Social Media, Kawan atau Lawan Bagi HR?

Siapa yang tak kenal dengan social media. Tentu jarang ditemui di era sekarang ini yang tidak memiliki akun di social media. Pertanyaan selanjutnya, lantas apakah ada gunanya bagi orang HR?

Dalam sesi diskusi di sela-sela acara softlaunch new brand PortalHR.com dan Majalah HC, Nukman Luthfie, salah satu partner sekaligus founder portalHR.com memberikan wawasan tentang bagaimana social media harus bisa dimanfaatkan semakimal mungkin oleh para praktisi HR.

“Seringkali saya menjumpai orang-orang HR ini kurang aware dengan masalah-masalah social media, padahal kehadirannya sudah tidak bisa dibendung lagi. Meski perusahaan membatasi dengan memblokir akses masuknya, toh social media tetap tidak bisa dihindari” ujarNukman.

Pakar strategi online ini lantas memaparkan betapa data-data tentang jejaring sosial, ternyata begitu mengejutkankan. Facebook, salah satu social media yang laris manis di Indonesia, di seluruh dunia ternyata sudah memiliki anggota 750 juta akun.

“Hebatnya sebanyak 36 jutanya adalah dari Indonesia. Dan jumlah ini terbesar nomer dua setelah Amerika Serikat. Sedangkan untuk urusan Twitter, tidak jauh beda, Indonesia termasuk negara 5 besar baik dari sisi pengguna maupun tingkat kecerewetannya,” tambah Nukman.

Nukman mengingatkan bahwa social media memiliki dua sisi baik dan buruk. Sisi baiknya, social media bisa membangun citra yang bagus bagi perusahaan. Namun dalam di sisi yang lain berlaku sebaliknya. Social media bisa mengancam perusahaan hanya akibat ulang iseng dari karyawannya yang tidak bijaksana dalam ber-social media.

“Jika ini terjadi, harganya sangat mahal untuk ditebus. Salah satu restoran burger di Amerika Serikat harus mengeluarkan lebih dari US$ 5 juta untuk memulihkan citra akibat kecerobohan karyawannya yang mengupload video tidak senonoh di youtube. Mendadak restoran tersebut dijauhi oleh pelanggannya” tambah Nukman.

Nukman juga menambahkan data seberapa lama orang Indonesia membuat waktunya untuk kegiatan bersocial media. Facebook orang betah selama 30 menit, Twitter (16 menit), Blogspot (10 menit), WordPress (8 menit), dan Kaskus (28 menit).

“Kemudian kalau orang terutama karyawan menghabiskan waktu kerjanya, isu selanjutnya tentu saja menyangkut masalah produktivitas,” ingatnya.

Nukman menyarankan kepada para praktisi HR, sedini mungkin orang-orang HR harus mulai melek teknologi dan memahami bagaimana penggunaan social media untuk diarahkan sebagai tools dalam meningkatkan produktifitas karyawan.

“HRD harus bisa menjadi konduktor yang baik kepada karyawan dalam hal ber-social media, memberikan cara penggunaan yang efektif, dan tidak kalah penting adalah orang HR harus mulai membuka wacana bagaimana social media dimasukkan dalam kebijakan dan panduan dalam aturan-aturan di perusahaan,” tukasnya.

Mengakhiri sesinya, Nukman balik bertanya, ”jika begini, apakah social media itu kawan atau lawan terutama di organisasi atau perusahaan, orang HR-lah yang memutuskan.” (rk)

Tags: