Tekan Tombol Yang Tepat, Buka Potensi Generasi Digital

alex HR gathering

“Jadi saya dapat apa jika bekerja di perusahaan ibu?” Pertanyaan itu dilontarkan secara lugas oleh seorang kandidat kepada perekrutnya. Bila umumnya proses interview bertujuan untuk menjelaskan prosedur kerja yang akan dilaksanakan pelamar, namun kini sebaliknya generasi ini cenderung menuntut hak nya terlebih dulu di awal wawancara.

Pengalaman itu diceritakan langsung oleh Vera Tanamiharja selaku VP HRD Citibank Indonesia pada acara HR Gathering yang diadakan Career Development Center Prasetya Mulya Business School kemarin. “Bagaimana saya tidak keheranan, generasi ini menanya balik sebelum saya menerangkan apa kerjaan mereka,” ujar Vera.

Hadirnya generasi Y dan generasi digital di lingkungan kerja membuat para praktisi HR ketar-ketir. Karakter mereka condong berbeda dibanding staff-staff lain yang sudah lama bekerja. “Ya mungkin kita bisa memanggil mereka dengan sebutan generasi digital, dan tidak bisa disalahkan pengalaman hidup mereka yang membentuk generasi tersebut menjadi seperti itu,” ujar Vera.

Menurut Vera yang harus dilakukan adalah memahami karakternya dan mengembangkan potensial besar yang ada pada diri mereka. “HR is about talent management, what we do to develop staff to their highest potentials,” ujarnya.

Untuk itu kita mesti mempersiapkan manajemen talent tersebut dari berbagai lintas generasi. “Bila tipe boomers lebih menekankan kepada value dan need sementara generasi X dan Y lebih kepada kreativitas,” tambah Vera. Generasi X diakui Vera sudah tidak terlalu patuh terhadap peraturan yang baku, mereka menjalankan tugasnya dengan cara mereka sendiri. Sementara generasi Y semakin unik, mereka merasa kecerdasan dan semangat tim mereka tidak tertandingi.

Otomatis cara memotivasi lintas generasi ini berbeda-beda. Menurut Vera generasi boomers akan merasa pekerjaannya sudah dilaksanakan dengan baik jika tidak ada respon dari atasannya. Sementara generasi di bawahnya meminta feedback setelah tugas diselesaikan. “Kalau dengan generasi X mereka diucapkan terima kasih saja sudah cukup namun generasi digital harus dibilang ‘kamu paling top’ baru mereka suka. Mereka merasa selalu tidak puas bila belum diberikan respon dari atasannya,” ujar Vera.

Keunikan generasi Y tersebut tidak membuat Citibank urung mempekerjakan mereka, malah mayoritas karyawan Citibank diisi oleh generasi muda. “Separuh dari Citibank di Indonesia adalah Gen Y, banyak posisi penting yang sudah diisi oleh mereka. Karena di Citibank sendiri lebih kepada kompetensi, bukan berdasarkan siapa yang lebih lama, tetapi siapa yang paling berkontribusi,” ujar Vera.

The Power of Why is The First Point of Attracting Talents

Nasehat untuk memahami Gen Y kerap terdengar di telinga praktisi HR. Namun apakah dengan hanya memahami, maka mereka akan bisa ditaklukkan. “Jangan terus menuruti mereka, generasi ini juga harus diberi arahan agar tidak semau mereka saja,” ujar Alexander Sriewijono selaku Founder Daily Meaning Indonesia masih di acara HR Gathering yang diadakan di gedung CIMB Niaga.

“Generasi Y ini memang pintar tetapi juga mereka harus punya critical thinking of digital generation,” ujar Alex. Di mana sebagai praktisi HR maupun Employer mampu mempersiapkan mereka untuk menjadi leader yang baik. Untuk itu Alex menamakan fenomena generasi ini sebagai Co-Creating Experience.

“Jadi bukan hanya fokus terhadap digital generationnya, tetapi apakah leader mereka bisa memberikan instruksi sekaligus meng-empower mereka,” ujarnya. Sosok leader menjadi penting untuk membantu mereka menemukan potensi terbaik mereka.

Karena pada dasarnya karakter mereka yang dominan akan bisa dimanfaatkan selama arahannya benar. Oleh sebab itu Alex biasanya memulai me-retain Gen-Y dengan mempertanyakan dulu apa saja yang ada di kepala mereka.

“Tanyakan kepada mereka apa yang bisa Anda berikan kepada perusahaan ini dalam 2 tahun ke depan, bilang bahwa “keren” nya Anda bukan berdasarkan secanggih apa dunia pada saat Anda lahir namun apa yang bisa Anda buktikan kepada kami,” pancing Alex. Ia meneruskan Generasi ini tidak dengan mudah mengikuti apa yang disuruh, untuk itu sebagai leader kita harus mampu mengorek apa kemauan mereka.

Dengan the power of why maka karakter Gen-Y akan lebih kuat dan lebih mudah untuk dibentuk. Alex menyampaikan generasi ini mempunyai kelemahan yaitu pada intelectual humility. “Co-creating Experience tidak lepas dari intelectual humility yaitu tahu apa yang kita tahu dan belum tahu,” ujar Alex.

Susahnya menggiring mereka bisa dengan menyiasati prosedur kerja menjadi game. “Saya biasanya membuat game, menjadikan mereka sebagai seorang player. Dan hal itu disukai mereka karena generasi ini terbiasa dengan kompetisi dan skor-skor permainan,” ujar Alex.

Jika potensi mereka telah terbentuk maka bagian selanjutnya adalah menciptakan value. Bagaimana leader bisa menciptakan value dari mereka sementara sifat cuek dan acuh sering dikaitkan erat dengan generasi ini. “Push the right button, kita harus mengetahui apa yang bisa membuat mereka sadar. Leader harus bisa berbicara sampai ke level heart mereka,” ujar Alex.

Berkaitan dengan value Alex membuat 3 komponen untuk me-manage talent, yaitu hardware, software dan user interface. “Kalau generasi ini sering membanggakan almamater dan GPA-nya, itu baru di tataran hardware dan software, namun apakah dengan skill itu mereka bisa bermanfaat untuk orang lain. Tanya ke mereka nilai apa yang mereka bisa tinggalkan jika mereka telah keluar. Jika kita berhasil memahami mereka maka dengan mudah kita bisa menjadi partner mereka,” tutup Alex. (*/@nurulmelisa)

Tags: , , ,