-Tujuh dari 10 Profesional HR Tolak Manajemen Talent Berbasis Internet

 

Semaju apapun zaman dan teknologi, selalu ada yang tak tergantikan. Para profesional HR sampai hari ini masih tergantung pada inisiatif-inisiatif berbasis-kertas meskipun kesadaran pada perangkat berbasis internet juga tinggi.

Sebuah penelitian baru menemukan, tujuh dari 10 profesional HR menolak alat-alat manajemen talent berbasis internet, dan lebih memilih “kembali” pada kertas untuk kerja-kerja HR mereka.

Namun, pada sisi lain, survei yang dilakukan oleh perusahaan jasa solusi e-HR Qikker Solutions itu juga mendapati bahwa tingkat melek profesional HR pada perangkat-perangkat internet-based talent management cukup tinggi.

Tiga perempat responden mengaku memiliki kesadaran pada produk baru teknologi untuk manajemen HR tersebut. Bahkan, dengan proporsi yang sama, mereka mengaku telah menganggarkan dana untuk e-HR.

Survei melibatkan 52 orang direktur dan manajer HR, dan menemukan bahwa biaya menjadi faktor penghambat terbesar dalam usaha mengimplementasikan e-HR (disebut oleh separo responden).

Sementara, hampir 4 dari 10 mengatakan tidak memiliki rintangan apapun untuk mengimplementasikannya, dan 26% beralasan tidak memiliki cukup banyak waktu untuk riset mengenai perangkat apa yang tersedia.

Secara umum, survei tersebut menyimpulkan bahwa (akses dan penguasaan) teknologi bukanlah kendala untuk mengadopsi e-HR, sebab 87% responden memiliki supportive relationship dengan IT.

Direktur Pengelola Qikker Solution Mark Barlow mengungkapkan, “Meskipun 39% mengatakan tidak memiliki kendala dalam implementasi, tapi masih sangat minim kesadaran komunitas HR akan adanya kesempatan untuk beralih dari cara tradisional.”

Direktur HR Geopost, sebuah perusahaan jasa pos, Michael Doolin menambahkan, “Komunitas HR telah gagal merangkul dan memanfaatkan produk-produk baru teknologi. Artinya, (orang-orang di) sektor (HR) ini penuh curiga, takut dan tidak terlalu percaya diri.”

 

Tags: