Strategic Hiring Penting pada Masa Krisis

Dalam masa krisis, tingkat turnover karyawan di berbagai perusahaan ternyata tetap cukup tinggi. Hal itu membuat perusahaan mau tak mau harus tetap melakukan aktivitas rekrutmen di tengah program-program pengetatan ikat pinggang. Oleh karenanya pilihannya tiada lain kecuali strategic hiring.
"HR harus tahu dulu bisnis perusahaan mau dibawa ke mana, apa fokusnya sehingga bisa ditentukan harus meng-hire berapa orang, untuk posisi apa," ujar Managing Product Solution pada Mercer Indonesia Evy Kriswandi dalam acara HR Sharing yang diselenggarakan di LG Electronics Indonesia, Cibitung, akhir pekan lalu.
Mengutip hasil survei Global Attraction & Retention 2006, Evy mengungkapkan, alasan terbanyak karyawan pindah kantor adalah untuk mencari gaji yang lebih kompetitif. Angkanya mencapai 50 %.
"Itulah yang terjadi untuk semua industri. Tapi, khusus untuk karyawan consumer good, mereka pindah lebih banyak karena terdorong untuk mencari jabatan yang lebih tinggi," ujar Evy seraya menambahkan, rata-rata mereka pindah ke perusahaan dengan industri yang sama.
Dari segi usia, karyawan dengan rentang umur antara 25 hingga 29 adalah yang paling banyak pindah kerja, sedangkan berdasarkan masa jabatan, 50% karyawan yang pindah telah bekerja selama 2 hingga 3 tahun.
"Turnover tertinggi terjadi di bagian sales, menyusul kemudian accounting dan finance. Orang HR termasuk yang turnovernya rendah, hanya sekitar lima persen," papar Evy.
Lebih jauh Evy berpesan, bagi perusahaan yang ditinggalkan oleh karyawannya dan hendak merekrut orang baru sebagai pengganti, perlu mempertimbangkan data market. "Ini penting bagi kita orang HR agar percaya diri dan yakin ketika mewanarkan paket gaji," kata dia.
Selain data market, manajer hiring juga perlu mempersenjatai diri dengan salary survey terbaru.
Menurut survei Mercer Indonesia 2009, 2,3% perusahaan melaporkan zero increase pay, dan terbanyak terjadi pada perusahaan yang bergerak dalam industri IT.
"Kendati tidak ada kenaikan gaji selama 2009, namun perusahaan tetap memperhatikan variabel pay, dan tetap ada apresiasi untuk performance yang bagus," kata Evy.
"Intinya, selama masa krisis HR tetap merupakan hot job, memegang peranan yang strategis dan masih tetap merekrut talent," simpul dia.

Tags: