THR Jangan Malah Bikin “Geger”

Tunjangan Hari Raya (THR) hendaknya menjadi perekat kultural untuk meningkatkan keharmonisan hubungan antara pengusaha dengan karyawan yang pada akhirnya berdampak positif bagi produktivitas organisasi. Bukan sebaliknya, justru bikin “geger” antara dua pihak.

Demikian diungkapkan oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar dalam wawancara dengan Detikcom di Jakarta, Rabu (11/8/2010).

“Soal THR saya minta dijadikan momentum kebersamaan, jangan gara-gara THR geger-geger antara pekerja dengan pengusaha atau pekerja tak puas dengan jumlahnya. Jadi spiritnya kebersamaan, kalau ada perbedaan dibicarakan secara baik-baik,” papar dia.

Muhaimin meminta dinas-dinas tenaga kerja di berbagai daerah untuk proaktif mendorong, memfasilitasi dan mengawasi pelaksanaan pemberian THR. “Sejauh ini sih THR menjadi isu yang masih biasa, harmonis-harmonis saja atau kondusif,” ujar dia.

Disinggung mengenai kemungkinan dampak kenaikan Tarif Dasar Listri (TDL) terhadap pelaksanaan THR, Muhaimin mengatakan, “Tidak berdampak langsung.” Bahkan ditegaskan bahwa dengan kondisi ekonomi yang membaik, tidak akan banyak masalah berkaitan dengan THR tahun ini.

THR merupakan hak pekerja yang diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.4/1994. Namun, setiap tahun pelaksanaannya di lapangan selalu ada saja yang tak sesuai harapan para pekerja. Mulai dari masalah jumlah hingga waktu pemberiannya yang tidak sesuai ketentuan.

Ada juga perusahaan yang menangguhkan pembayaran THR dengan alasan belum mampu. Bahkan, ada perusahaan yang semata “bandel” tidak memberi THR pada karyawannya.

Kementerian Tenaga Kerja memang tidak memiliki perangkat yang bisa memberikan sanksi atas berbagai bentuk pelanggaran seputar THR. Namun, Muhaimin menegaskan, ada regulasi berupa mediasi maupun pengadilan yang bisa ditempuh seandainya terjadi perselisihan.

Sseuai ketentuan, THR diberikan kepada karyawan yang setidaknya sudah bekerja 3 bulan berturut-turut dengan periode kerja di bawah 12 bulan. Jumlah THR diberikan secara proporsional, yaitu lamanya bulan bekerja dibagi 12 bulan dikali gaji satu bulan penuh.

Sementara, bagi karyawan yang sudah bekerja di atas 12 bulan minimal THR diberikan 1 kali gaji. Muhaimin mengingatkan, hendaknya THR diberikan selambat-lambatnya tujuh hari sebelum Lebaran.

Tags: