Work-Life Balance Jadi Isu Jika Karyawan Tak Puas pada Pekerjaan

Benarkah tuntutan karyawan akan keseimbangan hidup dan kerja merupakan sesuatu yang nyata dan mendesak saat ini, atau hanya isu yang agak dibesar-besarkan? “Itu pertanda dari kegagalan manajemen perusahaan,” kata sebuah survei baru. Ya, jika karyawan di perusahaan Anda mulai kasak-kusuk menuntut adanya keseimbangan antara hidup dan kerja, maka itu pertanda bahwamanajemen gagal mengelola hal-hal lain yang lebih mendasar.

Menurut survei tersebut, karyawan hanya akan mengeluhkan soal keseimbangan itu ketika mereka merasa tidak puas dengan hal-hal lain dalam pekerjaan mereka.
Survei dilakukan atas lebih dari 300 ribu karyawan oleh Sirota Survey Intelligence (SSI) yang berpusat di AS, dan menemukan bahwa karyawan yang merasa telah memiliki keseimbangan yang cukup antara kehidupan pribadi dan pekerjaannya cenderung juga memiliki pandangan yang lebih positif terhadap hal-hal lain dalam pekerjaan mereka.

Hal-hal lain dalam pekerjaan tersebut adalah kebanggaan terhadap perusahaan, kemauan untuk merekomendasikan perusahaan tempatnya bekerja kepada orang lain, dan perasaan terikat kepada pekerjaannya.

Meragukan

Hasil jajak pendapat tersebut meragukan persepsi bahwa kebanyakan karyawan tidak puas dengan keseimbangan yang mereka miliki dalam kehidupan dan pekerjaan. Ditemukan, tiga perempat responden merasa puas dengan keseimbangan hidup dan kerja yang mereka miliki saat ini.Di antara proporsi itu, hampir 9 dari 10 mengaku puas dengan pekerjaan dan perusahaan tempat mereka bekerja; berbanding dengan 6 dari 10 pada mereka yang merasa tidak puas terhadap keseimbangan hidup dan kerja.

Sembilan dari 10 dari mereka yang puas dengan keseimbangan hidup dan kerja juga merasa bangga bekerja di perusahaan yang bersangkutan, berbanding 68% pada mereka yang tidak puas. Dan, 88% dari mereka yang puas dengan keseimbangan hidup dan kerja merekomendasikan perusahaan tempat mereka bekerja kepada orang lain, berbanding dengan hanya dua pertiga pada mereka yang merasa tidak puas/negatif.

Survei juga mendapati fakta yang menarik, bahwa jika memang terlalu banyak pekerjaan adalah isu sentral di balik tuntutan keseimbangan antara hidup dan kerja, maka memberi karyawan hanya pekerjaan yang terlalu sedikit juga sama problematiknya. Karyawan yang memiliki sedikit pekerjaan merasa kurang puas dengan pekerjaan mereka dibandingkan dengan mereka yang mengaku punya banyak pekerjaan.

“Keseimbangan hidup dan kerja hampir tak terpikir oleh karyawan yang merasa bahwa perusahaan tempat mereka bekerja sudah memenuhi harapan mereka akan perlakuan yang fair, pekerjaan yang menarik dan bermakna dan pengakuan atau penghargaan atas hasil kerja yang baik,” simpul Direktur Pengelola SSI Eropa Nick Starritt.

“Work-life balance menjadi isu yang nyata ketika karyawan merasa bahwa perusahaan tempat mereka bekerja tidak memperhitungkan mereka sebagai mitra,” tambah dia seraya mengingatkan, pada perusahaan berkinerja bagus, terdapat keyakinan dan pengakuan bahwa sukses profesional dan personal saling mempengaruhi.Starritt menyarankan agar jajaran pimpinan perusahaan memilki pandangan jangka-panjang dalam soal keseimbangan hidup dan kerja tersebut.

“Satu hal yang bisa dilakukan oleh para pemimpin adalah melatih manajer-manajer lini-pertama untuk (lebih) sensitif dan fleksibel ketika karyawan menghadapi masalah personal atau kelurga yang memerlukan perhatian mereka,” ujar dia. “Kuncinya, menyeimbangkan permintaan-permintaan perusahaan dan personal dalam budaya kemitraan dan semangat ‘sama-sama untung’.”

Tags: