws