Suara Hati Millenial, Siapa Bilang Kami Tidak Loyal?

Seminar OneHR dan PMSM

Generasi milenial atau yang kerap disebut Gen-Y disebut-sebut sebagai generasi yang paling tidak loyal. Mereka adalah generasi yang menganggap satu tahun sebagai durasi yang cukup lama dan bisa dikatakan “loyal” ketika bekerja. Tentu pandangan ini berkebalikan dengan genarasi sebelumnya yang menganut paham lifelong employment. Lantas, benarkah Gen Y memang generasi yang tidak loyal? Benarkah generasi milenial generasi kutu loncat?

PMSM OneHR Milenial

“Generasi milenial memang memiliki kecenderungan untuk cepat berpindah. Akan tetapi mereka bukan tipe hit and run. Mereka cukup tegas untuk mengatakan bahwa mereka akan bekerja dalam jangka waktu tertentu yang dianggap singkat oleh Manager HRD, tetapi dengan jangka waktu tersebut mereka akan memberikan kontribusi yang optimal,” ungkap Pambudi Sunarsihanto, HR Director Citibank Indonesia dalam acara HR Meet and Talk yang diselenggarakan oleh PMSM Indonesia bekerja sama dengan One HR Indonesia, di Jakarta, Selasa (02/08). Pambudi pun mengajak membuka mata bahwa dunia tengah berubah, bahwa definisi loyal bagi generasi milenial bukanlah tinggal di suatu perusahaan dalam jangka waktu lama tetapi seberapa signifikan sumbangan karya yang diberikan kepada perusahaan.

Seminar OneHR dan PMSM

Lalu apakah tim rekrutmen memahami hal ini? Sebagian besar tidak. Mereka akan lebih memilih orang-orang yang bisa loyal, stay lebih lama dan tidak cepat resain. Alasannya klise, biaya rekrutmen yang tidak murah. Padahal jika tim rekrutmen mau sedikit lebih repot mengurusi talent-talent muda yang cekatan tapi tidak loyal tersebut, justru perusahaan akan mendapatkan benefit yang lebih.

“Generasi muda itu memang cepat bosan, kita berpikir short term. Ketika memutuskan untuk menerima tawaran kerja, kita harus memastikan berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk mencapai posisi tertentu. Misalnya tiga tahun kita sudah ingin berada di posisi manager atau bahkan CEO,” demikian diungkapkan oleh Ario Adimas, Division Head Integrated Marketng Communication Indosat Ooredoo yang juga adalah seorang Gen-Y di acara yang sama.

Dengan ‘ketidaksabarannya’ tersebut, Dimas ‘buka kartu’ bahwa pada dasarnya generasi milenial adalah generasi yang juga ingin menciptakan legacy atau pencapaian untuk perusahaan dan dirinya sendiri. Sebelum pergi, mereka ingin menciptakan sesuatu yang positif sehingga ketika mereka keluar, hal-hal baiklah yang diingat dari mereka.

Kiatnya, seperti diungkapkan Pambudi, untuk mempertahankan generasi milenial, sepantasnya manajemen tahu apa yang mereka inginkan. “Mereka adalah generasi yang selalu mencari tantangan dan belajar hal-hal baru,” jelas Pambudi sambil menambahkan, anak-anak muda ini memerlukan keterbukaan yang mengarah pada radical honesty, bos tidak selalu benar dan yang salah dikatakan salah yang benar dikatakan benar. “Mereka juga mengharapkan lingkungan kerja yang bisa membuat mereka bebas berekspresi dan menjadi diri sendiri,” imbuh Dimas.

Dan tak kalah penting dalam memahami isi hati milenial, mereka ini generasi yang dari masa pertumbuhannya sudah kenal dengan gadget sehingga mereka sangat melek teknologi, termasuk di dalamnya media sosial. Pertanyaannya, bagaimana cara tim rekrutmen menemukan mereka?

Menurut Head of Southeast Asia, Talent Solution LinkedIn, Frank Koo, yang tampil sebagai pembicara ketiga, media sosial adalah salah satu tools sangat membantu untuk menemukan talent-talent tersebut. “Media sosial memungkinkan para perekrut untuk mengenal kandidat jauh sebelum si kandidat menginjakkan kakinya ke kantor untuk wawancara. Misalnya saja melalui akun media sosial professional seperti LinkedIn atau bahkan akun-akun personal lainnya, memungkinkan prekrut bisa mengenal profile kandidat,” tukas Frank. (*)