Tuntutan agar HR Lebih Strategis Makin Mendesak

Meskipun isu-isu manusia dewasa ini telah mendominasi dunia bisnis secara global, namun hanya sedikit kalangan pimpinan bisnis yang berpikir bahwa tim HR mereka berada di barisan depan dalam menghadapi tantangan-tantangan strategis.

Riset global yang dilakukan Deloitte Touche Tohmatsu mengungkapkan adanya peningkatan ketegangan antara kebutuhan organisasi dan kemampuan HR (untuk memenuhinya), sementara perusahaan terus berupaya membangun kemitraan efektif antara bisnis dan HR untuk menangangi tantangan-tantangan utama.

Simak hasil studi tersebut: lebih dari 9 dari 10 eksekutif melihat faktor orang “vital untuk semua aspek kinerja organisasional”; kurang dari seperempat (23%) percaya bahwa HR bisa memainkan peran krusial dalam formulasi strategi dan sukses operasional.

Dan: separo dari perusahaan yang disurvei (52%) tidak mempunyai pimpinan HR atau eksekutif yang setara dengan itu untuk isu-isu manusia, dengan hanya dua pertiga (68%) berharap memilikinya dalam 3-5 tahun ke depan.

Lebih Jauh

Menyoroti lebih jauh rendahnya penghargaan terhadap departemen HR, hampir 3% partisipan melukiskan organisasi mereka sebagai “berkelas dunia” dalam mengelola orang dan HR. Sementara, hampir separo (46%) mengatakan bahwa kemampuan-kemampuan mereka hanya cukup dan perlu peningkatan.

“Ada paradoks yang membingungkan bahwa HR tidak dilihat untuk kemitraan dalam agenda manusia,” teliti principal Deloitte Consulting Jeff Schwartz yang juga mitra-direktur penelitian tersebut.

“Banyak pucuk pimpinan perusahaan percaya departemen HR miskin insight bisnis untuk menggerakkan inisiatif-inisiatif stategis seputar isu-isu yang berada di puncak prioritas seperti kepemimpinan, manajemen talent, menciptakan budaya kinerja-tinggi serta pelatihan dan pengembangan.”

Sebaliknya, tambah dia, departemen-departemen HR masih lebih banyak memainkan peran tradisionalnya sebagai pengendali administrasi, bergelut dengan (pembuatan) kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur ketimbang pemikiran strategis.

“Sambil setuju dengan prioritas-prioritas tersebut, kalangan eksekutif HR terus memfokuskan diri mereka pada peran dasar meningkatkan efisiensi operasi HR dan membangun struktur-struktur HR yang mendukung pertumbungan perusahaan sebuah fungsi yang bagi puncuk pimpinan dianggap take for granted.”

Akibatnya, lanjut dia, managemen senior sering “menolak” HR bahkan ketika isu-isu vital muncul. Sebagai contoh, hampir dua pertiga eksekutif (63%) mengatakan bahwa mereka jarang atau tidak pernah mendiskusikan soal merger atau akuisisi dengan tim HR senior mereka.

Menyadari Tantangan

Bagaimana pun, HR menyadari munculnya tantangan untuk lebih strategis, di mana HR perlu mengurangi transaksi-transaksi administratif mereka dan aktivitas-aktivitas non-strategis.

Sebagai hasilnya, baik para eksekutif senior maupun profesional HR setuju bahwa peran HR akan berubah, setidaknya dalam 3-5 tahun ke depan, dengan lebih dari 9 dari 10 berharap HR diterima sebagai fungsi strategis dan penambah nilai, bukan hanya cost center.

“Organisasi-organisasi HR secara global menyadari, mereka punya kesempatan untuk memainkan peran lebih strategis, namun pertanyaannya: sudahkah HR diletakkan dalam perubahan demografi global, kebutuhan akan data karyawan yang akurat dan kemampuan strategis untuk menangani prioritas-prioritas pimpinan bisnis?” ujar partner Deloitte di London Brett Walsh, yang juga mitra-direktur studi tersebut.

“Peran yang akan dimainkan oleh bisnis dan pimpinan HR berkaitan dengan isu-isu strategis manusia masih akan terus berlanjut,” simpul dia. “Bagaimana pimpinan bisnis melakukan pendekatan terhadap tantangan dan bagaimana respon-respon HR akan menentukan siapa mengambil kepemimpinan dalam mengelola People Strategy dan operasi-operasi HR demi masa depan yang lebih memprioritaskan manusia.”

Tags: