Survei: 6 dari 10 Karyawan Tidak Bisa Hidup Tanpa Internet

Next generation yang saat ini diwakili oleh para mahasiswa dan young professionals, makin terasa kehadirannya. Next generation, gadget, internet menjadi bagian integral dan tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Apa artinya buat praktisi HR?

Fenomena next generation dan kaitannya dengan tren social media inilah yang menarik perhatian Cisco. Di mana, Cisco akhir bulan lalu, merampungkan penelitian dan mengeluarkan reportnya. Hasilnya menggambarkan, bagaimana para next generation ini memaknai arti social media, kebebasan menggunakan perangkat, serta bekerja secara mobile.

Pertanyaan menarik bagi praktisi HR hingga saat ini adalah apakah diperbolehkan karyawan mengakses social media di tempat kerja? Jika Anda termasuk golongan yang masih bersikukuh, ada baiknya Anda menyimak data-data dari survey yang dilakukan oleh Cisco ini yang hasil cukup mengejutkan.

Sebanyak 1.441 mahasiswa berumur 18-24 tahun, dan 1.412 young professionals (karyawan berusia 21-29 tahun) telah dimintai pendapatnya dan mereka ini telah menyelesaikan survey online yang dihimpun sejak 13 Mei hingga 8 Juni 2011. Survei dilakukan di beberapa negara antara lain Amerika Serikat, Kanada, Mexico, Brazil, Inggris, Prancis, Spanyol, Jerman, Italia, Rusia, India, China, Jepang dan Australia. Hasilnya adalah sebagai berikut:

1)      Lebih dari separuh siswa (55%) dan proporsi yang lebih besar dari pengguna akhir (62%) menunjukkan mereka ini mengaku tidak bisa hidup tanpa internet, dan satu-sepertiga dari responden di setiap subkelompok menganggap internet menjadi kebutuhan pokok, sama pentingnya dengan ketika mereka mengkonsumsi air, makanan , udara, dan perlu akan tempat tinggal.

2)      Setengah dari total responden yang disurvei, mengaku lebih suka kehilangan dompet atau tas mereka ketimbang dengan ponsel pintar atau perangkat mobile lainnya.

3)      Beberapa responden rela menerima gaji yang rendah dengan kebebasan menggunakan perangkat yang mereka gunakan di tempat kerja, akses media sosial, dan mobilitas dibandingkan dengan pekerjaan yang bergaji tinggi tapi minim fleksibilitas.

Kekhawatiran bahwa karyawan berkurang produktivitasnya karena asyik ber-social media, memang wajar. Namun begitu, ada lho dari para tenaga kerja muda yang beranggapan tidak bisa hidup tanpa Facebook. Kalau sudah begini, apakah menutup akses social media menjadi solusi? Coba pertimbangkan angka-angka berikut ini:

1)      Hampir tiga perempat dari tenaga kerja muda Anda adalah lulusan sekolah berpendidikan tinggi, dan terindentifikasi mengakses halaman Facebook mereka setidaknya sekali sehari atau malah lebih sering lagi.

2)      Tujuh dari sepuluh anak muda berpendidikan tinggi, memiliki koneksi dengan rekan yang sudah bekerja, malah tak jarang setingkat manajer.

3)      Sekitar 43% mahasiswa mengaku merasa terganggu atau terputus oleh sosial media, instant messenger, telepon, atau keinginan untuk mengecek halaman Facebook, setidaknya tiga kali per jam.

Toh begitu kenyataan berbicara, seberapa pun ketatnya perusahaan membatasi akses jaringan untuk social media, karyawan – baik muda maupun tua – akan tetap bisa terkoneksi dengan Facebook, Twitter dan Internet melalui smartphone mereka. Atas dasar inilah, jelas bahwa setiap perusahaan harus memutuskan sendiri, apakah karyawan boleh menggunakan social media untuk kepentingan bisnis, dengan segala konsekuensinya.

Bagi perusahaan yang masih menganggap ini merupakan hal yang buruk, pertimbangkan untuk menanyakan tentang penggunaan social media selama wawancara kerja. Penelitian Cisco menunjukkan bahwa dua-pertiga dari lulusan perguruan tinggi bertanya tentang kebijakan social media dalam sesi wawancara kerja.

Ketika topik social media ini muncul, jangan meminta kandidat untuk memberitahukan user ID dan password mereka untuk login akses ke situs pribadi. Hal ini hanya akan menunjukkan kurangnya kepercayaan kepada mereka. Akan lebih bijak kalau perusahaan memberikan calon kandidat rambu-rambu sebagai upaya pencegahan untuk melindungi apa yang mereka posting di internet dari dampak yang tidak diinginkan.

Akan tetapi, seperti kandidat yang ingin tahu apakah dia diperkenankan mengakses Facebook di kantor atau tidak, perusahaan pun bisa mengajukan pertanyaan tentang kuantitas – bukan kualitas – dari social media apa saja yang digunakan oleh kandidat. Hal ini akan membantu perusahaan untuk menentukan apakah kandidat tersebut layak jika dipekerjakan, memberi gambaran di mana dia akan mencurahkan lebih banyak waktu di kantor untuk bekerja, atau justru sebaliknya, menebar komentar di Facebook tentang pekerjaan yang dilakukan.

Temuan lainnya yang menarik, 6 dari 10 karyawan mengaku tidak bisa hidup tanpa internet karena ini merupakan bagian integral dari kesehariannya. Angka ini signifikan di negara China, Brazil, AS dan Inggris. Inilah jawaban mereka:

1) I could live without the Internet, the Internet is not an integral part of my daily life (6%).

2) I could live without the Internet, but it would be a struggle based on my lifestyle (31%).

3) I could NOT live without the Internet, it is an integral part of my daily life (62%).

Malah kalau harus memilih antara internet dengan kepemilikan mobil, sebanyak 64% responden mahasiswa nyatanya lebih memilih bisa terkoneksi dengan internet, sedangkan yang memilih senang punya mobil hanya 36%. Khusus untuk young professionals, 4 dari 10 telah memiliki akun Twitter dan mereka cukup aktif untuk meng-update aktivitasnya melalui mikro-blogging 140 karakter tersebut. Di samping Twitter, aktivitas yang masih populer dilakukan oleh para young professionals, tentu saja Facebook.

Dan yang perlu digarisbawahi, tingkat kepemilikan maupun aksebilitas terhadap gadget yang terkoneksi dengan internet, baik para mahasiswa maupun young professionals sangatlah tinggi. Apakah dengan data seperti ini masih relevan untuk membatasi para next generation ini terhadap dunia online? Andalah yang memutuskan. (rudi@portalhr.com)

Tags: ,