Sistem Gaji Eksekutif Pemicu Krisis Global

Krisis keuangan global yang terjadi saat ini dinilai berawal dari kecerobohan para eksekutif dalam menjalankan bisnis. Sistem penggajian yang memberikan bonus sangat tinggi telah melahirkan gaya hidup dan perilaku buruk di kalangan para eksekutif perusahaan yang pada gilirannya menjadi salah satu pemicu kebangkrutan korporasi keuangan global.
Seperti dirangkum Kompas di Jakarta, Kamis (16/10/08), sejumlah negara dilaporkan mulai mencanangkan pembenahan gaji, bonus dan perilaku para eksekutif. Salah satunya ditegaskan oleh Menteri Keuangan Amerika Serikat Henry Paulson di Washington, Selasa (14/10).

Isu serupa juga bergema di Kantor Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Sekjen PBB Ban Ki-moon menegaskan agar perilaku eksekutif diatur. Perilaku eksekutif perusahaan kini benar-benar disorot dan menimbulkan amarah para pemimpin negara. Di Canberra, Australia Perdana Menteri Kevin Rudd menuding apa yang dia sebut sebagai sistem kapitalisme ekstrem di balik krisis keuangan global, yang menggoyang dunia dan melahirkan kepanikan luar biasa di pasar uang.

Menurut Rudd, kegagalan sektor keuangan terjadi karena standar yang aman dalam pengucuran pinjaman tidak diindahkan dan manajemen risiko tidak diperhatikan. ”Sistem pengelolaan perusahaan menopang keserakahan, tetapi mengabaikan integritas sistem keuangan.”Sementara itu, dari Jerman ada laporan mengenai munculnya wacana untuk menghukum para eksekutif dengan memangkas gaji mereka. “Para bos di industri keuangan seharusnya dihukum dengan pengurangan gaji jika mereka menyebabkan kehancuran perusahaan karena menjalankan bisnis yang diwarnai dengan risiko berlebihan,” demikian rekomendasi Center for Financial Studies (CFS), Frankfurt.

Didukung oleh 120 lembaga global, dari bank, perusahaan asuransi, sektor industri hingga badan pemerintahan, pusat studi yang dikomandani oleh mantan ekonom senior di Bank Sentral Eropa tersebut menyimpulkan, sistem pemberian bonus yang berlaku selama ini telah merangsang para eksekutif untuk menjalankan bisnis berisiko tinggi. Namun, di sisi lain, jika keputusan mereka soal bisnis menyebabkan munculnya risiko, demikian CFS, mereka tidak mendapatkan hukuman.

Dengan sistem sekarang yang tanpa hukuman, para eksekutif akan mendapatkan bonus jika berhasil menjual produk investasi kepada nasabah, investor perseorangan, dan kelembagaan, seperti dana pensiun. Lepas dari buruknya kualitas produk investasi yang mereka tawarkan, para eksekutif akan mendapatkan bonus yang makin besar jika penjualan produk investasi itu meningkat. CFS mengusulkan diberlakukannya insentif dan dis-insentif dimana bonus sebaiknya hanya diberikan jika kinerja keuangan perusahaan relatif baik. Dikatakan, hal itu perlu untuk menjaga perilaku para eksekutif.

Tags: