Survey Google: 46% Karyawan Berharap Penggunaan Social Media Meningkat

Apakah situs-situs jejaring sosial (social media) adalah pembuang waktu belaka, pengganggu pekerjaan dan hanya menghabiskan sumber daya perusahaan?

Sebagian mengkonfirmasi semua pertanyaan di atas, namun ada juga pemimpin bisnis dan para manajer yang berpendapat penggunaan social media adalah sesuatu yang mutlak dalam menjalankan bisnis di era digital ini.

Untuk menjawab kontroversi tersebut, Google melakukan sebuah penelitian bekerja sama dengan Millward Brown, perusahaan riset dan marketing yang berbasis di London. Penelitian itu melibatkan 2,700 profesional bisnis di Eropa Barat, mereka diwawancarai mengenai kebiasaan penggunaan social media mereka di tempat kerja.

Riset tersebut menemukan 32 % responden menggunakan social media setiap hari untuk kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan, sementara hampir separuh responden (46%) berharap penggunaan tools social media di tempat kerja akan meningkat.

Berhasil mengatasi initial fears

“Para pemimpin bisnis sudah melewati fase initial fears terhadap penggunaan social tools di tempat kerja dan saat ini mulai menyadari bahwa hal itu memiliki nilai strategis,” ujar Sebastien Marotte, Vice President Enterprise Google untuk Eropa, Timur Tengah dan Afrika. “Riset ini menunjukkan para manajer senior telah mengakui bahwa social tools memungkinkan SDM meruntuhkan silo-silo, membuat mereka terhubung dan saling berbagi dengan cara yang sebelumnya tidak dimungkinkan.”

Tiga per empat dari manajer senior yang disurvei mengatakan social tools telah mengubah strategi bisnis, dengan sebagian besar dari mereka mengatakan social media telah membantu meningkatkan produktivitas organisasi dan mengurangi waktu yang diperlukan untuk mencari informasi. 

Penemuan ini menekankan peran social media dalam proses sharing dan mempercepat alur informasi. 81% responden yang bekerja pada bisnis dengan pertumbuhan tinggi (10% atau lebih pada tahun 2011) menggunakan tools social media untuk mendorong ekspansi bisnis. Selain itu, social media juga menghilangkan silo dalam organisasi dan membuat suasana kolaboratif di tempat kerja. Sekitar 80% responden dari perusahaan dengan pertumbuhan tinggi melaporkan bahwa social media telah meningkatkan kolaborasi dan knowledge sharing dalam organisasi.

“Semakin banyak cara bagi perusahaan berbagi pengetahuan, maka semakin cepat perusahaan tersebut bisa berinovasi dan menjadi semakin produktif,” kata Marotte. “Secara khusus social tools ini mendorong kolaborasi dengan cara memberi kita pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana orang-orang lain bekerja.”

Beberapa komentar dalam laporan survei tersebut juga mendukung komentar Marotte. “Saya dapat berkomunikasi secara cepat dengan kolega di negara lain dan mendapatkan jawaban segera,” tulis seorang eksekutif junior di perusahaan Inggris. “Tools social media meningkatkan kontribusi dan pengembangan gagasan. Dalam kasus saya sebagai arsitek dan section manager, social media memungkinkan tim saya melontarkan gagasan dan melakukan brainstorming kapan saja dan di mana saja,” ujar seorang team leader sebuah perusahaan design di Spanyol.

Social media meningkatkan kepuasan kerja

Hasil yang mengejutkan dari riset itu adalah social media juga memiliki efek positif terhadap kepuasan kerja dan peningkatan karir. Di antara responden yang “sering” (setidaknya sekali seminggu) menggunakan social media untuk pekerjaan mereka, 86% melaporkan mereka baru saja mendapatkan promosi belum lama ini dan 72% mengatakan mereka kemungkinan akan dipromosikan, dibandingkan dengan 62% dan 39% secara berturut-turut untuk responden yang tidak menggunakan social media dalam pekerjaan mereka.

71% dari manajer senior yang disurvei mengatakan perusahaan yang menggunakan tools social media akan lebih mudah menarik dan mempertahankan talent terbaik. Di antara responden dengan jabatan senior, 76% mengatakan organisasi yang akrab dengan social media akan bertumbuh lebih cepat dibanding yang “mengabaikan” teknologi tersebut. Selain itu, 53% manajer senior mengatakan bisnis yang tidak akrab social media pada akhirnya akan gagal.

“Tentu saja social tools bukan obat mujarab untuk semua tantangan bisnis dan social media sendiri saja tidak bisa mentransformasi kinerja bisnis,” kata Marotte. “Tren sosial bukan hanya tentang teknologi. Tetapi tentang sebuah cara baru dalam bekerja, sebuah transformasi budaya. Pada akhirnya, organisasi yang sukses adalah mereka yang berhasil mengadopsi social tools untuk meruntuhkan hambatan-hambatan dibanding mereka yang masih stuck dalam silo-silo.”

 

Tags: ,