Stres Bisa Jadi Pembunuh Karir

Dibandingkan dengan kecerdasan kognitif (IQ), apa yang dewasa ini populer dengan istilah kecerdasan emosional (EI) lebih berperan dalam mendorong sukses karir seseorang. Namun, hati-hati, kecerdasan jenis ini cukup rentan.

Sebuah penelitian menyimpulkan, stres bisa menggerogoti kecerdasan emosional, dan akibatnya merusak efektivitas kegiatan di tempat kerja.

Multi-Health Systems, sebuah perusahaan jasa assessment psikologis yang berpusat di New York melakukan studi untuk menguji pengaruh stres terhadap kecerdasan emosional karyawan.

Ditemukan, ketika karyawan dilanda stres, kecerdasan emosional mereka artinya, kemampuan mereka untuk memonitor dan menginterpretasikan emosi-emosi baik dalam dan di luar diri mereka terganggu.

Menurut CEO Multi-Health Systems Dr. Stein, kecerdasan emosional yang kuat bisa membantu mengembangkan hubungan yang positif dengan kolega dan meningkatkan kinerja sebuah kombinasi yang merupakan formula ideal untuk sukses di tempat kerja.

“Para manajer yang memiliki tingkat kecerdasan emosional tinggi memiliki tingkat stres yang rendah dan memperlihatkan kinerja manajemen yang lebih baik,” Stein menguraikan salah satu temuan studi yang dilakukannya.

Dan, sambung dia, jika stres menghalangi kita dari kesadaran dan kontrol atas emosi, berhubungan dengan orang lain, adaptasi terhadap perubahan dan menjaga mood positif, maka EI kita akan menderita.

Lebih jauh, lebih separo dari 1.014 karyawan yang disurvei (53%) mengatakan, stres merusak hubungan mereka dengan teman sekerja. Dan, 47% mengatakan bahwa stres juga sering mempengaruhi kemampuan mereka dalam mengambil keputusan di tempat kerja dan menghambat produktivitas mereka.

Sementara, 4 dari 10 karyawan di Amerika (42%) mengatakan, mereka secara “rutin” mengalami stres di tempat kerja, baik karena hasil pekerjaan maupun pengalaman-pengalaman personal lainnya, dengan lebih dari separonya mengeluh bahwa hal itu menyita energi fisik, jiwa maupun perilaku.

Lebih dari separo (54%) melaporkan gangguan fisik tersebut terentang dari sakit kepala hingga insomnia kronik. Dari kecenderungan menunda-nunda pekerjaan hingga perasaan terasing. Sedangkan efek psikologisnya meliputi cepat marah, defensif hingga <I>mood</i> yang berubah-ubah.

Ironisnya, separo karyawan tidak menyadari adanya gangguan pada EI yang disebabkan oleh stres. Namun, Stein menegaskan, bahwa EI selalu bisa diperbarui.

“Kabar baiknya, Anda bisa belajar atau meningkatkan keterampilan-keterampilan emosional Anda setiap saat sepanjang hidup Anda, bahkan pada saat stres menyerang.”

Tags: