Skill Karyawan Tetap yang Utama, Bukan Gadget

Semua mengakui bahwa teknologi nirkabel dan mobile telah mengubah secara mendasar dan besar-besaran berbagai aktivitas di tempat kerja. Namun, tatap muka langsung antara orang-orang yang berketerampilan masih merupakan praktik untuk mencapai hasil-hasil terbaik.

Dewasa ini, karyawan dan kaum profesional di kantor-kantor telah dengan sepenuh hati mempersenjatai diri dengan alat-alat komunikasi bergerak dan tanpa kabel. Namun, pada akhirnya disadari bahwa yang menggerakkan bisnis tetaplah “face to face” alias orang-orang yang berkomunikasi tersebut.

Riset yang dilakukan lembaga konsultansi tempat kerja Randstad menemukan, tiga per empat karyawan di Amerika melihat perangkat komunikasi instan sebagai anugerah.

Bukannya khawatir bahwa teknologi tersebut akan mengikat mereka dengan kantor di mana pun mereka berada, para karyawan justru melihatnya sebagai sesuatu yang membantu mereka untuk lebih bisa mengontrol kehidupan.

Sepertiga dari 3000 lebih karyawan yang disurvei mengaku ‘happy’ dengan keuntungan yang diberikan oleh teknologi, yang memudahkan akses mereka atas informasi. Termasuk, atas kemampuannya membantu mereka selalu berada di puncak pekerjaan.

Sementara, 4 dari 10 merasa bahwa teknologi membantu mereka mengontrol beban kerja.

Di samping itu, meskipun tak diragukan bahwa teknologi menyokong produktivitas, riset menyimpulkan, pekerjaan dasar dan ketemapilan-ketempilan orang masih memegang kendali atas jalannya bisnis.

“(Dengan teknologi) orang kini bekerja lebih banyak, bahkan meskipun tidak ada kenaikan gaji,” ujar Direktur Pengelola Operasi dan HR pada Randstad, Genia Spencer.

“Survei ini memperlihatkan hubungan yang kuat antara jam kerja dengan peningkatan produktivitas. Separo karyawan dan 65 persen pengusaha bekerja rata-rata 41 hingga 60 jam per minggu, serta separo pengusaha dan 40 persen karyawan mengatakan, produktivitas meningkat dalam setahun terakhir,” tambah dia.

Namun, secara kontradiktif, meskipun “rela” bekerja lebih banyak, kepercayaan karyawan terhadap top management dalam mengambil keputusan menurun.

Uniknya lagi, kendati 8 dari 10 pengusaha dan 6 dari 10 karyawan lebih melihat pekerjaan mereka sekarang sebagai karir dan bukannya “sekedar pekerjaan”, namun tidak ada bukti bahwa mereka loyal terhadap pekerjaan mereka.

Tags: