Tunjangan Pensiun dan Kesehatan bagi SDM Lanjut Usia Perlu Dibenahi

Apakah perusahaan Anda sudah menerapkan program tunjangan pensiun dan kesehatan yang layak bagi SDM yang telah berusia lanjut? Tiga dari empat perusahaan di Indonesia ternyata masih merasa perlu untuk membenahi pemberian benefit atas dua hal tersebut kepada karyawan dalam 5 hingga 10 tahun mendatang. Itulah salah satu temuan penting dari penelitian yang dilakukan oleh Watson Wyatt Indonesia. Hasil survei bertajuk “Ageing Workforce 2006” itu dipresentasikan dalam sebuah konferensi pers di Hotel J.W Marriot, Jakarta, Senin (11/9/06) pukul 14.00 WIB.

“Enampuluh empat persen perusahaan di Indonesia percaya bahwa perubahan demografis karena meningkatnya populasi SDM yang menua akan berdampak serius terhadap sektor ekonomi dan masyarakat,” kata Managing Consultant PT Watson Wyatt Indonesia Lilis Halim. Oleh karenanya, tak mengherankan bila dari penelitian tersebut diperoleh data, 81% perusahaan percaya bahwa karyawannya akan memberi apresiasi yang tinggi bila perusahaan memberi tunjangan pensiun. Kenyataan di lapangan sejauh ini, menurut praktisi SDM spesialis bidang Kompensasi dan Benefit itu, hanya 10 persen pekerja Indonesia yang mendapatkan tunjangan pensiun.

Survei “Ageing Workforce 2006” yang dilakukan Watson Wyatt Indonesia merupakan bagian dari kegiatan yang sama yang dilakukan perusahaan konsultan SDM dan keuangan internasional itu tentang populasi SDM yang menua di 11 negara besar di Asia Pasifik. Selain di Indonesia, penelitian juga dilakukana antara lain di Australia, China, India dan Malaysia. “Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pandangan perusahaan terhadap manfaat tunjangan pensiun dan kesehatan untuk menarik dan mempertahankan karyawan yang berprestasi,” ujar Lilis.

Kemajuan teknologi telah memperpanjang usia hidup manusia, sementara banyak perusahaan dan karyawan yang belum siap menghadapi masa pensiun itu. Lilis mengingatkan, populasi yang menua akan menjadi faktor penting yang mempengaruhi pola rekrutmen karyawan, di samping mamunculkan masalah biaya kesehatan dan pensiun yang harus ditanggung perusahaan dan karyawan sendiri. Menurut data statistik tahun 2005, populasi SDM di Indonesia yang berusia 50 ke atas mencapai 16 persen dari jumlah penduduk. Untuk itu, demikian Lilis, penelitian menengenai tunjangan pensiun dan kesehatan bagi SDM usia lanjut dirasa sangat penting agar hasilnya bisa menjadi referensi bagi para pengambil kebijakan di perusahaan-perusahaan.

Watson Wyatt Indonesia melibatkan 201 perusahaan dalam survei yang digelar pada Desember 2005 hingga Juni 2006 ini, yang terdiri atas perusahaan multinasional (26%) dam perusahaan domestik (74%). Sebagian besar dari mereka merupakan PT (80%), sisanya perusahaan terbuka (6%) dan milik perorangan (5%) dengan dominasi pada perusahaan manufaktur (34%) serta perdagangan grosir dan ritel (17%). Sisanya terdiri dari beragam perusahaan, dari bidang keuangan, LSM hingga media massa/komunikasi serta hiburan. “Secara umum, dari hasil peneltian ini kita bisa melihat indikasi bahwa sebagian besar perusahaan dan pemerintah di Asia Pasifik akan menghadapi kenaikan beban SDM yang signifikan karena lebih dari 70 persen pekerja kini berharap perusahaan menanggung biaya kesehatan dan pensiun mereka, kata Lilis.

Untuk mengantisipasi dan mengatasinya, menurut Lilis, perusahaan perlu membuat skema pensiun sejak dini dengan membagi beban biaya antara perusahaan dan karyawan. “Hal ini tidak hanya akan memberi jaminan hari tua bagi karyawan, tapi juga akan menjadi daya tarik suatu perusahaan untuk mempertahankan tenaga berpotensi tinggi agar tetap bekerja di situ,” tambah Lilis. Selain membuat skema pensiun sejak dini, Lilis menyarankan agar perusahaan meningkatkan training bagi SDM usia lanjut agar yang bersangkutan bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan tetap produktif sehingga masih bisa menguntungkan perusahaan.

Tags: ,