Tahun 2007, Tantangan HR di Indonesia Makin Berat

Memasuki tahun 2007, tantangan yang dihadapi dunia HR di Indonesia semakin berat. Survei yang dilakukan Watson Wyatt Indonesia pada penghujung 2006 menyimpulkan, tantangan utamanya antara lain semakin sulitnya mendapatkan karyawan dengan skill yang diperlukan, turn over yang tinggi, dan peraturan-peraturan baru yang dianggap lebih memihak pada karyawan.

Kesimpulan hasil temuan survei itu diungkapkan oleh Managing Director Watson Wyatt Lilis Halim pada acara HR Sector Group Meeting yang diadakan British Chamber of Commerce in Indonesia (BritCham) di Mercantile Club, Jakarta, pekan lalu. Acara yang secara rutin diselenggarakan BritCham itu, kali ini disponsori oleh perusahaan konsultan HR Opus Management.

“Indonesia adalah negara dengan penduduk terbesar di ASEAN, dengan tingkat angka pengangguran mencapai 15% pada 2006. HR di Indonesia menghadapi tantangan-tantangan khusus yang berbeda dengan negara-negara lain,” ungkap Lilis Halim.
Dalam amatan Lilis, di Indonesia, personel di tingkat manajemen dengan skill tinggi sangat jarang. Pada sisi lain, para manajer itu sendiri sangat menyadari kebutuhan akan keterampilan mereka, sehingga cenderung memasang harga yang tinggi.

Sebagian perusahaan mengatasi kekurangan itu dengan mempekerjakan staff expatriate, sebagian lagi mengatasinya dengan memberikan training in-house atau on-the-job kepada karyawan yang ada.

“Contohnya di industri perbankan. Mereka saling bersaing dalam merebut staf yang kompeten. Kadang-kadang mereka menggunakan strategi bajak-membajak. Membajak karyawan sering dijadikan solusi tercepat dan termudah untuk mengisi kekosongan staf yang profesional,” tambah Lilis, seraya membedakannya dengan industri minyak dan gas yang selain bersaing di dalam negeri, juga harus menghadapi perusahaan-perusahaan kompetitor di Asia dan bahkan Timur Tengah.

Perang Talent

Survei Watson Wyatt juga menemukan posisi-posisi yang paling sulit mendapatkan talent sehingga menyebabkan perang di antara perusahaan-perusahaan dalam satu industri.
“Di industri perbankan posisi dengan turn over tertinggi adalah Relationship Manager for SME Banking, Treasury (Dealer), posisi yang berhubungan dengan syariah banking, dan credit card,” ujar Lilis Halim.

Posisi yang sulit mendapatkan talent di bidang minyak dan gas adalah geologis, insinyur perminyakan, dan insinyur fasilitas. Sedangkan di industri consumer products posisi dengan turn over tinggi adalah sales dan manajer produk.

Peraturan Baru

Selain kedua masalah di atas, adanya peraturan ketenagakerjaan yang baru juga menjadi tantangan utama dunia HR. Lilis Halim menyebut misalnya aturan mengenai pensiun yang lebih memihak kepada benefit karyawan dan undang-undang perpajakan yang baru.

Lilis menjelaskan, undang-undang No.13/2003 menetapkan kewajiban memberikan benefit total yang signifikan untuk pensiun, PHK, kematian dan kecacatan. Tapi, tidak untuk karyawan yang berhenti dengan sukarela atau pensiun dini. Jumlah benefit dibayarkan berdasarkan masa kerja kerja dan alasan meninggalkan pekerjaan. “Banyak perusahaan sudah memasukkan pengeluaran untuk pembayaran pesangon ini ke dalam perhitungan akuntansi mereka,” ungkap Lilis.

Sedangkan, mengenai aturan perpajakan yang baru, pada Januari 2006 ditetapkan perubahan jumlah pendapatan yang tidak kena pajak, dari Rp 12 juta per karyawan dan Rp 1,2 juta per tanggungan menjadi Rp 13,2 juta untuk karyawan dan Rp 1,2 juta per tanggungannya.

“Di samping itu masih banyak isu lain yang dihadapi HR di Indonesia, misalnya costkaryawan yang tinggi sementara produktivitas termasuk rendah dibanding di negara lain, kurangnya sistem dan orang-orang HR yang bagus, isu globalisasi yang semakin menuntut performance, dan mengurangi fungsi administrasi HR,” simpul Lilis.

Tags: