Tiga Tantangan Manajemen SDM di Asia

Asia sebagai kawasan dengan penduduk terpadat di dunia saat ini tengah mengalami keterbatasan dalam pasar tenaga kerja, khususnya ketersediaan tenaga profesional ahli dan talenta. Terbatasnya talenta tenaga kerja yang ahli mengakibatkan krisis kepempinan di banyak organisasi yang menghambat pertumbuhan. Demikian salah satu butir hasil kajian Hewitt Associates yang dilakukan atas 80 perusahaan terkemuka dan praktisi senior manajemen SDM di Cina, India dan Singapura yang diumukan di Singapura, Agustus 2008.

Problem keterbatasan tenaga kerja terampil atau disebut paradoks kapasitas merupakan satu dari tiga tantangan utama yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan di Asia dewasa ini. Kajian Hewitt mengidentifikasi, dua tantangan lainnya adalah pergeseran norma dan budaya, dan perubahan kontrak ketenagakerjaan. “Saat ini kawasan Asia sedang mengalami masalah serius,” ujar Global Leader untuk Konsultansi Ketenagakerjaan dan Oganisasi pada Hewitt Associates Andrew Bell. “Selain terbatasnya talent, pada saat yang sama perusahaan-perusahaan dihadapkan pada pergeseran norma dan budaya yang mempengaruhi tata nilai tenaga kerja.”

Ditunjukkan, perubahan tersebut terlihat dengan semakin individualistisnya tenaga kerja Asia. “Pada masa lalu, pegawai bekerja seumur hidup di sebuah perusahan. Tapi, saat ini tenaga kerja semakin sering berpindah kerja dan mencari kesempatan kerja yang lebih baik,” Bell memberi contoh.

Perubahan Kontrak

Lebih jauh Andrew Bell memaparkan, dewasa ini terjadi penekanan yang lebih tinggi terhadap kinerja dan orientasi terhadap pelanggan. Akibatnya, mau tidak mau, perusahaan harus memberikan karyawan kebebasan, motivasi, keberdayaan dan tantangan yang lebih tinggi dalam pekerjaan. “Itu wajib dilakukan jika perusahaan-perusahaan ingin menarik, memotivasi dan mempertahankan tenaga-tenaga kerja terbaiknya,” tambah dia.

Global Head untuk Konsultansi Kepemimpinan pada Hewitt Associates Indraneel Roy mengatakan, pertumbuhan ekonomi internasional merupakan daya pemicu bisnis di kawasan Asia. “Kawasan ini telah mendapat aliran dana investasi (dari Barat) selama 10-12 tahun terakhir. Saat ini, perusahaan-perusahaan Asia lebih agresif dan berani.”
“Perusahaan-perusahaan di Asia berusaha untuk tumbuh dengan cepat dan besar. Dengan ambisi seperti ini, perusahaan harus memiliki agenda manajemen SDM yang agresif dan mencakup seluruh program tenaga kerja, serta meningkatkan profesionalisme fungsi departemen SDM mereka,” tandas Roy.

Kajian Hewitt Associates ini merupakan penugasan dari Departemen Tenaga Kerja Singapura. Menurut siaran pers yang diterima redaksi PortalHR.com, keseluruhan hasil kajian akan dipaparkan dan dijadikan bahan diskusi pada perhelatan perdana “Singapore Human Capital Summit (SHCS)” yang bertema “Strategi Sumber Daya Manusia untuk Asia”, dijadwalkan digelar di Singapura, 22 – 24 Oktober 2008 mendatang. Diharapkan, SHCS akan menjadi pertemuan tingkat tinggi sumber daya manusia pertama di Asia, yang akan mempertemukan pimpinan industri dan pemikir terkemuka global maupun regional, serta pemimpin pemerintahan di Asia untuk saling bertukar pandangan mengenai ide-ide dan praktik-praktik manajemen SDM.

Tags: ,