Terancam Menganggur, Pekerja Tekstil Protes

Sekitar 5.000 pekerja tekstil berunjuk rasa di depan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Rabu (6/1/10). Mereka menuntut penundaan pelaksanaan Perjanjian Perdagangan Bebas atau FTA ASEAN-China. Pelaksanaan perjanjian per 1 Januari 2010 itu dinilai mengancam usaha dalam negeri dan memicu pemutusan hubungan kerja.
Koordinator aksi Roy Jinto Ferianto mengatakan, Indonesia belum siap melaksanakan perdagangan bebas dengan China. ”Saat belum ada kesepakatan perdagangan bebas saja sudah banyak produk mereka membanjiri pasar Indonesia. Apalagi kalau sudah ada perjanjian ini,” kata Ketua Serikat Pekerja Tekstil, Sandang, dan Kulit Jawa Barat itu.
Pasar dalam negeri yang dibanjiri produk China dengan harga lebih murah dibandingkan dengan buatan lokal, lanjut dia, akan memukul produsen dalam negeri. Banyak produsen lokal yang gulung tikar sehingga ribuan buruh di sektor manufaktur terancam diberhentikan.
”Jika perdagangan bebas dilanjutkan, nasib sekitar 2,5 juta buruh di Jawa Barat terancam di-PHK. Buruh Jabar yang kebanyakan bekerja di pabrik tekstil yang paling merasakan akibatnya,” kata Roy.
Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa barat Ade Sudradjat mengapresiasi tuntutan pekerja tersebut. Menurut dia, kekhawatiran mereka lumrah karena kondisi usaha dalam negeri memang belum sepenuhnya siap. Ade bahkan memprediksikan ada sekitar 50 pabrik tekstil di Jabar yang akan tutup jika perdagangan bebas berlanjut.
Pada 2009 ada 271 pabrik tekstil Jabar tutup karena krisis global. Sekitar 171.000 karyawan kehilangan pekerjaan. ”Akan ada sekitar 30.000 pekerja lagi yang kehilangan pekerjaan jika 50 pabrik tekstil itu benar-benar tutup,” kata dia.
Ekonom Universitas Padjadjaran Ina Primania memaparkan, FTA Asean-China secara keseluruhan menimbulkan kemungkinan rugi di tujuh sektor manufaktur, antara lain alas kaki, elektronika, tekstil, dan baja kayu.
Dari tujuh sektor itu, 29,4 persen merupakan industri tekstil dan produk tekstil (TPT). ”Industri tekstil jelas akan terpukul, baik di pasar domestik maupun luar negeri. PHK jadi pilihan terakhir bagi pengusaha. Ini tentunya kontraproduktif dengan program peningkatan serapan kerja oleh pemerintah,” ungkap dia.
Senada, pengamat ekonomi Universitas Indonesia Ninasapti Triaswati meyakini bahwa penerapan FTA Asean-China akan memukul industri manufaktur dalam negeri. Dia berpendapat bahwa pemerintah tidak siap menghadapi penerapan perjanjian itu. Padahal, saat ini produk industri manufaktur China sudah sangat luas dikonsumsi rakyat Indonesia.
"Sebelum ada FTA Asean-China saja, Indonesia sudah mengalami de-industrialisasi dan saat ini ada kekhawatiran akan makin buruknya kinerja industri manufaktur Indonesia," tandas dia.
Namun, menurut Kepala Riset Danareksa Purbaya Yudi Sadewa mengatakan, "FTA ini lebih banyak benefit-nya dibandingkan kerugiannya." Dalam hemat dia, penerapan perdagangan bebas ASEAN-China berpotensi mendorong pertumbuhan ekspor Indonesia hingga 50% dalam 3-4 tahun mendatang.