Talented People Tak Sekedar Skill, Tapi Karakter

Banyak perusahaan datang ke headhunter untuk mencari orang yang berkualitas. Namun, umumnya mereka hanya berhenti pada pencarian skill dan tidak memperhatikan katakter.
“Memang tidak mudah mencari eksekutif yang bagus, tapi juga belum tentu susah. Banyak sekali talented people di Indonesia, tapi ketika perusahaan mencari orang biasanya hanya stop pada skill dan education.”

Demikian diungkapkan oleh salah seorang Partner pada perusahaan executive search Amrop Hever Rene Suhardono Canoneo dalam perbincangan dengan PortalHR.com di kantornya di Citibank Tower, Bapindo Plaza, Jakarta. “Sekarang banyak perusahaan mencari orang bergelar master. Tapi, apakah seorang master otomatis bisa menyelesaikan masalah? Perusahaan hanya mau cari aman,” ujar Rene.

Menurut Rene, kebutuhan perusahaan untuk mencari eksekutif melalui jasa headhunter saat ini cukup tinggi. “Banyak yang menelepon, tapi banyak yang kaget setelah tahu fee kita,” ungkap dia. Namun, Rene menolak untuk bicara angka. “Termasuk mahal, tapi kita memberikan garansi satu tahun. Kalau perusahaan yang menjadi klien kita ternyata di kemudian hari merasa tidak cocok dengan kandidat yang kita ajukan, kita akan carikan gantinya,” papar Rene seraya buru-buru menambahkan, hal itu jarang sekali terjadi.

Lebih jauh Rene melihat, bisnis executive search pada 2008 akan semakin berkembang karena perusahaan semakin menyadari manfaatnya. “Dulu (yang memakai jasa headhunter) kebanyakan perusahaan swasta itu pun asing, tapi belakangan lembaga pemerintah pun menggunakan jasa kita.”Rene setuju jika maraknya bisnis headhunter menunjukkan bahwa sistem sukses di perusahaan banyak yang gagal. Tapi, bagaimana pun, dalam hemat dia, sesempurna apapun sebuah sistem susksesi, perusahaan tetap tak akan mampu meng-cover 100% aspirasi individu yang ada.

Ia menyebut contoh, bahkan perusahaan yang mendekati sempurna seperti Unilever pun tetap kehilangan orang-orang terbaiknya. “Bagi saya, itu masukan yang baik bagi perusahaan untuk senantiasa meningkatkan program-program retensi mereka.”Di samping itu, Rene juga melihat bahwa konsep loyalitas sudah berubah, di mana loyalitas individu pada profesi melebihi loyalitas terhadap perusahaan.

“Artinya, kalau memang pekerjaan dia sudah selesai, tantangan sudah tidak ada, ngapain tetap di situ, tak akan memberi kontribusi maksimal.”“Selalu ada perusahaan yang membutuhkan tenaga dan pikiran seseorang, di saat orang tersebut di perusahaan lain mungkin sudah selesai. Celah itu yang saya manfaatkan sebagai headhunter,” tambah Rene.

Tags: