Tingkat Kepuasaan Kerja Orang HR Tertinggi

Siapa bilang berkarir di bidang HR membosankan? Sebuah survei baru menemukan bahwa para profesional di departemen HR merupakan kalangan yang paling puas dengan pekerjaa mereka.

Di tengah persaingan tinggi antarperusahaan dalam memperebutkan top talent, sebuah survei di Amerika menghasilkan temuan yang mengejutkan: hampir separo kalangan eksekutif mengaku tidak bahagia dengan pekerjaan mereka.

Studi yang dilakukan oleh ExecuNet tersebut menyimpulkan bahwa tingkat kepuasaan kerja di kalangan top manager berada dalam kondisi “dangerously low”. Banyak perusahaan tak mampu menjaga keutuhan tim manajemen mereka.

Jajak pendapat melibatkan 2.149 orang eksekutif bergaji rata-rata 221 ribu dolar AS, dan menemukan bahwa hampir separo dari mereka 48% mengaku tidak puas atau “merasakan sesuatu yang mirip perasaan tidak puas” dengan pekerjaan mereka saat ini.

Paling Puas

Lebih jauh survei mendapati bahwa para profesional HR termasuk kalangan yang paling puas dengan pekerjaan mereka (lebih dari dua pertiga), disusul kemudian chief finance officer atau comptroller (63%).

Namun, tingkat kepuasaan menurun pada mereka yang menjabat sebagai general manager (47%). Para profesional bidang marketing&sales serta para manajer IT tercatat sebagai kelompok yang paling tidak berbahagia dengan pekerjaan mereka.

“Pasar tenaga kerja yang sangat ketat membuat banyak perusahaan fokus pada manajemen talent dan itu berperan dalam membentuk masa depan perusahaan,” ujar Kepala Eksekutif ExecuNet Dave Opton.

Menurut Opton, selain memberikan tantangan-tantangan baru, tren mengenai kepuasan kerja mendorong para eksekutif HR untuk meningkatkan akses terhadap sumber-sumber daya dan memungkinkan mereka memiliki suara yang lebih keras dalam organisasi.

Pada gilirannya, hal itu meningkatkan kepuasan kerja bagi profesional bidang HR tersebut.

Terbatas

Terbatasnya kesempatan-kesempatan untuk maju dan minimnya tantangan atau pertumbuhan personal merupakan alasan utama mengapa para eksekutif tersebut tidak bahagia dengan pekerjaan mereka sekarang.

Alasan lain yang banyak disebut adalah perbedaan-perbedaan dengan budaya dan ketidakcocokan dengan bos, serta kompensasi yang tidak memadai.

“Jadi, kompensasi memang masih menjadi isu utama di samping tentu saja banyak isu-isu lain yang muncul berkaitan dengan masalah retensi,” Opton menggarisbawahi temuan surveinya.

“Agar efektif (usaha retensi tersebut), inisiatif-inisiatif yang didesain untuk menekan angka turnover pada level ini harus mengarah pada upaya memacu pengembangan para eksekutif,” saran dia.

Tags: