Turnover Bisa Diantisipasi sejak Rekrutmen

Bagi kalangan profesional, praktisi maupun pimpinan HR, salah satu harapan yang muncul sebagai peringkat satu dalam daftar resolusi tahun baru mungkin mengurangi angka turnover karyawan pada 2008. Bagaimana kalau ternyata tetap masih tinggi?
Dari tahun ke tahun, isu turnover memang selalu menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi orang HR.

Banyak perusahaan yang mengambil langkah-langkah untuk mempertahankan karyawan setelah mereka di-hire. Namum, hanya sedikit yang melakukan usaha yang sama untuk fokus dalam meng-hire orang yang tepat sejak awal, yakni orang yang kecil kecenderungannya untuk keluar.

Menurut psikolog organisasi Ryan Zimmerman, yang juga seorang profesor manajemen pada Texas A&M’s Mays Business School, AS mendeteksi kecenderungan orang apakah dia tipe karyawan yang suka pindah-pindah sebelum mereka di-hire adalah upaya yang cerdik untuk menekan tingkat turnover.

“Ada sebuah survei yang memperlihatkan orang-orang tertentu lebih cenderung memiliki kebiasaan keluar dari perusahaan, dan ada yang cenderung untuk bertahan pada satu pekerjaan,” ujar dia. Untuk lebih bisa memahami mengapa orang keluar dari perusahaan, Zimmerman melihat turnover dan hubungannya dengan kepribadian individu.

penelitian terbaru yang dilakukannya, yang akan diterbitkan pada edisi mendatang Jurnal Personnel Psychology, dia menyoroti 3 karakter utama yang bisa digunakan untuk memprediksikan setiap individu. Yakni, keramahan, ketelitian (kesungguhan) dan stabilitas emosional.

Dalam analis Zimmerman, orang yang lebih ramah (agreeable) kecil kencederungannya untuk meninggalkan perusahaan. Sedangkan, orang yang teliti (conscientious) biasanya memiliki etika (semangat) kerja yang tinggi dan lebih dapat dipercaya serta diandalkan. Dengan kata lain, dia menyebut ketelitian/kesungguhan sebagai ciri dari “committed employee”.

“Dengan memfokuskan pada meng-hire individu-individu yang memiliki sifat-sifat seperti itu, organisasi bisa menekan angka turnover,” tegas Zimmerman seraya menyimpulkan, organisasi bisa menghindari turnover sejak sebelum karyawan di-hire dengan cara melihat sifat-sifat personal mereka.

“Dengan meng-assess kepribadian calon karyawan, Anda bisa mendapatkan orang yang kecenderungannya untuk keluar dari perusahaan kecil,” tambah dia. Zimmerman juga menambahkan, faktor-faktor organisasional juga memegang peranan penting dalam menentukan turnover, terutama kepuasan kerja dan kompleksitas pekerjaan.

Tags: