Social Media Mengubah Manusia dan Negara

social media nation

Kegiatan ber-social media tampaknya tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari kita. Bagi sebagian orang, aktivitas yang dilakukan di social media sudah menjadi ritual kehidupan dan adiksi. Menggugah foto terbaru, membagikan kegiatan terkini, sudah menjadi keharusan dalam menemukan kenikmatan narsisitik pelakunya.

Itulah sepenggal “jejaring pembuka” yang disampaikan Ade Febransyah, pengajar tetap di Prasetiya Mulya Business School pada buku yang baru diluncurkan berjudul “Social Media Nation.”

Kata pembuka tersebut kurang lebih benar, Anda pun mungkin setuju bila aktivitas ber-social media telah mengubah gaya hidup beberapa tahun belakangan ini. “Hingga detik ini, jaringan sosial terbukti digdaya mendobrak pola pikir, memperluas lingkar komunitas-komunitas manusianya, dan mencuatkan inovasi yang mendunia. Fenomena itulah yang diangkat di buku Social Media Nation,” tulis 2 editor Buku Social Media Nation, Eko Y. Napitupulu dan Ridho Irawan.

Peluncuran Buku yang diselenggarakan di The Cone, FX Lifestyle Senayan itu juga dilengkapi dengan Talkshow yang membahas peran social media di Indonesia serta apa manfaat bagi pebisnis dengan adanya social media. Hadir sebagai pembicara CEO Kaskus, Ken Dean Lawadinata, Praktisi dari Hachiko, Marlin Silviana, Pengajar PMBS, Daniel Haryanto dan peneliti dari Depth Consulting, Yudho Hartono. Mereka merupakan 4 dari 15 penulis di buku Social Media Nation yang diterbitkan oleh Prasetya Mulya Publishing.

“Kaskus itu tempat berkumpulnya orang-orang dengan interest yang sama, membicarakan hal-hal yang tidak bisa di-share dengan teman-teman dekatnya,” ujar Ken Dean Lawadinata, CEO Kaskus. Menurut Ken kejayaan Kaskus berkat loyalitas Kaskuser atau user, kekuatan bisnis kini terletak di konsumennya. “Garis penghubung di Kaskus itu bukan hanya people, tapi interest,” ujar Ken.

Marlin Silviana juga memberikan komentar serupa. “Sekarang sudah bukan jamannya berjualan, sekarang saatnya konsumen yang ingin didengarkan. Dulu customer loyalty sesuatu brand berfokus pada repeat purchase dan retention, saat ini fokusnya pada advocacy, merekomendasikan brand lewat social media,” ujar Marlin.

Hal ini membuat keberadaan brand kini makin hidup. “Brand muncul sebagai sebuah karakter di social media, brand harus lebih “manusiawi” agar customer merasa dekat dan tetap loyal. Brand punya personality untuk engage audience,” tambah Marlin.

Kemudahan memiliki perangkat teknologi untuk berkomunikasi menjadi indikator mewabahnya aktivitas social media, maka gaya hidup manusia lambat laun akan dirasakan perubahannya. “Puncak perubahan perilaku masyarakat karena mobile device dan social media akan terjadi pada 2014 atau 2015,” ujar Yudho Hartono.

Yudho menambahkan, seharusnya kecanggihan tekonologi tersebut ditunjang dengan mindset yang produktif dari masyarakatnya. “Sayangnya penetrasi smartphone di Indonesia masih lebih dominan ke kebutuhan personal, di luar negeri fitur unggulan blackberry adalah push email, di Indonesia lebih dikenal karena BBM,” ujar Yudho.

Kendati begitu, apakah social media akan mengubah manusia ke arah yang baik atau tidak tergantung dari pribadi masing-masing. “Ibarat sebilah pedang, setiap fungsi memiliki kelebihan dan kekurangan yang sering kali ditafsirkan berbeda oleh setiap orang. Saya tidak bisa memposisikannya sebagai kekurangan atau kelebihan, tetapi Anda sendiri yang menentukan baik atau buruknya jejaring sosial,” tutur Daniel Haryanto menyimpulkan. (*/@nurulmelisa)

Tags: ,