Wirausahawan Wanita Terus Meningkat

Laju peningkatan jumlah wanita yang membangun usaha bisnis sendiri memperlihatkan kecenderungan yang makin tak terbendung di berbagai penjuru dunia. Namun, bersamaan dengan itu, mereka masih mempertahankan pekerjaan tetapnya.

Menurut studi yang dilakukan The Center for Women’s Leadership pada Babson College, saat ini wanita merupakan sepertiga jumlah entrepreneur di seluruh dunia. Namun, mereka memiliki pendekatan yang sangat berbeda dalam memulai usahanya, dibandingkan dengan kaum pria.

Mereka para wirausahawan wanita umumnya lebih berhati-hati lebih cenderung ingin tetap bekerja dibandingkan pria dan cenderung kurang percaya diri dibandingkan pria laki-laki dalam keyakinan bahwa usaha yang dirintisnya akan sukses.

Kendati demikian, kesenjangan kewirausahaan antara dua jenis kelamin tersebut kini sedang mengecil, terutama demikian temuan dari studi Babson di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Laporan hasil studi atas aktivitas kewirausahaan di 40 negara tersebut juga mengungkapkan bahwa negara-negara berpenghasilan rendah/sedang cenderung memiliki angka yang tinggi dalam aktivitas kewirausahaan tingkat awal kaum wanitanya. Sementara, di negara-negara kaya, angkanya tercatat paling rendah. Di negara kaya, kaum pria yang memulai atau telah mantap berbisnis hampir dua kali lebih banyak ketimbang wanita.

Wanita di negara berpenghasilan rendah/sedang seperti Rusia (39,3%) dan Filipina (22,5%) memperlihatkan angka tertinggi dalam aktivitas kewirausahaan tingkat awal. Sedangkan, di negara kaya misalnya Belgia (1%) dan Swedia (2,3%) angkanya terendah.

Tetap Bekerja

Merangkap bekerja merupakan faktor penting dalam pembicaraan mengenai kaum wanita yang memulai bisnis sendiri. Secara global, aktivitas kewirausahaan tertinggi dilakukan oleh wanita yang juga bekerja, baik tetap maupun paroh-waktu. Diduga, dengan tetap bekerja, kaum perempuan jadi memiliki akses ke sumber-sumber daya, modal sosial dan ide-ide yang bisa membantu mereka memantapkan usaha bisnis yang mereka rintis.

Bagi kalangan yang berpendidikan minim atau rendah, pengalaman bekerja di perusahaan bisa menjadi platform yang berguna untuk memulai bisnis sendiri. Yang jelas, “Kewirausahaan tingkat awal pada wanita terus berkembang,” kata Elaine Allen, profesor pada Babson yang memimpin riset tersebut.

“Di tengah kondisi umum ketertinggalan wanita di belakang pri dalam berbisnis, untuk pertama kalinya kita melihat keseimbangan atau tingkat yang lebih tinggi pada wanita di sejumlah negara berpenghasilan rendah hingga sedang,” tambah dia.

Lebih jauh riset menemukan, pada negara berpenghasilan rendah dan sedang, wanita yang memulai usaha bisnis terentang antara usia 25 hingga 34 tahun dan berbisnis secara mantap pada usia 35 hingga 44 tahun. Hanya beda tipis pada negara kaya, yakni 25-44 (tingkat awal) dan 35-54 (mantap).

Tags: