Sukses Perusahaan Dimulai dari Pertanyaan dalam Wawancara Seleksi Karyawan

Sebanyak 48 peserta workshop itu celingukan heran ketika fasilitator meminta mereka untuk membuat lirik lagu dari “tugas” sebelumnya yang baru saja mereka selesaikan. Mereka baru saja selesai melakukan simulasi wawancara calon karyawan. Lho, apa hubungannya sebuah lagu dengan proses rekrutmen?

Tapi, Budi Setiawan Muhamad, fasilitator dari Asosiasi Psikologi dan Organisasi (APIO) yang menyelenggarakan workshop Strength-Based Selection Interview: Appreciative Inquiry Perspective di Hotel Atlet Century Park, Jakarta, Jumat (9/3/07) hanya senyum-senyum saja.

Ia membiarkan peserta workshop “kebingungan”, sampai akhirnya menyelesaikan apa yang tadi dia minta. Dari awal, Budi memang menggunakan pendekatan terbalik dalam memberikan lokakarya kepada para manajer dan staf HR dari berbagai perusahaan itu. Ia tidak berangkat dengan menjelaskan definisi-definisi. Melainkan, peserta sendirilah yang aktif merumuskan masalahnya dari awal, dengan melakukan simulasi-simulasi.

Budi, misalnya, meminta peserta melakukan simulasi wawancara. Peserta dibagi dalam 6 kelompok, masing-masing terdiri 8 orang. Dalam simulasi wawancara, peserta berpasang-pasangan, satu orang berperan sebagai perekrut dan pasangannya sebagai pelamar kerja. Yang tadi diminta Budi untuk dibuat menjadi lirik lagu adalah hasil wawancara tersebut.

Dengan pendekatan seperti itu, menurut Budi, tanpa sadar peserta telah mempraktekkan langsung wawancara dengan perspektif Appreciative Inquiry (AI). Dari situ, Budi baru kemudian masuk ke definisi. “Jadi, AI itu seni dan praktek bertanya yang menggali kekuatan manusia untuk menciptakan masa depan yang sukses,” ujar dia.

Lebih jauh Budi membuat ilustrasi dengan mengibaratkan organisasi sebagai teks. Sebuah teks, entah itu gambar atau kalimat, akan dimaknai, dibentuk dan didefinisikan berdasarkan interaksi bersama. Ketika mengajukan pertanyaan dalam seleksi karyawan baru, menurut Budi, seorang perekrut telah melakukan intervensi. “Inilah salah satu prinsip AI, yakni ketika kita bertanya, kita mulai menciptakan perubahan.”

AI juga menganut prinsip yang mengibaratkan manusia sebagai sebuah buku yang terbuka, di samping prinsip antisipasi yang meyakini bahwa manusia punya kecenderungan untuk selalu berpikir tentang masa depan. Dan, pada akhirnya, Budi menjelaskan, AI juga menerapkan prinsip positif, yang berasumsi bahwa momentum terbaik itu dimunculkan melalui pertanyaan-pertanyaan positif yang memperjelas inti positif.

“Inti positif itu, mungkin kalangan lain menyebutnya dengan istilah talent,” terang Budi.
Dalam kesempatan yang sama, anggota Dewan Pakar APIO Pusat Ino Yuwono, yang juga menjadi fasilitator workshop tersebut menegaskan, wawancara dengan perspektif AI pada dasarnya berangkat dari pendekatan “yang lain” dalam memandang manusia dalam organisasi. “Manusia tidak dilihat dengan pendekatan analitik, melainkan relasional-holistik,” ujar dia.

Menurut Ino, pendekatan analitik cenderung mencari orang yang pintar dan berkompeten, sedangkan pendekatan relasional-holistik lebih untuk menemukan orang yang tepat atau cocok. “Wawancara AI percaya bahwa pertanyaan bisa mengkonstruksi masa depan yang bagus dan mencapai mimpi yang diinginkan bersama antara karyawan dan perusahaan,” papar Ino.

Tags: , ,