Survei 2011: LinkedIn, Rajai Social Media untuk Rekrutmen

Linkedin Rajai Rekrutmen tools

BANYAK hal yang sudah berubah di dunia HR sejak kehadiran social media merebak 2-3 tahun belakangan ini. Jika geliat social media ini direspon secara cepat oleh perusahaan-perusahaan di luar negeri, khususnya di Amerika Serikat, di tanah air respon dan antisipasi terhadap social media masih terlihat adem ayem saja. Bahkan di beberapa institusi, social media masih ‘dimusuhi’ dengan berbagai cara.

Pemblokiran akses internet ke jejaring sosial (social networks) masih sering kedengaran. Padahal di jaman serba canggih, di mana akses internet ada di mana-mana, ditambah dengan gadget murah meriah yang bisa mengkoneksikan penggunanya dengan dunia luar, pemblokiran akses tersebut hanyalah solusi sementara saja.

Malahan, pembicaraan dengan topik rekrutmen yang menyasar kandidat pasif kini mulai terdengar tidak hanya sebatas bisik-bisik saja. Apa jadinya jika karyawan terbaik Anda, yang awalnya tidak sedang berniat mencari kerja, tiba-tiba mendapat notifikasi email tawaran kerja dari perusahaan pesaing yang masuk secara personal melalui email langsung ke gadgetnya?

Tidak akan lelah kami mengingatkan bahwa social media and HR kini menjadi era yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Dan inilah tantangan buat para praktisi HR dengan kehadiran social media.

Survei di bawah ini semoga menjadi bahan renungan bagi praktisi HR khususnya, bahwa social media kini membawa peran penting. Untuk melengkapi laporan survei ini, sebelumnya kami telah membuatkan informasi menarik melalui tampilan infografik. Jika Anda belum melihatnya, bisa klik link tersebut.

Adalah Jobvite, perusahaan pelopor yang memiliki spesialisasi melakukan rekrutmen melalui sosial web.  Selama bulan Mei dan Juni 2011, Jobvite melakukan Social Recruiting Survei 2011, melibatkan lebih dari 800 orang responden di AS. Survei ini dilakukan oleh individu yang sudah terdaftar atau mendapat undangan yang dikirim melalui email dan sudah pernah melakukan perekrutan secara professional, dan mereka ini menjawab pertanyaan menggunakan alat survei online.

Banyak temuan menarik dari survei ini, di mana empat tahun lalu, rekrutmen melalui  sosial networks masih merupakan “ide baru” bagi banyak perusahaan. Faktanya sekarang tentu sangat berbeda, sejalan dengan temuan perusahan comScore dengan laporannya bahwa waktu yang dihabiskan karyawan untuk 1 kali online adalah antara 6 -12 menit.

Kini banyak perusahaan, berdasarkan hasil survei 2011, yang mengaku berhasil mendapatkan talent terbaik melalui social networks. Dari hasil survei dinyatakan bahwa pada tahun ini persentase perusahaan yang melakukan perekrutan melalui social networks sebanyak 89% lebih tinggi bila dibandingkan tahun lalu (2010) yang hanya 83%.

Selama 2 tahun berjalan, persaingan atau kompetisi untuk merekrut SDM pun semakin tumbuh dan berkembang, mendorong perusahaan berpikir untuk meningkatkan investasinya. Tidak mengherankan apabila responden berencana untuk meningkatkan pengeluaran pada kantong-kantong kandidat. Sumber-sumber tersebut dilihat dari kualitas sebagai berikut :

1) Perusahaan akan meningkatkan anggaran mereka sebanyak 55% untuk rekrutmen melalui social networks, refferals, situs karir perusahaan dan rekrutmen langsung adalah kategori top lainnya untuk meningkatkan investasi.

2) Refferals, rekrutmen langsung dan social networks adalah sumber utama mendapatkan kandidat berkualitas dari jalur eksternal.

3) Hanya 16% responden yang akan menganggarkan melalui jalur on job boards, pihak ketiga maupun perusahaan headhunter.

Data lain menunjukkan bahwa departemen rekrutmen dan departemen pemasaran, semakin memanfaatkan lingkungan yang unik dari beberapa jaringan untuk memperkaya  dan melibatkan target mereka.

1) LinkedIn telah menjadi pemimpin dalam penggunaan social networks, khususnya dalam hal perekrutan. Sebanyak 87% menggunakan jaringan profesional LinkedIn ini, naik dari 78% dibanding tahun lalu.

2) Perekrutan menggunakan jaringan besar lainnya terlihat cukup stabil, hal ini terbukti 55% penggunaan di Facebook dan 47% di Twitter.

3) Tapi sekarang, sebagian besar (64%) telah memperluas social recruiting programs dengan menggunakan dua atau lebih sosial media channels, dan 40% lainnya menggunakan ketiga jaringan sosial di atas, seperti  LinkedIn, Facebook dan Twitter.

Survei juga membuktikan bahwa sebanyak  67% responden mengatakan kalau mereka berencana untuk meningkatkan social recruiting programs selama 12 bulan ke depan, naik dari 56% ketimbang 2010. Dan mereka menunjukkan bahwa social recruiting programs akan menjadi elemen penting dari strategi memenangkan persaingan.

1) 77% dari responden survei memperkirakan kompetisi dalam mendapatkan talents akan meningkat.

2) Hampir 2/3 dari perusahaan bermaksud untuk merekrut dari pesaing di tahun mendatang.

3) 1/3 responden memprediksi umur karyawan baru untuk tetap tinggal di perusahaan, rata-rata antara 2 tahun atau kurang.

4) Sebanyak 95% perusahaan saat ini berencana untuk mulai menggunakan perekrutan melalui fasilitas social networks. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi meningkatnya perekrutan oleh perusahaan lain.

Kabar baiknya, dengan banyaknya koneksi, data maupun kemudahan lainnya yang ditawarkan oleh social networks, akan membantu perusahaan dalam beradaptasi dengan tingginya churn-rate maupun kompetisi mendapatkan talents, ke dalam lingkungan di mana perusahaan harus selalu siap dalam melakukan rekrutmen.

Semoga hasil laporan ini menjadi catatan penting dalam menutup tahun 2011. Tahun 2012, sudah di depan mata. Krisis global yang terjadi di AS dan Eropa, sangat mungkin masih akan berimbas ke tanah air. Namun, selalu ada tantangan dan semangat untuk bisa berbuat lebih baik lagi dibanding dengan prestasi yang diraih tahun ini. Selamat menyongsong tahun baru 2012. (rudi@portalhr.com/@erkoes, avi)

Baca juga: Infografik: 2011, Social Recruitment Meningkat Drastis

Tags: ,