Teknik Assesssment Harus Memunculkan Perilaku Nyata

Salah satu ciri khas assessment center adalah penggunaan teknik simulasi untuk menggali perilaku yang diharapkan muncul dari kandidat, sesuai dengan kompetensi yang dicari. Jika tidak, maka itu bukanlah assessment center.

Demikian ditegaskan oleh Direktur Pemasaran Gaia Solution Djuni Utari Hilman dalam acara pra Kongres Nasional II Assessment Center Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (24/7/07).

Djuni mengungkapkan, assessment centerkarena mengandung kata ‘center’  masih sering disalahpahami sebagai sesuatu yang merujuk pada lokasi fisik atau gedung atau tempat tertentu. “Padahal, assessment center itu mensyaratkan dipenuhinya kriteria-kriteria,” ujar dia.

Djuni lalu mendefisinikan, assessment center sebagai evaluasi perilaku menggunakan suatu standar tertentu berdasarkan beberapa masukan. “Nah, masukan itu diperolah dengan berbagai teknik dan observasi yang dilakukan oleh beberapa orang assessor yang terlatih.”

Anggota Gugus Tugas Etika Pelaksanaan Assessment Center Indonesia tersebut menekankan soal beberapa teknik dan beberapa assessor tersebut sebagai sesuatu yang mutlak dalam pelaksanaan evaluasi tersebut.

“Jadi kalau hanya menggunakan satu teknik saja, misalnya wawancara saja meskipun dilakukan beberapa kali, atau seorang kandidat hanya berhadapan dengan satu orang assessor saja, maka itu bukan assessment center,” tandas Djuni.

Kongres II Assessment Center Indonesia berlangsung pada Rabu dan Kamis (25-26/7/07).

Metode assessment center populer di Indonesia setelah penggunaannya dipelopori oleh PT Telkom pada 1988. Metode ini muncul karena adanya desakan kebutuhan dari pihak-pihak pemerintah, BUMN, organisasi dan perusahaan swasta untuk meningkatkan kualitas SDM mereka.

Sebagai sebuah metode, assessment center telah meluas penggunaannya dari rekrutmen, seleksi, diagnosa untuk tujuan-tujuan pengembangan karyawan, mengevaluasi potensi dan kompetensi individu, perencanaan suksesi hingga kombinasi dari hal-hal tersebut.

Tags: