‘Work/Life Balance’ Ciptakan Budaya Kerja yang Beretika

Memberikan keseimbangan antara kerja dengan kehidupan pribadi kepada karyawan tidak hanya meningkatkan retensi dan kepuasan kerja. Sebuah survei baru menemukan, work/life balance juga bermanfaat untuk menciptakan lingkungan tempat kerja yang lebih beretika.

Sembilan dari 10 (91%) orang dewasa yang bekerja sepakat bahwa karyawan akan cenderung lebih menjaga perilakunya secara etis dalam bekerja ketika mereka memiliki keseimbangan yang bagus antara kehidupan pribadi dan pekerjaan di kantor.

Menurut survei yang dilakukan Deloitte dan Touche USA tersebut, 60% karyawan percaya bahwa ketidakpuasan dalam bekerja menyebabkan orang membuat keputusan-keputusan yang tidak etis di tempat kerja.

“Dalam lingkungan yang kompetitif untuk meng-attract dan meretensi talenta, penting bagi kaum pengusaha untuk menyediakan sarana bagi karyawan mencapai keseimbangan yang sehat antara kehidupan pribadi dan pekerjaan,” ujar chairman of the board Deloitte & Touche USA Sharon L. Allen.

“Keseimbangan tersebut bukan hanya kunci bagi terciptanya kepuasan bekerja dan alat untuk meretensi karyawan terbaik Anda, tapi juga penting dalam membantu mengembangkan budaya tempat kerja yang beretika,” tambah Allen.

Masa Lalu dan Masa Kini

Sementara itu, Direktur Sloan Work and Family Research Network pada Boston College Judi Casey berpendapat, pada masa lalu, organisasi-organisasi punya kemauan untuk menyediakan sumber-sumber dan dukungan bagi keseimbangan hidup dan kerja karena hal itu dianggap sebagai sesuatu yang “menyenangkan” bagi karyawan.

Tapi kini, demikian Casey, banyak organisasi melihat dukungan bagi keseimbangan hidup dan kerja sebagai “alat bisnis yang mendatangkan keuntungan signifikan”. “Tak heran jika banyak perusahaan menciptakan program-program yang mahal untuk mendukung terwujudnya keseimbangan itu,” kata dia.

Casey menyebut jam kerja yang fleksibel, kerja jarak jauh dan pekan-kerja yang diperpendek sebagai contoh program-program mahal tersebut.

Tags: