Survei: SDM Perempuan Kuasai 73% Industri Rumahan

SDMperempuan

Survei terbaru yang dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan bahwa 73% industri rumahan dilakukan oleh tenaga kerja perempuan dimana 36% di antaranya adalah lulusan SD dan 8% lainnya tidak sekolah.

Data lainnya, lebih dari 55% industri rumahan berada di pedesaan di mana produk pangan mendominasi dengan prosentase sebesar 76% disusul kerajinan tangan 8% serta konveksi 5%.

Industri rumahan dalam skala tingkat sederhana yang prosentasenya sebesar 58%, mempekerjakan 1-2 orang dengan tingkat keberlangsungan yang masih rendah yakni sekitar 3-6 bulan dan dengan pendapatan rata-rata tenaga kerja Rp30.000 hingga Rp50.000 per hari. Survei juga mencatat pendapatan rata-rata wirausaha perempuan sekitar Rp 2-3 juta/bulan.

Sumber daya manusia (SDM) khususnya para perempuan, sudah seharusnya mendapat dukungan semua pihak. Hal ini ditegaskan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar yang menjadi keynote speaker dalam Seminar Nasional Industri Rumahan dan Pemberdayaan Perempuan yang mengangkat tema “Pengembangan Industri Rumahan dalam Sitem Ekonomi Rumah Tangga untuk Pemantapan Ketahanan Nasional” di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (12/10/2011).

Linda Gumelar mengaskan bahwa perempuan utamanya para pegiat industri rumahan memiliki peran yang sangat signifikan bagi proses pembangunan. Ia pun meminta penyaluran kredit usaha rakyat atau KUR untuk perempuan diperbanyak mengingat banyaknya kaum wanita yang berkecimpung dalam industri rumahan. “Saya berharap pihak penyelenggara KUR bisa memperbesar porsi alokasi untuk perempuan khususnya pelaku industri rumahan. Dengan demikian diharapkan perkembangan industri rumahan akan terus meningkat mengingat sebagian besar pelakunya adalah kaum perempuan,” katanya.

Masih terbatasnya akses pembiayaan bagi kaum usahawan perempuan memang menjadi kendala. Hal ini juga diakui Ketua Center for Policy Reform (CPR) Indonesia, BS Kusmuljono yang mengatakan bahwa jumlah perempuan di Indonesia yang menikmati dana KUR saat ini baru sekitar 10%.

“Jumlah masih sangat kecil. Ini artinya baru sekitar delapan juta perempuan, masih sangat minim mengingat total dana untuk KUR (Kredit Usaha Rakyat) yang disiapkan sebanyak Rp 200 triliun,” katanya.

Kusmuljono pun mendorong agar kesempatan perempuan untuk lebih berkiprah dalam KUR lebih dibuka aksesnya. “KUR bagi perempuan adalah kesempatan agar perempuan bisa mandiri serta tidak lantas memutuskan menjadi TKW (tenaga kerja wanita, red),” katanya sambil menambahkan sebagai dampak positif dari keberhasilan pengembangan industri rumahan, adalah pengentasan kemiskinan untuk mencegah arus TKI (tenaga kerja Indonesia, red), women trafficking, urbanisasi, dan buruh migran.

Menjawab harapan dibukanya akses pembiayaan bagi usahawan perempuan, Head of BRI Microfinance International Cooperation Bank BRI, Agus Rachmadi menyambut baik program tersebut dan siap membantu. Agus menambahkan bahwa hal ini memang sejalan dengan strategi perusahaan yang ingin memberikan kontribusi dengan cara menyediakan produk dan jasa untuk seluruh lapisan masyarakat baik yang feasible unbankable dan bankable (financial inclusion) melalui produk dn jasa dari CSR (corporate social responsibility), subsidi, non komersial dan komersial.

“Kami siap membantu dan selalu berusaha semaksimal mungkin memberikan solusi. Silahkan datang ke kantor cabang terdekat,” tantang Agus.

 

Tags: ,